IDEA JATIM, MALANG – Sabtu besok (9/5) akan ada keramaian di Kampus Hijau. Bukan demo mahasiswa. Bukan pula pesta pora. Di Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu besok itu adalah hari sakral. Hari pengukuhan.
Tiga orang sekaligus akan dikukuhkan menjadi Guru Besar. Itulah puncak karier seorang dosen. Syaratnya berat. Menulisnya harus tekun. Risetnya harus dalam. Sabarnya harus luas.
Siapa mereka?
Pertama, ada Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati. Keahliannya spesifik: Fisiologi Tumbuhan. Dia tahu betul bagaimana tanaman bernapas dan metabolisme bekerja.
Kedua, Prof. Dr. Dwi Susilowati. Bidangnya Pengembangan Masyarakat Agribisnis. Ini soal bagaimana ekonomi tani bisa naik kelas.

Ketiga, Prof. Dr. Apt. Yudi Purnomo. Dia jagonya Biomedik Farmasi. Urusan obat-obatan dan kesehatan manusia di level seluler.

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd, Ph.D. Kalimatnya mantap. “Guru Besar adalah mesin utama penggerak kualitas,” katanya.
Bagi Prof. Junaidi, jabatan profesor itu bukan akhir. Bukan waktunya untuk duduk santai di kursi empuk sambil kipas-kipas. Justru sebaliknya. Ini awal dari tanggung jawab yang lebih besar bagi peradaban.
Ada satu hal yang membuat Unisma bangga luar biasa. Bukan soal jumlahnya saja. Unisma kini punya 27 Guru Besar. Tapi lihatlah “akta lahir” mereka.
Ke-27 profesor itu adalah produk asli. “Lahir dari rahim sendiri,” ujar sang Rektor dengan nada bangga.
Mereka bukan hasil “impor”. Bukan hasil akuisisi atau membajak pakar dari kampus lain demi menaikkan gengsi secara instan. Mereka adalah pendekar akademik yang meniti karier dari nol di Unisma. Dari asisten ahli sampai profesor, semua keringatnya tertumpah di sana.
Ini bukti penting: ekosistem di Unisma sehat. Orang bisa tumbuh di sana. Dosen tidak merasa “mentok”. Mereka difasilitasi untuk mendaki puncak karier dengan cara terhormat.
”Kami bangga karena mereka produk asli. Ini menunjukkan iklim intelektual kita mampu melahirkan pakar kelas dunia,” tegas Junaidi.
Tentu, targetnya jelas. Unisma sedang berlari. Bukan sekadar joging sore. Mereka sedang menuju World Class University. Targetnya dipatok: periode 2027–2031. Pengakuan internasional bukan lagi mimpi di siang bolong. Itu target yang sedang dipreteli satu per satu.
Tapi, jalan menuju ke sana tidak selalu mulus. Ada kerikilnya. Ada tanjakannya.
Prof. Junaidi jujur soal tantangan.
Terutama soal dana hibah penelitian. Bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS), urusan dana pemerintah memang sering bikin mengeluh. Tapi Unisma tidak mau jadi pengeluh yang cengeng.
Kalau bantuan luar minim, ya pakai kekuatan sendiri. Unisma mengambil langkah berani: menyiapkan “bahan bakar” mandiri.
Berapa nilainya? Fantastis untuk ukuran mandiri. Unisma mengalokasikan dana internal hingga Rp40 juta per judul penelitian untuk kategori tertinggi. Itu investasi. Bukan biaya. Investasi untuk masa depan ilmu pengetahuan.
Tidak berhenti di situ. Ada “panggung” dan “hadiah”. Dosen yang berhasil menembus jurnal internasional bereputasi, seperti Scopus atau Web of Science, disiapkan insentif materiil.
Tapi ada syaratnya. Guru Besar tidak boleh hanya diam. Mereka memikul mandat: minimal menghasilkan satu publikasi internasional setiap tahun. Wajib. Biar pemikiran orang Malang mewarnai diskursus ilmiah di tingkat global.
Ilmu itu juga tidak boleh hanya disimpan di menara gading. Tidak boleh hanya jadi tumpukan kertas di perpustakaan yang berdebu.
Ilmu harus membumi. Harus bermanfaat.
Lihat saja di Fakultas Pertanian. Prodi Agroteknologi dan Agribisnis sudah mengantongi akreditasi internasional ASIIN dari Jerman. Artinya apa? Standarnya sudah dunia, tapi manfaatnya harus tetap untuk petani lokal kita.
”Ujung dari semua ini adalah manfaat bagi masyarakat,” pungkas Prof. Junaidi.
Sabtu besok, di Rapat Terbuka Senat, Unisma kembali menegaskan posisinya. Mereka tidak hanya mencetak sarjana. Mereka sedang membangun peradaban lewat riset dan ketajaman pena para profesornya.
Selamat untuk Unisma. Selamat untuk tiga pendekar baru. Teruslah menulis, teruslah meneliti. Dunia sedang menunggu apa lagi yang lahir dari rahim Unisma. (*)




