IDEAJATIM.ID ,SIDOARJO – Empat generasi menjadi bukti panjangnya perjalanan Klepon Hj. Nunuk di Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo.
Di tengah harga bahan pokok yang terus naik, kuliner tradisional ini tetap bertahan dan menjaga cita rasa yang membuatnya dikenal hingga sekarang.
Klepon Hj. Nunuk bukan sekadar jajanan pasar. Bagi pelanggan, makanan berbahan dasar tepung ketan dengan isian gula merah tersebut telah menjadi bagian dari kuliner khas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Memasuki generasi keempat, usaha ini tetap mempertahankan klepon sebagai produk utama. Resep dan karakter rasa menjadi bagian penting yang dijaga agar tidak berubah meski zaman terus berkembang.
Tantangan terbesar justru datang dari biaya produksi. Harga sejumlah bahan pokok yang mengalami kenaikan ikut berdampak pada biaya pembuatan klepon. Mulai dari bahan utama hingga kelapa dan gula sebagai pelengkap, semuanya membutuhkan biaya yang harus diperhitungkan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Klepon Hj. Nunuk berhenti berproduksi. Usaha keluarga ini memilih terus berjalan dengan melakukan penyesuaian agar kualitas tetap terjaga dan pelanggan tetap mendapatkan rasa yang sama.
“Sekarang sudah generasi keempat. Kami berusaha mempertahankan apa yang sudah dirintis sejak dulu. Walaupun harga bahan pokok naik, usaha ini tetap kami jalankan,” ujar pengelola Klepon Hj. Nunuk. Minggu, (20/9).
Harga yang ditawarkan pun cukup beragam. Pelanggan bisa mendapatkan Klepon Hj. Nunuk mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu, menyesuaikan pilihan dan ukuran pesanan.
Harga tersebut membuat klepon tetap bisa dinikmati berbagai kalangan. Selain pembelian untuk konsumsi sendiri, klepon juga kerap menjadi pilihan untuk suguhan maupun buah tangan.
Keberlangsungan hingga empat generasi menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah banyaknya kuliner modern, Klepon Hj. Nunuk tetap mengandalkan kekuatan resep tradisional dan konsistensi rasa.
Bagi usaha keluarga seperti ini, bertahan bukan hanya soal keuntungan. Ada warisan kuliner yang ingin terus dijaga. Generasi keempat kini melanjutkan perjalanan yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Klepon Hj. Nunuk pun menjadi gambaran bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
“Kenaikan harga bahan pokok menjadi tantangan, tetapi bukan alasan untuk meninggalkan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga besar kami selama beberapa generasi,” ujar Hj. Nunuk.
Dari Bulang, Prambon, Sidoarjo, aroma klepon dan gula merah masih terus dipertahankan. Sederhana, tradisional, tetapi mampu bertahan hingga generasi keempat. (red).





