IDEA JATIM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) di Malang Raya yang berhasil memborong pendanaan nasional dalam Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa 2026. Capaian gemilang yang dirilis oleh Belmawa Kemendiktisaintek ini menegaskan komitmen Kampus Putih dalam melahirkan inovasi teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat desa.
Keberhasilan luar biasa ini tidak diraih secara instan. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., mengungkapkan bahwa proses seleksi dan pembinaan ketat sudah digeber sejak akhir tahun lalu untuk menyaring ratusan proposal dari berbagai organisasi kemahasiswaan.
”Kami memastikan mahasiswa tidak dilepas begitu saja. Pendampingan komprehensif kami berikan sejak tahap awal penyusunan proposal,” ujar Ary Bakhtiar saat menjelaskan proses karantina wilayah (camp) bagi sepuluh tim unggulan kampus.
Ary menambahkan, pembekalan intensif tersebut sengaja melibatkan tim ahli untuk menguji ketahanan program di lapangan. “Di masa karantina inilah seluruh gagasan mereka digembleng dan dimantapkan secara intensif, sehingga inovasi yang dibawa tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar aplikatif dan siap dieksekusi di desa,” tegasnya.
Tercatat ada empat ormawa UMM yang lolos pendanaan dengan membawa misi digitalisasi dan hilirisasi potensi lokal. Himpunan Mahasiswa Program Studi Agribisnis (HIMAGRI) mengusung program CRAFT-HUB berbasis digital marketing untuk kerajinan mendong di Desa Blayu.
Selanjutnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (BEM FPP) menciptakan alat Smart Multifunctional Fermentor karbonasi untuk petani kopi Desa Klampok. Sementara Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (HIMATEKPA) menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk eduwisata herbal di Desa Sukolelo.
Ary menekankan bahwa orientasi utama dari seluruh teknologi ini adalah kemandirian finansial warga lokal. “Secara garis besar, inovasi yang diterapkan adalah kita tidak hanya membantu mem-branding desa, melainkan juga menitikberatkan bagaimana keberlanjutan dari program ini menjadi salah satu tumpuan utama desa tersebut,” imbuh Ary.
Merespons prestasi ini, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., mengingatkan para mahasiswa agar mengawal program ini dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, esensi utama dari pendanaan ini adalah keberlanjutan manfaat bagi masyarakat.
”Jadi pendampingan yang berkesinambungan menjadikan program ini tidak hanya sekadar lolos seleksi dan didanai. Lebih dari itu, bagaimana nanti program ini sangat berdampak pada masyarakat, utamanya bagi keberlanjutan usaha yang ada di lingkungan yang di-support oleh Belmawa dan juga UMM,” pungkas Nur Subeki. (*)





