IDEA JATIM, BATU – Keberagaman agama di SMPN 07 Batu tidak hanya tercatat dalam data administrasi sekolah, terapi menjadi budaya yang hidup dalam keseharian warga sekolah. Meski baru resmi berdiri sekitar empat tahun yang lalu, sekolah ini mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi nilai toleransi, saling menghormati, dan kebebasan beribadah bagi seluruh murid.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan tempat ibadah bagi berbagi agama yang dianut murid. Fasilitas tersebut menjadi bukti bahwa sekolah memberikan ruang yang sama kepada seluruh murid untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Selain menyediakan sarana ibadah SMPN 07 Batu juga memberikan kesempatan kepada murid untuk melaksanakan kegiatan keagamaan tanpa adanya diskriminasi. Setiap murid memperoleh hak yang sama untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan, sehingga kehidupan beragama di lingkungan sekolah berjalan secara harmonis dan saling menghargai.
Yayuk Sariyastutik, selaku Kepala SMPN 07 Batu menyampaikan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dirawat melalui pendidikan karakter. Menurutnya sekolah tidak hanya bertugas mencetak peserta didik yang unggul dalam bidang akademik, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki sikap toleran, menghormati perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Keberagaman di SMPN 07 Batu bukan sekadar formalitas. Kami ingin setiap murid merasa dihargai, diterima, dan dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dengan nyaman. Nilai-nilai inilah yang kami tanamkan setiap hari dalam kehidupan sekolah,” ujarnya.
Eri Hendro Kusuma, selaku Guru Pendidikan Pancasila di SMPN 07 Batu juga menyampaikan jika praktik kehidupan beragama yang dibangun di sekolah ini layak menjadi contoh bagi satuan pendidikan lainnya. Menurutnya, SMPN 0u Batu berpotensi menjadi laboratorium moderasi beragama, yakni ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana keberagaman tidak hanya diterima, tetapi juga dirawat melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekolah ini sebenarnya bisa menjadi laboratorium moderasi beragama. Di sini semua unsur dapat menikmati indahnya hidup berdampingan sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghormati, dan bekerja sama,” ujar Eri.
Ia mengakui bahwa tidak semua sekolah, khusunya sekolah negeri, mampu menghadirkan ekosistem keberagaman yang berjalan secara substantif. Masih terdapat tantangan salam membangun budaya saling menghargai karena perbedaan kerap dipandang dari sudut kepentingan kelompok atau keyakinan masing-masing.
“Seringkali perbedaan justru melahirkan sikap egosentris di kalangan para penganut suatu keyakinan. Padahal, semangat moderasi beragama mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, tanpa mengurangi penghormatan kepada pemeluk agama lain. Nilai inilah yang terus kami tanamkan kepada para murid,” jelasnya.
Menurut Eri, pendidikan merupakan ruang strategis untuk menanamkan karakter toleran sejak dini. Ketika murid terbiasa hidup berdampingan dalam suasana saling menghormati, mereka tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang berprestasi secara akademik, tetapi juga menjadi warga negara yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. (*)



