IDEA JATIM, MALANG – Institut Teknologi Sains dan Kesehatan (ITSK) RS dr. Soepraoen Malang sukses menggelar upacara Wisuda dan Pelantikan Profesi Tahun 2026 di Hotel Grand Mercure, Sabtu (30/5). Momen sakral ini menjadi pijakan penting bagi kampus untuk memperluas kepakan sayapnya di panggung akademik internasional (go international).
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tamu kehormatan nasional dan internasional. Di antaranya adalah pakar dari Widad University College, Malaysia, yakni Prof. Dato’ Sri Dr. Abu Hassan Asaari Abdullah dan Dr. Muhammad Ramzie Bin Abdul Rahman. Kehadiran delegasi Malaysia ini sekaligus menandai penjajakan kolaborasi strategis antar-institusi kedua negara.
Rektor ITSK RS dr. Soepraoen, Brigjen TNI (Purn.) Dr. dr. Sutrisno, S.H., M.A.R.S., M.H.Kes., FISQua menjelaskan bahwa kehadiran tamu internasional ini merupakan bagian dari langkah strategis institusi. Visi ITSK Soepraoen kini tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan tenaga kerja lokal di wilayah Malang atau Jawa Timur, melainkan telah bersiap merambah ke tingkat global.
”Selama ini kerja sama luar negeri kita berfokus dengan Timor Leste. Kini, kita kembangkan ke Malaysia, dan ke depan targetnya mencakup negara-negara dengan pendidikan maju lainnya seperti Jepang dan Filipina,” tutur Sutrisno saat diwawancarai di sela-sela acara.
Untuk mewujudkan visi tersebut, ITSK Soepraoen mengedepankan empat strategi kolaborasi komprehensif, mulai dari pengiriman mahasiswa lewat student mobility, kolaborasi riset, kuliah pakar internasional, hingga menggelar seminar global.
Sementara itu, Prof. Dato’ Sri Dr. Abu Hassan Asaari Abdullah mengingatkan bahwa perguruan tinggi saat ini dituntut untuk bergerak lebih cepat dan lincah dalam merespons disrupsi teknologi global. Ia menekankan bahwa kolaborasi antar-universitas di kancah global bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan agar institusi pendidikan tidak tertinggal.
”Perlu ada modalitas baru, sebuah pendekatan baru, karena dunia saat ini sedang bergerak sangat cepat akibat perkembangan teknologi. Jika kita tidak bergerak maju, maka kita akan tertinggal,” tegas Prof. Abu Hassan dalam sesi wawancara.
Ia juga menambahkan bahwa perbedaan kebudayaan dalam lanskap pendidikan antara Indonesia dan Malaysia justru menjadi modal berharga untuk saling melengkapi. “Secara budaya pendidikan, kita sebenarnya sama-sama serumpun. Namun, perbedaannya adalah perkembangan kami sangat bercorak British (Inggris), sedangkan di sini terdapat perpaduan antara budaya Dutch (Belanda) dan Indonesia,” jelasnya.
Menariknya, keuntungan dari sinergi bilateral ini tidak bersifat searah, melainkan pertukaran dua arah yang seimbang. “Melalui program outbound dari Malaysia ke Indonesia, mahasiswa kami juga bisa belajar banyak hal tentang kebudayaan di sini, serta bagaimana pemerintah Indonesia menjalankan sistem pelayanan kesehatannya, karena hal itu sangat berbeda dengan apa yang ada di Malaysia,” tambah Prof. Abu Hassan.
Menyambung rencana konkret tersebut, Dr. Muhammad Ramzie Bin Abdul Rahman membeberkan salah satu inisiatif paling menarik yang ditawarkan dalam kolaborasi ini, yaitu program belajar sambil bekerjaa. Lewat skema ini, mahasiswa nantinya memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan sekaligus bekerja, serta berhak mendapatkan penghasilan atau gaji secara parsial.
”Program ini sengaja dirancang sebagai solusi inklusif untuk meringankan beban finansial mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan pendapatan terbatas. Dengan adanya penghasilan mandiri, mahasiswa diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga, sekaligus membuka jalan dan kemudahan bagi adik-adik mereka untuk ikut melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkap Dr. Ramzie.
Selain program magang kerja, skema kolaborasi ini ke depan akan mencakup program penjembatan (bridging program), pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga eksplorasi kurikulum yang difokuskan pada pengembangan bidang kedokteran di ITSK RS dr. Soepraoen. ”Melalui persiapan yang matang dan komunikasi intensif, kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi kemitraan berkelanjutan yang berdampak nyata bagi dunia pendidikan di Indonesia dan Malaysia,” pungkas Dr. Ramzie optimis. (*)




