Cahaya Quran Siswa MINDATAMA

IDEA JATIM, MALANG – Mata Dr. Puji Subekti berkaca-kaca. Hari itu, Sabtu lalu, perasaannya diaduk-aduk. Antara haru, bangga, dan rasa syukur yang tumpah-tumpah.
​Dia adalah perwakilan wali murid. Tempatnya di Hotel Tychi, Kota Malang.

Di depannya ratusan anak-anak dengan wajah yang digambarkannya begitu pudar: memancarkan cahaya Al-Qur’an.

​”Dulu, kami titipkan mereka di gerbang MIN 2 dengan penuh harapan. Hari ini, kami melihat hasilnya,” ucap Puji, tertahan oleh rasa haru. “Anak-anak kami tidak hanya bisa membaca. Mereka menghafal Al-Qur’an.” kata dia, mewakili orang tua murid.

​Hari itu adalah hajatan besar. Namanya keren: Khotmul Qur’an dan Imtihan ke-9. Sekaligus munaqasah angkatan ke-12.

Yang punya kerja: Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang. Atau yang dikenal dengan nama MINDATAMA.

​Bukan main-main. Jumlah yang diwisuda tahun 2026 ini mencapai 365 anak. Dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Bayangkan. Anak sekecil itu. Sudah akrab dengan ayat-ayat suci.

​Ini sebuah rekor. Bahkan, dalam sembilan tahun terakhir, madrasah ini sudah melahirkan hampir 3.000 penghafal Al-Qur’an bersertifikat. Sebuah pabrik generasi Qur’ani yang luar biasa produktif.

​Kepala MIN 2 Kota Malang, Nanang Sukmawan, S.Pd., M.Pd.I tersenyum sumringah. Wajahnya lelah tapi puas. Sukses besar. Tapi, sukses itu juga membawa “masalah” baru bagi Nanang. Masalah yang menyenangkan.
​”Kami sempat kesulitan mencari tempat,” ujar Nanang, lalu tertawa kecil.

​Jumlah pesertanya membeludak setiap tahun. Kamar-kamar pertemuan di Malang mulai terasa sempit untuk menampung gairah menghafal ini. Tapi Nanang tidak mau menyerah oleh keadaan. Layanan untuk para penjaga firman Tuhan harus tetap nomor satu.
​Prestasi tahun ini memang gila-gilaan. Ada satu siswa yang sukses mengantongi hafalan hingga 21 juz. Tahun-tahun lalu, malah ada siswa yang sudah khatam total: 30 juz!

​Bagaimana caranya?
​Anda sudah tahu: menghafal Al-Qur’an itu sulit. Apalagi bagi anak-anak usia MI/SD. Di zaman gawai seperti sekarang pula.

​Kuncinya ada dua: kerelaan hati guru dan kedisiplinan murid. Serta manajemen waktu yang ketat.

​Di MIN 2, jam belajar resmi baru dimulai pukul 07.00 WIB. Tapi, pukul 06.30 WIB, suasana madrasah sudah hidup. Anak-anak sudah menyetor hafalan. Setengah jam yang mahal.
​Bagi anak-anak yang diproyeksikan lulus munaqasah, mereka punya menu tambahan. Mereka rela pulang lebih lambat atau datang lebih cepat.

Sukarela. Tanpa paksaan. Gurunya pun demikian. Jiwa pengabdiannya tinggi.
​Nanang belum puas. Tahun depan strateginya akan dipertajam lagi. Intensitas pertemuan ditambah. Kelas 1 sampai kelas 3 ditargetkan bertatap muka empat kali seminggu. Kelas atas akan mendapat porsi yang lebih intensif lagi.

​”Mudah-mudahan, insyaallah bertambah lagi,” kata Nanang, optimis.

​Puji Subekti tahu betul beratnya perjuangan itu. Maka, di podium, dia tak putus-putus mengucapkan terima kasih. Kepada para guru MIN 2. Juga kepada Ummi Malang.
​”Jazakumullah khairan katsira,” ucap Puji. “Terima kasih telah membimbing anak-anak kami hingga memiliki ilmu, adab, dan cinta.”

​Sabtu lalu, Hotel Tychi bukan sekadar tempat wisuda. Tempat itu menjadi saksi, bahwa di tangan guru-guru yang ikhlas, masa depan itu masih sangat cerah. Rasa lelah berganti berkah. (*)

- Advertisement - SPMB

Berita Terkini

spot_img
Berita Terkait