IDEA JATIM, MALANG – Sabtu pagi kemarin, halaman SMP Insan Amanah (SMPIA) Malang mendadak riuh. Bukan karena ada demonstrasi. Tapi ada pameran. Nama kerennya: Science and Art Project Expo 2026.
Temanya gagah: Symphony of Science and Nature.
Kepala Sekolahnya, Ibu Sri Endah Pujiningrum, S.Si., tampak sumringah. Beliau ingin menunjukkan satu hal: anak SMP pun bisa berpikir layaknya ilmuwan. Bukan sekadar teori di papan tulis, tapi praktek di lapangan.
”Ini bentuk apresiasi kami. Orang tua harus lihat, anak-anak ini melewati proses panjang. Dari mengamati, meneliti, sampai jadi produk,” ujar Ibu Endah.
Lihatlah anak-anak kelas 7 itu. Fokus mereka pada sampah. Sub-temanya: Erase the Waste, Create the Change. Mereka tidak hanya bicara kebersihan. Mereka bergerak ke TPA Supit Urang. Melihat langsung bagaimana 100 ton lebih sampah masuk ke sana setiap hari.
Pulang dari TPA, mereka tidak mengeluh bau. Mereka justru berpikir: sampah dapur sekolah mau diapakan?
Sekolah pun totalitas. Tak tanggung-tanggung. Tiga profesor dan dua doktor dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) didatangkan. Plus 15 mahasiswa. Anak-anak SMP ini dikepung oleh para pakar.
Hasilnya? Luar biasa. Ampas teh yang biasanya dibuang, disulap jadi gantungan kunci cantik. Kulit buah diolah jadi eco-enzyme. Bisa untuk pembersih lantai, bisa untuk parfum ruangan. Ilmiah. Tapi juga artistik.
Lain lagi kelas 8. Mereka lebih peduli pada urusan perut. Temanya: Stay Healthy for a Better Life.
Latar belakangnya serius: banyak remaja sekarang kena diabetes dan gagal ginjal. Gara-gara pola makan berantakan. Maka, anak-anak ini berubah jadi detektif makanan. Mereka bawa sampel jajanan ke Laboratorium Terpadu Unisma. Di bawah bimbingan Ibu Athiroh, mereka menguji: mana yang pakai boraks? Mana yang pakai pewarna tekstil?
”Mereka jadi tahu alasannya kenapa tidak boleh makan sembarangan. Karena data laboratorium tidak pernah bohong,” tegas Ibu Endah.
Sebagai solusinya, mereka menciptakan menu sendiri. Ada smoothies tanpa gula. Ada es krim sehat bernama Bansfrosty. Ada juga oatmeal raisin cookies. Enak, tapi tetap aman buat ginjal.
Semua proses ini—mulai dari brainstorming, riset, uji lab, sampai pengemasan—hanya dilakukan dalam waktu dua minggu. Singkat. Padat. Mengesankan.
Melihat ekspo ini, saya merasa masa depan sains kita ada harapan. Anak-anak ini tidak hanya diajarkan menghafal rumus. Mereka diajarkan mencari masalah, lalu menemukan solusinya melalui data.
Itulah simfoni yang sebenarnya. Antara kecerdasan otak, kepedulian lingkungan, dan kesehatan tubuh.
Di SMP Insan Amanah, sains bukan lagi hantu yang menakutkan. Tapi sebuah karya seni yang menyenangkan. (*)





