IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Pengasuh pondok pesantren se-Pasuruan mendeklarasikan Gerakan Pesantren Menolak Kekerasan Seksual sebagai bentuk keseriusan dalam melindungi santri dan menjaga marwah lembaga pendidikan Islam.
Deklarasi yang berlangsung di Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil itu menghasilkan 10 komitmen bersama. Salah satu poin utamanya adalah penolakan tegas terhadap segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pesantren.
Selain itu, para pengasuh pesantren berkomitmen memperkuat pendidikan akhlak, menyediakan ruang pengaduan yang aman bagi korban, serta membangun sistem perlindungan santri yang berkelanjutan.
Perwakilan pengasuh Pondok Pesantren KH Kholil Nawawi, Gus Kholil, mengatakan gerakan tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa keselamatan dan kehormatan santri merupakan amanah yang harus dijaga seluruh elemen pesantren.
“Pesantren adalah tempat lahirnya ilmu, akhlak, adab, dan keteladanan. Karena itu, segala bentuk kekerasan seksual tidak boleh mendapat tempat di lingkungan pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, deklarasi tersebut bukan untuk saling menyalahkan, melainkan memperkuat kesadaran bersama agar pesantren semakin aman, nyaman, dan bermartabat.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil, KH Ahmad Wildan Amrullah, menegaskan bahwa pesantren menolak keras segala bentuk pelecehan seksual. Namun, ia mengingatkan agar tindakan oknum tidak digeneralisasi sebagai wajah seluruh pesantren.
“Jika ada pelaku yang terbukti melakukan kekerasan seksual, harus ditindak tegas sesuai hukum. Tetapi pesantren secara umum tetap menjadi tempat pendidikan moral, akhlak, dan pembentukan karakter,” tegasnya.
Melalui deklarasi ini, para pengasuh, ustaz, dan ustazah bersepakat memperkuat edukasi, pengawasan, serta kepedulian terhadap korban. Gerakan tersebut ditutup dengan seruan bersama, “Pesantren Aman, Santri Nyaman, Kekerasan Seksual Kita Lawan,” (*)



