Ada yang ganjil ketika saya berkunjung ke perpustakaan Institut Français Indonesia (IFI), satu pusat kebudayaan dan bahasa dari Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, di Jakarta. Di luar, Jakarta bergerak seperti biasa: tergesa-gesa, berisik, dan lapar akan masa depan. Tetapi di dalam perpustakaan itu, waktu bergerak dengan cara yang berbeda. Ia berjalan pelan melalui lembaran-lembaran buku tua berbahasa Prancis.
Di tengah gedung yang bergaya modern minimalis dan menjadi rumah kebudayaan Prancis itu, saya justru menemukan Jawa. Bukan Jawa yang hiruk-pikuk oleh kemacetan dan pusat perbelanjaan, melainkan Jawa yang diam di dalam bata merah, pendopo, halaman, dan bayangan pohon sawo kecik.
Di sana saya menemukan dua buku yang seolah sedang bercakap satu sama lain. Yang pertama, Architecture Orientale karya Mario Bussagli. Yang kedua, Vivre à Java karya Peter Schoppert, Tara Sosrowardoyo, dan Soedarmadji Damais. Keduanya diterbitkan dan disimpan dalam lingkungan kebudayaan Prancis, tetapi anehnya, keduanya justru membawa saya pulang ke Jawa Timur. Barangkali beginilah cara kebudayaan bekerja. Ia tidak mengenal paspor. Ia tidak berhenti pada batas negara. Ia berjalan diam-diam melalui buku, gambar, arsip, dan percakapan.