Kota Batu,barangkali mula-mula adalah tubuh yang dibangun oleh hal-hal yang tidak bersuara: oleh kabut yang singgah di bahu egunungan, oleh tanah yang menyimpan dingin sampai ke akar, oleh mata air yang mengalir tanpa meminta dikenang, oleh sungai-sungai yang sejak lama membawa musim melewati ladang, halaman, dan wajah-wajah yang menua pelan.
Di kota ini air pernah begitu dekat seperti nama ibu yang dipanggil lirih dari dalam rumah.
Ia turun dari lereng, melewati batu, melewati rumput, melewati sela-sela waktu, lalu tinggal di bak mandi, di gelas, di nasi, di tubuh anak-anak yang berlari pulang menjelang senja.
Tetapi barangkali setiap kota menyimpan cara sendiri untuk lupa. Dan lupa, mula-mula, tidak datang sebagai bencana.
Ia datang perlahan, seringan plastik yang hanyut di permukaan arus. Seringan sisa-sisa yang dilempar diam-diam lalu dibiarkan pergi seolah air selalu punya punggung untuk menanggung semuanya.

Maka sungai yang dulu mungkin dipandang sebagai jalan pulang bagi hujan, pelan-pelan berubah menjadi tempat singgah bagi yang tak ingin disimpan di rumah.
Mata air yang dahulu disapa seperti rahasia pegunungan, pelan-pelan kehilangan namanya, lalu tinggal sebagai hitungan, sebagai cadangan, sebagai sesuatu yang bisa diambil selama masih tampak jernih dari kejauhan.
Dan sampah ia bukan hanya benda-benda yang terdampar di batu, yang kusut di ranting, yang mengambang di sela arus.
Ia seperti sisa percakapan yang tak pernah selesai antara manusia dan ruang hidupnya sendiri.
Ia adalah jejak dari tangan yang terburu-buru melepaskan, dari hari-hari yang terlalu sibuk memakai, dari kebiasaan
yang perlahan tak lagi bertanya ke mana sesuatu berakhir setelah tak kita inginkan.
Barangkali yang berubah bukan hanya air. Barangkali yang pelan-pelan keruh juga cara kita memandangnya.
Sungai tak lagi dibaca sebagai sesuatu yang bernapas.
Tanah tak lagi disentuh sebagai sesuatu yang sabar menumbuhkan.
Dan pohon-pohon, entah sejak kapan, lebih sering menjadi latar daripada saudara yang diam.
Namun di tengah itu, selalu ada orang-orang yang datang tanpa banyak suara.
Mereka memungut plastik dari arus yang keruh, mengangkat sisa-sisa yang tersangkut di batu, membungkuk di tepi aliran
seolah sedang membaca kembali sesuatu yang lama tercecer dari ingatan bersama.
Barangkali yang mereka angkat bukan hanya sampah.
Barangkali mereka sedang memunguti potongan-potongan hubungan yang pernah retak pelan-pelan:
antara rumah dan sungai, antara tubuh dan mata air, antara kota dan napas yang diam-diam menjaganya.
Gerakan itu tidak selalu bersuara besar.
Ia tidak selalu datang dengan kata-kata yang gemuruh.
Kadang ia hanya berupa karung yang basah, sepatu yang penuh lumpur, punggung yang menunduk, dan tangan-tangan yang tetap bekerja meski arus tak pernah benar-benar selesai membawa kiriman dari hulu kehidupan kita.
Tetapi justru di sanalah sesuatu terasa tinggal.
Seperti air yang tetap berusaha jernih meski berkali-kali dilukai.
Seperti akar yang diam-diam menahan lereng agar tidak runtuh seluruhnya.
Seperti kota yang barangkali masih ingin mengingat dirinya sendiri sebelum semuanya berubah menjadi nama-nama yang hanya tersisa di papan penunjuk jalan.
Maka Kota Batu, barangkali tak selalu perlu suara yang tinggi untuk mendengar apa yang sedang terjadi.
Barangkali cukup berdiri sejenak di tepi sungai, memandang arus yang membawa daun, cahaya, dan kadang-kadang sisa dari hidup kita sendiri.
Lalu merasakan bagaimana air tetap mengalir melewati yang kita jaga dan yang kita abaikan.
Bagaimana ia masih setia menyusuri batu, menyentuh akar, mengisi retak-retak tanah, seakan di dalam diamnya ia masih menyimpan sesuatu yang belum selesai dikatakan.
Dan di hadapan aliran itu, mungkin kita tak sedang mencari jawaban.
Mungkin kita hanya sedang belajar mendengar kembali bunyi kecil dari yang selama ini menopang hidup kita tanpa pernah meminta tepuk tangan.




