IDEA JATIM, BATU – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Batu tahun ini dirancang sebagai momentum krusial untuk membangun pondasi karakter siswa baru. Mengusung visi besar “mBatu SAE” (Sinergis, Akomodatif, dan Ekologis), Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menekankan bahwa MPLS harus diarahkan agar berdampak positif, produktif, dan sepenuhnya bersih dari praktik perpeloncoan.
Dalam keterangannya, Alfi Nurhidayat menjelaskan bahwa konsep SAE tidak hanya diambil dari bahasa Jawa yang berarti “bagus atau baik”, melainkan juga dijabarkan menjadi akronim kreatif: Santun, Aktif, dan Edukatif.
“Kita ingin MPLS ini menjadi inkubator awal untuk melahirkan generasi muda Batu yang cerdas, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi daerahnya. Nilai SAE harus diturunkan ke dalam aktivitas konkret, bukan sekadar slogan,” ujar Alfi Nurhidayat.
Untuk memastikan pelaksanaan MPLS berjalan efektif, Dinas Pendidikan Kota Batu menetapkan tiga formula utama yang wajib diterapkan di setiap satuan pendidikan.
Diantara menjabarkan esensi “SAE” yang memiliki S – Santun (Karakter & Budi Pekerti) atau fokus pada penanaman etika komunikasi, menghormati guru, menyayangi sesama teman, serta mengenalkan budaya lokal Kota Batu yang ramah dan beradab.
Kemudian A – Aktif (Partisipasi & Eksplorasi) untuk mendorong siswa baru untuk mengenali potensi diri, aktif berdiskusi, serta terlibat dalam simulasi organisasi atau ekstrakurikuler. Dan E – Edukatif (Inovatif & Bebas Perpeloncoan) merupakan setiap game atau materi wajib memiliki output pembelajaran yang bermakna tanpa ada aktivitas yang mempermalukan siswa.
Alfi juga menekankan tiga pilar penting untuk memicu produktivitas belajar siswa sejak hari pertama Kearifan Lokal yang mengajak siswa peduli lingkungan sekitar melalui gerakan memilah sampah di sekolah dan membuat proyek mini berbasis potensi agrowisata atau sejarah Kota Batu.
Kedia Adaptasi Teknologi secara Bijak dengan memberikan literasi digital, pengenalan platform belajar sekolah, serta edukasi tentang stop cyberbullying dan bijak bermedia sosial. Serta Orientasi Mental & Kesehatan dengan memberikan ruang pembekalan kesehatan mental untuk mengatasi kecemasan masa transisi, pencegahan perundungan (bullying), serta menjaga kesehatan fisik.
Guna memastikan visi tersebut berjalan linier di lapangan, Kepala Dinas Pendidikan menginstruksikan panitia sekolah untuk menerapkan empat strategi berbasis checklist kerja. Mulai Pra-Acara seperti Penyusunan Materi Berbasis RegulasiMerujuk pedoman resmi Kemendikbudristek, penguatan Profil Pelajar Pancasila, dan pengenalan fasilitas sekolah.Pra-AcaraBriefing Kakak Pendamping (OSIS)Menanamkan pola pikir OSIS sebagai “pembimbing dan sahabat”.
Mencoret semua tugas tidak masuk akal yang menyulitkan orang tua. Hari H pelaksanaan Interaktif & KolaboratifMenggunakan metode sersan (serius tapi santai) melalui aktivitas luar ruangan yang melatih kerja sama tim (team building). Pasca-Acara dengan Evaluasi dan Refleksi SiswaSesi refleksi harian di mana siswa menuliskan hal produktif yang mereka pelajari, bukan sekadar kesan-pesan formal.
Menutup keterangannya, Alfi Nurhidayat berharap adanya komitmen kuat dan kolaborasi yang sinergis antara pihak sekolah, Dinas Pendidikan, serta dukungan penuh dari orang tua murid.
Dengan kesiapan ini, MPLS di Kota Batu dipastikan tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan menjadi gerbang awal yang menyenangkan dan penuh makna bagi masa depan generasi muda Kota Batu. (*)



