Siswa SD Insan Amanah, Melibas Pertanyaan, Membumikan Al-Qur’an

IDEA JATIM, MALANG – Dua kalimat. Hanya dua kalimat yang bisa menggambarkan suasana di Ballroom Hotel Savana itu: Menegangkan sekaligus mengharukan.

​Minggu lalu, 351 siswa SD Insan Amanah berdiri di sana. Di atas panggung besar. Di depan ratusan pasang mata. Mereka bukan sedang ikut lomba cerdas cermat biasa. Mereka sedang diuji nyalinya: Imtihan. Uji publik.

​Bayangkan. Anda duduk di kursi undangan. Lalu Anda boleh mengangkat tangan. Menunjuk satu anak secara acak. Lalu meminta anak itu menyambung ayat. Atau menanyakan hukum tajwidnya. Atau bahkan artinya.

​Kalau anak itu tidak siap, habislah.

Malu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Satu per satu pertanyaan dari orang tua dan tamu undangan dilibas habis. Tidak ada yang meleset.

Nilainya? Sempurna.

​Kepala Sekolahnya, Dr. Suhardini Nurhayati, tampak sumringah. Tapi matanya berkaca-kaca. Bu Dini—begitu beliau akrab disapa—tahu betul ini bukan soal pamer hafalan. Bukan sekadar seremoni tahun ke-13 yang lewat begitu saja.

​”Fokus utamanya aksi nyata,” katanya.

Pendek. Padat. Khas pemikiran yang tak mau berhenti di kulit.

​Beliau ingin 351 anak itu tidak hanya hafal di lisan. Tapi juga matang dalam hablum minallah dan hablum minannas. Hubungan dengan Tuhan oke, hubungan dengan sesama manusia juga harus jempolan.

​SD Insan Amanah memang punya cara sendiri. Ada empat pilar yang mereka pegang teguh untuk pendidikan Alquran siswa: Tartil, Tahfidz, Terjemah, dan KBQ (Kaidah Bahasa Al-Qur’an). Paket lengkap. Tidak hanya bisa baca, tapi paham struktur bahasanya.

​Hebatnya lagi, akan ada program “Tutor Sebaya”. Anak kelas 2 sampai 5 yang sudah lulus munaqosah tidak boleh langsung santai. Mereka ditugaskan mengajar temannya yang lain. Itulah cara terbaik menjaga ilmu: Diamalkan.

​Suwarjana, SE., MM., Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, yang hadir di sana sampai geleng-geleng kepala. Kagum. Beliau melihat sendiri bagaimana karakter religius itu berbanding lurus dengan prestasi.
Karakter itu bukan teori. Karakter itu praktik.

​Puncaknya adalah saat prosesi khotaman berakhir. Orang tua siswa, Arif Budiman, sampai tidak bisa menahan haru saat memberikan sambutan. Kalimatnya pendek tapi menusuk kalbu: “Terima kasih telah menjadikan anak-anak kami ahli Qur’an yang insya Allah akan mendampingi kami kelak di akhirat.”

​Itulah investasi yang sebenarnya. Bukan hanya soal nilai di rapor, tapi soal siapa yang akan mendoakan kita saat kita sudah tidak ada lagi.

​Maka, Imtihan ini bukan akhir. Ini baru start. Menjaga hafalan itu sulit. Menjaga akhlak lebih sulit lagi. Tapi melihat ketenangan 351 siswa itu di atas panggung, saya optimis: Masa depan kita masih punya harapan.

​Selalu ada jalan bagi mereka yang mau membumikan langit. Lewat anak-anak kecil ini, Al-Qur’an tidak hanya dibaca. Tapi dihidupkan.

​Luar biasa.

Berita Terkini

Memperingati Hari Hemat Air Sedunia, UB Gelar Kuliah Tamu Internasional

IDEA JATIM, ​MALANG – Dalam rangka memperingati Hari Hemat...

Memperingati Hari Hemat Air Sedunia, UB Gelar Kuliah Tamu Internasional

IDEA JATIM, ​MALANG – Dalam rangka memperingati Hari Hemat...

PLN UP3 Pasuruan Kenalkan Ekosistem Kendaraan Listrik ke Kejari Kabupaten Pasuruan

IDEAJATIM.ID, PASURUAN - PLN UP3 Pasuruan terus mendorong percepatan...
spot_img
Berita Terkait