Sudah Jadi Finisher, Langsung Jadi Pakar?

Di dunia lari ada beberapa hal yang cukup jadi perbincangan. Salah satunya adalah cara seseorang pelari untuk mendapatkan insight. Beberapa ‘pelari baru’ lebih percaya kepada pelari yang sudah pernah melakukan sesuatu (dengan hasil baik atau tidak), dibandingkan kepada pelatih yang lebih tahu bagaimana cara untuk melakukannya.

Mau marathon? “Coba tanya si A, dia sudah pernah FM.”
Mau trail? “Coba tanya si B, dia sudah sering ikut trail.”
Mau ultra? “Coba tanya dia, dia udah pernah lari tiga digit”

Entah kenapa, kata “sudah pernah” punya kekuatan yang luar biasa. Seolah-olah, karena sudah pernah menyelesaikan sesuatu, otomatis dia dianggap tahu bagaimana cara orang lain melakukannya. Padahal, belum tentu.

Orang yang sudah pernah marathon Sub 3 jam, belum tentu tahu bagaimana cara membuat pelari lain bisa Sub 3 jam.

Pakar
Sudah Jadi Finisher, Langsung Jadi Pakar? 1

Mungkin dia punya banyak pengalaman. Dia tahu bagaimana menyelesaikan beratnya latihan, bagaimana menahan sakit, bagaimana rasanya bonking di kilometer 35. Tapi itu tetap pengalaman pribadinya.

Sementara, seorang pelatih punya pekerjaan yang berbeda. Dia tidak harus menjadi pelari dengan catatan bagus. Dia akan lebih memahami bagaimana cara tubuh beradaptasi dengan latihan, bagaimana menyusun program, kapan harus menambah beban, kapan harus mengurangi, dan menyesuaikan latihan dengan acuan kondisi orang yang berbeda-beda.

Masalahnya, kompetensi seperti itu tidak bisa selalu terlihat. Tidak ada medali untuk “pernah membaca periodisasi latihan”. Tidak ada foto Instagram yang keren karena berhasil memahami fisiologi olahraga.

Akhirnya, yang lebih mudah dipercaya adalah sesuatu yang bisa dilihat ; Medali, Pace, Strava, Finisher certificate.

“Dia sudah pernah race ini!” Selesai.

Pakar
Sudah Jadi Finisher, Langsung Jadi Pakar? 2

Tapi menurut saya, pengalaman pribadi dan kompetensi profesional bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya punya tempat masing-masing. Pengalaman membuat seseorang tahu bagaimana rasanya. Kompetensi membuat seseorang tahu mengapa itu terjadi dan bagaimana mengatasinya.

Dan mungkin kita perlu mulai membedakan keduanya. Meski kadang, dalam satu kasus, kita harus mengedepankan salah satunya.

Karena, orang yang berhasil melakukan sesuatu, belum tentu orang yang paling tahu juga bagaimana mengajarkannya. Sama seperti orang yang tahu teori, belum tentu tahu bagaimana rasanya menjalani prosesnya.

Jadi kalau mencari orang untuk belajar lari, mungkin pertanyaannya jangan berhenti di; “Sudah pernah?”

Tapi coba lanjutkan dengan: “Memangnya tahu caranya?”

Karena dalam lari, pernah sampai garis finish dan tahu bagaimana membawa orang lain sampai ke sana adalah dua kemampuan yang berbeda.

Berita Terkini

DPRD Kota Pasuruan Optimistis RAPBN 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi

IDEAJATIM, KOTA PASURUAN – DPRD Kota Pasuruan mengikuti kegiatan...

Tips Tetap Sehat Saat Musim Pancaroba, Jaga Imunitas dan Kenali Risiko Penyakit

Perubahan cuaca yang terjadi pada musim pancaroba perlu menjadi...

Keren Banget! Dua Rider Muda Kota Batu Sukses Bawa Pulang Gelar di President Cup 2026

IDEA JATIM, BATU - Kota Batu kembali dibuat bangga!...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img