Kawah Candradimuka di SMAI

IDEA JATIM, MALANG – ​Sabtu kemarin, halaman SMA Islam Malang mendadak magis. Khidmat. Ada 227 anak muda yang dikukuhkan di sana. Mereka bukan sekadar lulus sekolah. Mereka baru saja keluar dari kawah candradimuka.

​Gaya bicaranya meledak-ledak. Tapi penuh haru. Itulah Suharmanto, S.Ag., sang Kepala Sekolah. Pidatonya Sabtu itu tidak datar. Tidak membosankan seperti teks pidato pejabat kebanyakan.

Pidatonya menggetarkan halaman sekolah di Jalan Kartini Kota Malang itu.
​”Ada tantangan, ada rintangan, namun kalian membuktikan bahwa dengan semangat dan kesungguhan, semua itu dapat kalian lalui dengan baik,” ujar Suharmanto. Suaranya bariton. Mantap. Penuh rasa bangga.

​Tiga tahun di SMA Islam Malang ternyata bukan soal angka-angka di atas kertas raport. Bukan sekadar mengejar nilai akademis. Target Suharmanto lebih tinggi dari itu: mencetak manusia bermental baja. Yang fondasi spiritualnya sekokoh batu karang.

​Dunia di luar sana sedang tidak baik-baik saja. Keras. Dinamis. Berubah secepat kilat. Maka, Suharmanto menitipkan pesan yang menohok. Jleb. Langsung ke hulu hati para Gen-Z ini.

​”Jangan buang-buang waktu produktif di zona nyaman yang sia-sia. Jangan cuma cangkrukan! Jangan nongkrong-nongkrong tidak jelas sampai lupa esensi masa depan!” tegasnya.

​Saya suka kalimat ini. Khas Arema. Langsung pada intinya: cangkrukan.
​Suharmanto tahu betul, musuh terbesar generasi muda hari ini adalah kemalasan yang dibungkus dengan istilah keren: healing atau nongkrong. Beliau ingin alumninya tangguh. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal, coba lagi. Modalnya tiga: pegang teguh keimanan, perkuat ilmu, dan hiasi dengan akhlak mulia.

​Tapi, tangguh saja tidak cukup. Tangguh kalau tidak punya hati bisa jadi robot. Atau bisa jadi manusia angkuh.
​Di sinilah hebatnya prosesi itu. Suasana yang tadinya membara, tiba-tiba berubah senyap. Haru. Udara Malang yang sejuk terasa makin mengiris kalbu saat Suharmanto mengingatkan satu hal: orang tua.

​Dia mengingatkan bahwa otot-otot ketangguhan yang dimiliki anak-anak hari ini, dibayar oleh cucuran keringat dan doa air mata orang tua mereka yang tak pernah putus.

​”Jika kalian berdiri di puncak kesuksesan, jangan lupa menunduk untuk menghormati orang tua kalian. Karena tanpa mereka, kalian tidak akan pernah seperti sekarang ini,” ucap Suharmanto. Kalimat penutup yang membuat beberapa mata di halaman itu mulai berkaca-kaca.

​Pihak yayasan pun satu suara. Drs. H. Sularto, M.Pd., Pembina Yayasan YAPERIS Malang, maju ke podium. Dia memuji kerja keras kepala sekolah, para guru, dan kekompakan wali murid dari kelas XII-A sampai XII-G. Sinergi yang luar biasa.

​Pembina Yayasan ini tipikal pemikir realistis. Dia langsung menyentak kesadaran para lulusan. Bahwa euforia lulus-lulusan ini cuma sesaat. Paling lama seminggu. Setelah itu? Kenyataan hidup yang sesungguhnya sudah menganga di depan mata. Kuliah, ikatan dinas, atau dunia kerja. Semua butuh perjuangan.
​”Jangan jadi generasi yang santai. Jadilah generasi yang siap berjuang!” tegas Sularto.

​Di akhir acara, saya melihat sebuah kesimpulan besar: SMA Islam Malang berhasil. Mereka tidak hanya melahirkan lulusan yang siap kuliah, tapi melahirkan para suksesor masa depan. Lulusan tahun ajaran 2025/2026 ini adalah pasukan berjiwa baja, namun tetap berhati mulia.

​Selamat berjuang, anak-anak muda!

Berita Terkini

Atasi Kemacetan dan Percantik Simpang Empat Patih

Pemkot Batu Segera Garap Proyek Preservasi IDEA JATIM, BATU –...

Ruang Dialog Lewat ‘Rumah Aspirasi Wong mBatu’ Fraksi PKB Kota Batu Diserbu Warga

IDEA JATIM, BATU – Langkah nyata dalam menjemput aspirasi...
spot_img
Berita Terkait