KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Siapkan Kepemimpinan Baru Periode 2026–2031; Kementan Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan

IDEA JATIM, BATU — Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menggelar Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 di Kota Batu, Jawa Timur, sebagai momentum menentukan arah organisasi dan kepemimpinan baru untuk periode 2026–2031. Forum ini berlangsung bersamaan dengan KTNA Agro Expo 2026 pada 18–21 September 2026 dan diikuti sekitar 2.500 delegasi dari berbagai daerah di Indonesia.

KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Siapkan Kepemimpinan Baru Periode 2026–2031; Kementan Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan 1
KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Siapkan Kepemimpinan Baru Periode 2026–2031; Kementan Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan 2
KTNA Gelar Rembug Paripurna di Batu, Siapkan Kepemimpinan Baru Periode 2026–2031; Kementan Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan 3

Rembug Paripurna berlangsung di tengah berbagai tantangan zaman yang terus berkembang dan memengaruhi masa depan petani dan nelayan di Indonesia.
Sekertaris Kementrian Pertanian, Jendral Dr. Ir. Suwandi., M.Sc secara resmi membuka acara Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional serta Agro Expo 2026 yang diselenggarakan di Kota Batu.

Di hadapan ribuan pengurus dan anggota KTNA dari berbagai tingkat wilayah, Seskentan menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini berada dalam posisi terbaiknya berkat sinergi yang solid antara pemerintah, penyuluh, dan para petani.

Dalam sambutannya, Suwandi menyampaikan salam dan apresiasi dari Menteri Pertanian atas suksesnya penyelenggaraan Pekan Nasional (Penas) KTNA serta mengucapkan selamat atas terselenggaranya Rembug Paripurna KTNA Nasional dan Agro Expo tahun ini.

Suwandi mengungkapkan bahwa keberhasilan pencapaian swasembada pangan dalam kurun waktu satu tahun terakhir merupakan buah dari kerja keras bersama dan kepemimpinan yang efektif. Dengan kondisi lahan, komoditas, dan anggaran yang relatif sama, sektor pertanian nasional mampu mencatatkan lonjakan produksi beras sebesar 4 juta ton atau naik sekitar 12 persen.

“Tidak hanya padi, pencapaian swasembada ini juga mencakup delapan komoditas strategis lainnya yang telah dipidatokan oleh Presiden dalam sidang kenegaraan di DPR. Komoditas tersebut meliputi beras, cabai merah, cabai keriting, bawang merah, telur ayam, daging ayam, hingga gula, serta pemenuhan pakan yang kini tidak lagi bergantung pada impor. Capaian ini turut divalidasi oleh data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) serta selaras dengan rilis lembaga internasional seperti FAO dan USDA,” ungkapnya.

Dampak positif dari peningkatan produksi ini juga tercermin pada indikator hilir perekonomian nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh tinggi mencapai 5,7 persen, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) dan tanaman pangan terus menunjukkan tren positif, mencapai angka tertinggi di tahun 2025 sebesar 124. Selain itu, angka kemiskinan di perdesaan dan kemiskinan total tercatat turun, diiringi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian.

Keberhasilan ini, menurut Dr. Suwandi, tidak lepas dari diterbitkannya 23 regulasi pendukung oleh pemerintah, termasuk perpres dan inpres yang mengatur tata kelola pupuk bersubsidi, penataan kelembagaan penyuluh pertanian, hingga penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Kebijakan harga ini diberlakukan untuk melindungi kesejahteraan petani di tingkat hulu sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen di tingkat hilir.

Dalam kesempatan yang sama, Suwandi menyoroti dinamika tata niaga beras di pasaran. Ia menjelaskan bahwa petani berada pada posisi price taker (penerima harga) saat menjual gabah kepada pengepul atau penggilingan, sementara konsumen juga bertindak sebagai penerima harga di pasaran. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen mengawasi rantai pasok agar tidak terjadi disparitas harga yang merugikan petani maupun konsumen.

“Pemerintah juga mengimbau seluruh jajaran KTNA dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan ketelitian dalam membeli produk pangan, menyusul temuan Kementerian Pertanian terkait pengawasan beras fortifikasi di pasaran. Pengawasan tahap kedua ini dilakukan setelah ditemukan adanya ketidaksesuaian antara label kemasan dan kandungan mutu di dalam produk beras fortifikasi tertentu yang beredar,” kata Suwandi.

Melalui ajang KTNA Agro Expo 2026 ini, Kementerian Pertanian berharap para petani, nelayan, dan penyuluh dapat terus memperkuat koordinasi, meningkatkan produktivitas, serta mengawal ketahanan pangan nasional menuju swasembada yang berkelanjutan.

Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M.H turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Rembug Paripurna KTNA Nasional Tahun 2026 dan Agro Expo menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas dipilihnya Kota Batu sebagai tuan rumah agenda nasional tersebut. Ia menekankan bahwa kehadiran keluarga besar KTNA di Kota Batu terasa sangat istimewa karena masyarakat setempat tumbuh dan hidup dari hasil bumi.

“Kami menyambut Bapak-Ibu bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai sesama daerah pertanian yang sama-sama memahami arti penting menjaga tanah dan kehidupan petani,” ujar Nurochman.

Cak Nur sapaan Wali Kota Batu juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini, termasuk di Kota Batu sendiri yang identik dengan komoditas apel. Qqqqqq1Tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, tanaman yang menua, tekanan terhadap lahan pertanian, kualitas tanah, hingga persoalan regenerasi petani muda.

Menurutnya, menjadi seorang petani bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pilihan hidup yang penuh risiko, mulai dari ketergantungan pada cuaca, ancaman gagal panen, hingga ketidakpastian pasar. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pembangunan pertanian harus berorientasi pada manusia yang menggantungkan hidup di dalamnya.

“Menghadapi dinamika zaman, Pemerintah Kota Batu mulai mendorong penerapan Smart and Integrated Farming. Teknologi dinilai harus dimanfaatkan untuk membantu petani bekerja lebih efektif, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kualitas hasil tanpa meninggalkan kearifan lokal,” bebernya.

Selain peningkatan produksi, Pemkot Batu juga berfokus pada penguatan kelembagaan dan akses pasar melalui program CooSAE. Langkah ini diambil guna memperkuat posisi tawar petani agar nilai tambah dari hasil pertanian dapat kembali secara optimal kepada para petani itu sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota mengingatkan bahwa pencapaian swasembada pangan tidak boleh sekadar diukur dari jumlah kuantitas produksi.

“Kita juga harus bertanya apakah petaninya sejahtera? Apakah lahannya tetap terjaga? Apakah anak-anak muda mau meneruskan? Dan apakah hasil pertanian memiliki pasar yang memberikan nilai yang layak bagi mereka? Karena pada akhirnya, pangan yang kuat harus dibangun dari petani yang juga kuat,” tegasnya.

Melalui Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 ini, Wali Kota Batu berharap para peserta dari seluruh penjuru Indonesia dapat saling bertukar pengalaman, mempertemukan gagasan, dan merumuskan langkah nyata demi mewujudkan pertanian Indonesia yang semakin maju, adaptif, dan menyejahterakan.

Ketua Umum KTNA Nasional periode berjalan, Muhammad Yadi Sofyan Noor, mengatakan penguatan peran petani dan nelayan perlu berjalan seiring dengan penguatan organisasi sebagai wadah komunikasi, pembelajaran, dan kolaborasi antarpelaku agribisnis.

“KTNA harus mampu menjawab tantangan zaman dengan memastikan petani dan nelayan tidak berjalan sendiri menghadapi perubahan teknologi, iklim, pasar, maupun kebutuhan konsumen. Rembug Paripurna menjadi momentum penting untuk menyatukan pandangan dan merumuskan langkah organisasi ke depan. Kami ingin KTNA semakin kuat sebagai wadah yang menyuarakan kepentingan petani dan nelayan,”
Agenda utama Rembug Paripurna berlangsung pada Minggu, 20 September 2026.

Peserta akan membahas pengesahan agenda dan quorum, tata tertib, serta musyawarah tiga komisi, yakni Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi.
Forum kemudian dilanjutkan dengan pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus, proses demisioner, serta seleksi bakal calon Ketua Umum KTNA Nasional. Puncaknya adalah pemilihan dan penetapan Ketua Umum KTNA Nasional periode 2026–2031, yang dilanjutkan dengan pembentukan tim formatur dan penyusunan kepengurusan baru.

Bersamaan dengan Rembug Paripurna, KTNA Agro Expo 2026 menghadirkan ruang interaksi antara petani dan nelayan dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta pelaku industri pendukung agribisnis.

Pameran tahun ini menghadirkan 40 booth, terdiri atas 30 booth perusahaan dan 10 booth UMKM. Sebanyak 26 booth menggunakan stand standard dalam tenda roder, sementara 14 lainnya menggunakan tenda sarnafil. Jumlah pengunjung ditargetkan mencapai sekitar 5.000 orang, di luar delegasi KTNA.

Sejumlah perusahaan nasional dan multinasional turut berpartisipasi, antara lain PT Triangle Motorindo, PT Raja Ampat Indotim, PT Saprotan Utama Nusantara, PT Syngenta Indonesia, PT Delta Giri Wacana, PT Karya Delitama Prima Persada, PT Yanmar Diesel Indonesia, CV Phonna Raya Machinery, dan CropLife Indonesia. Dari unsur BUMN terdapat Perum Bulog dan Pupuk Indonesia.

Materi pameran mencakup produk olahan pertanian, perikanan dan kehutanan, sarana produksi seperti benih, pupuk dan pakan, alat dan mesin pertanian, hasil riset, teknologi tepat guna, hingga produk jasa keuangan bagi pelaku agribisnis. Rangkaian acara juga diisi talk show, demo dan presentasi produk maupun teknologi, perlombaan, pagelaran seni budaya, serta Festival Pangan Lokal.
Panitia Ajak Anggota KTNA Aktif dalam Rembug

Ketua Panitia Pelaksana KTNA, Otong Wiranata mengatakan, keberhasilan Rembug Paripurna dan Agro Expo tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga partisipasi anggota KTNA dari tingkat pusat hingga daerah.

“Kami mengajak seluruh anggota KTNA untuk bersama-sama menyukseskan Rembug Paripurna dan KTNA Agro Expo 2026. Ini bukan hanya agenda panitia, tetapi agenda bersama seluruh keluarga besar KTNA. Kami berharap peserta dapat aktif dalam musyawarah, membangun jejaring, serta memanfaatkan Agro Expo sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman dan peluang kerja sama. Dari Kota Batu, kami berharap lahir semangat baru untuk memperkuat KTNA dan sektor agribisnis Indonesia ke depan,” urainya.

Sebagai penyelenggara, PT Fery Agung Corindotama (Feraco) menerjemahkan visi KTNA ke dalam pengelolaan area pameran, ruang presentasi, komunikasi visual, serta elemen branding yang mendukung visibilitas peserta dan mitra.

Direktur Feraco, Ruslim, mengatakan desain penyelenggaraan diarahkan untuk membuat Agro Expo tidak hanya menjadi ruang display, tetapi juga pengalaman yang mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem agribisnis.

“Bagi kami, penyelenggaraan event bukan hanya bagaimana sebuah acara berjalan dengan baik secara teknis, tetapi bagaimana pesan dan identitas acara dapat tersampaikan dengan kuat kepada setiap pengunjung. KTNA Agro Expo memiliki ekosistem yang sangat luas, mulai dari petani dan nelayan, pemerintah, pelaku usaha, teknologi, lembaga keuangan hingga masyarakat. Karena itu, kami berupaya membangun pengalaman event yang mampu mempertemukan seluruh stakeholder tersebut sekaligus memberikan ruang bagi produk, inovasi dan potensi agribisnis Indonesia untuk tampil secara lebih kuat,” paparnya.

“Ketika sebuah event mampu mempertemukan potensi daerah, inovasi, dunia usaha dan para pelaku di lapangan, maka nilainya lebih jauh daripada sekadar pameran. Kami berharap interaksi yang terbangun di Kota Batu dapat berkembang menjadi jejaring dan peluang kolaborasi setelah acara selesai,” imbuh Ruslim.

Rangkaian kegiatan akan berlanjut hingga Senin, 21 September 2026. Pada hari terakhir, agenda meliputi pengumuman hasil penilaian Tim Agro Expo, sambutan Ketua Umum KTNA Nasional, serta sambutan Wali Kota Batu Nurochman selaku tuan rumah sekaligus penutupan Rembug Paripurna dan Agro Expo KTNA 2026.

Penyelenggara berharap hasil Rembug Paripurna di Kota Batu tidak berhenti pada proses pergantian kepemimpinan, tetapi menghasilkan arah organisasi dan rekomendasi yang konkret untuk memperkuat posisi petani dan nelayan dalam menghadapi tantangan agribisnis nasional pada periode mendatang. (*)

Penulis

Berita Terkini

FBiPK UB dan Faculty of Educational Studies UPM Perkuat Ekosistem Pendidikan Global

IDEA JATIM, ​MALANG — Kemitraan strategis antara Universitas Brawijaya...

SMPK Frateran Celaket 21 Malang Gelar Pesta Demokrasi Pemilihan Ketua OSIS 2026–2027

IDEA JATIM, MALANG – Suasana di hall terbuka SMP...

HARAPAN KELUARGA KEMBALI MENYALA, PENYELAM BASARNAS TEMUKAN SATU KORBAN KM VIRGO TRANSPORT 8

IDEAJATIM - Di tengah operasi pencarian yang terus berlangsung,...
spot_img
Berita Terkait
spot_imgspot_img