IDEA JATIM, BATU – Piring-piring bergeser pelan seiring ide yang mengalir deras mulai dari urusan pengolahan lahan, inovasi warga, dan keguyuban sosial di pelosok desa besar bernama Kota Batu hingga unjuk karya di layar kaca nasional. Minggu siang (23/8/2026) di Kota Batu terasa lebih hangat dari biasanya.
Di sudut Omah Koempoel, sebuah hidden gem bagi para pegiat industri kreatif lokal, perjumpaan bertajuk “Njagong Santai” berhasil memantik lahirnya gagasan-gagasan besar. Diinisiasi oleh Batu Creative Hub yang tergabung dalam jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN), forum ini sukses meleburkan sekat-sekat formal.
Kehadiran Direktur Utama TVRI Nasional, Fiki Satari, beserta Kepala Stasiun TVRI Jawa Timur, Syalom Salombe, membuat obrolan makan siang ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan berbuah rencana aksi yang matang.
Duduk melingkar di meja kayu panjang yang antik, perwakilan Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Dewan Kesenian, Petani Muda Berjaya, Paguyuban Kriya Wastra, Forum Kelompok Sadar Wisata hingga kawan-kawan musisi dari Batu Total Independent saling bertukar pikiran.
Langkah Nyata Pasca Njagong Santai
Dari obrolan yang membumi siang itu, lahir kesepakatan strategis yang siap dieksekusi bersama. Diantaranya menghidupkan lahan transmisi, terdapat rencana untuk mengaktivasi kawasan transmisi TVRI di Desa Oro-Oro Ombo menjadi ruang pertanian produktif. Lahan ini rencananya akan digarap langsung oleh perkumpulan Petani Muda Berjaya.
Kemudian pertanian sebagai inspirasi, peta jalan Agro Kreatif gagasan Kota Batu akan dijahit rapi ke dalam program televisi Bertani Itu Keren di TVRI Jatim. Tujuannya adalah membuktikan bahwa bertani di era kiwari bisa sangat inovatif dan menjanjikan secara bisnis.
Panggung musisi lokal, seperti komunitas Batu Total Independent bersiap memproduksi video klip Bahagia Terus Indonesia. Mereka juga bersiap tampil di program Spektrum TVRI Jatim agar karya musisi lokal Kota Batu semakin bergema luas.

juga rumah bersama ekosistem kreatif, dimana TVRI Jawa Timur didapuk menjadi mitra strategis untuk menyuarakan geliat pariwisata, kuliner, musik, film dan kriya dari talenta terampil warga Kota Batu.
Turut hadir dari jajaran pengurus nasional ICCN siang itu adalah Tita Larasati, yang mendampingi tim penyusun dossier UNESCO Creative Cities Network (UCCN) untuk mewujudkan misi Batu Agrocreative: Road to City of Gastronomy.
Berpijak pada kesepakatan Mondiacult yang menempatkan budaya sebagai pilar tersendiri dalam Sustainable Development Goals (SDGs), narasi egaliter gastronomi yang telah termaktub sejak era Prasasti Sangguran kini menjadi landasan historis yang kuat. Warisan ini menjadi batu pijakan yang tepat bagi Kota Batu dalam komitmennya untuk bergabung menjadi bagian dari kota kreatif dunia.
Visi Agrokreatif : Mengolah Tanah dengan Cerita
Semangat gotong royong lintas komunitas ini merupakan langkah krusial untuk mengukuhkan identitas Kota Batu sebagai kota Agrokreatif. Visi ini berjalan selaras dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045 yang mengusung cita-cita “Batu Kota MBATU Madani, Berkelanjutan, Agroindustri, Tenteram, dan Unggul”.
Konsep agrokreatif menegaskan bahwa pertanian, pariwisata, dan UMKM harus diintegrasikan melalui sentuhan kreativitas. Komoditas identitas utama Kota Batu seperti apel, stroberi, sayur-mayur, kentang dan susu segar tidak lagi dilihat sekadar sebagai hasil bumi mentah. Nilai komoditas tersebut harus ditransformasi secara cerdas melalui inovasi, pengolahan, branding, budaya, hingga keahlian bertutur (storytelling).
Jembatan Menuju Kota Gastronomi Dunia
Pertemuan yang cair lewat njagong santai dan gaya egaliter khas mBatu ini membuktikan satu hal: ekosistem kreatif hanya bisa hidup jika ada sinergi nyata dengan beragam jejaring yang luas.
Agrokreatif kini tidak lagi dipahami sekadar sebagai etalase produk hasil pertanian semata. Ekosistem ini telah menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan akar budaya pertanian dengan pengalaman wisata, inovasi teknologi, dan strategi komunikasi. Pada akhirnya, budaya gastronomi inilah yang akan bertindak sebagai lokomotif identitas kebanggaan—menggerakkan roda ekonomi sekaligus menyejahterakan masyarakat Kota Batu. (*)




