IDEA JATIM, MALANG – Pagi itu, Selasa (4/8/2026), halaman TK Islam Sabilillah (TKIS) Malang 2 riuh. Bukan riuh orang bertengkar. Tapi riuh tawa bocah.
Bedanya: kali ini tawa khas anak-anak itu berpadu dengan ketegasan instruksi prajurit TNI.
Hari itu mereka belajar baris-berbaris. Istilah kerennya: PBB. Latihan Peraturan Baris-Berbaris. Ini bagian dari Masa Pembentukan Karakter (MPK).
Bukan simulasi kacang-kacang. Sekolah langsung mendatangkan “ahlinya ahli”: prajurit dari Satuan Batalyon Kavaleri (Yonkav).
Tujuannya jelas. Tidak neko-neko.
Menanamkan kedisiplinan, membentuk postur tegap, dan memupuk keberanian sejak usia dini.
”Siap, grak!” gema suara prajurit Yonkav membahana di tengah lapangan.
Seketika, cekit! Tangan-tangan mungil itu menempel rapat di samping paha.
Dada mereka dibusungkan. Pandangan mata lurus ke depan. Mantap betul.
Lalu terdengar irama langkah kaki cilik bergema serentak. Sesekali gelak tawa pecah—memang ada saja yang melenceng lupa tempo. Tapi tak ada raut takut sama sekali. Binar mata mereka justru menyala. Antusias.
Menariknya, ada bumbu sinergi yang unik di sini. TNI yang melatih ternyata bukan cuma “orang luar”. Ada wali murid sendiri yang berprofesi sebagai prajurit. Jelas saja, anak-anak makin bersemangat. Berani dan bangga!
Kepala TK Islam Sabilillah Malang 2, Nunik S. Hariarti, S.Pd., M.Pd. menceritakan rahasianya. “Kami hadirkan pendampingan dari personel Yonkav. Kebetulan beberapa di antaranya adalah wali murid di sini. Anak-anak sangat antusias melatih gerakan fisik mereka,” tuturnya.
Ibu Nunik lantas membeberkan konsepnya. Pembinaan karakter di sekolahnya tidak digebrak sama rata. Ada dua tahap. Untuk Kelompok A (murid baru), dinamakan Pembentukan Karakter. Fokusnya pada karakter dasar selama satu bulan penuh—sejak pertengahan Juli lalu.
Sedangkan untuk Kelompok B, dinamakan Penguatan Karakter. Sifatnya memantapkan nilai-nilai yang sudah didapat di tahun sebelumnya.
Maklum, namanya juga anak usia dini.
Koordinasi gerak tubuhnya belum stabil. Berdiri tegap saja kadang masih canggung dan oleng. Lewat porsi PBB yang disesuaikan untuk anak-anak ini, mereka diajari berdiri sempurna, genggaman tangan yang benar, hingga tata cara hormat bendera yang presisi.
Tapi ini bukan sekadar urusan fisik, otot, dan kringat. Ada nilai terselubung yang diresap: ketegasan, kepercayaan diri, dan kebersamaan.
Langkah-langkah kecil yang menghentak halaman sekolah hari itu bisa jadi adalah pijakan awal lahirnya calon pemimpin masa depan.
Kapan hajatan puncaknya?
Nanti, 24 Oktober 2026. TK Islam Sabilillah Malang 2 bersama seluruh unit Sekolah Sabilillah bakal menggelar agenda Pengukuhan Bersama. Sebuah penanda resmi bahwa karakter dasar yang digembleng hari ini siap diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Langkah kecil hari ini. Langkah besar untuk masa depan. (*)




