Oleh: Moh Zidan Akbari
Siswa SMAN 2 Kota Batu
Pernah tidak, kita merasa gatal sekali ingin membalas komentar orang di Instagram hanya karena pendapatnya beda dengan kita? Atau mungkin, tanpa sadar kita ikut-ikutan me-retweet sebuah utas di Twitter (sekarang X) yang sedang viral, menghujat seseorang, padahal kita belum tahu duduk perkaranya secara utuh?
Kalau pernah, tenang saja, kalian tidak sendirian. Kita hidup di zaman yang aneh. Di satu sisi, teknologi bikin kita makin pintar karena akses informasi jadi tidak terbatas. Tapi di sisi lain, teknologi juga sering bikin kita lupa diri. Dulu, orang tua kita punya pepatah sakti: “Mulutmu, harimau-mu.”
Sekarang? Pepatah itu berevolusi jadi lebih mengerikan: “Jarimu, harimau-mu.”
Sebagai sesama pelajar, mari kita bicara jujur. Kita sering menganggap dunia maya itu dunia “kedua.” Tempat di mana kita bisa jadi siapa saja, ngomong apa saja, tanpa perlu takut kena marah guru BK atau ditatap sinis oleh tetangga. Tapi, benarkah begitu?
Tamparan Keras dari Data
Suka tidak suka, kita harus melihat fakta. Indonesia itu keren soal jumlah pengguna internetnya. Bayangkan, data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 bilang kalau hampir 80 persen penduduk kita sudah terkoneksi internet.
Kalau kita bedah lagi ke kelompok umur kita—Gen Z—angkanya makin gila, tembus 87 persen lebih. Artinya, hampir mustahil ada teman sekelas kita yang tidak punya akun medsos. Tapi kuantitas ini sayangnya tidak barengan sama kualitas.
Masih ingat survei Microsoft beberapa tahun lalu yang bikin heboh? Yang bilang kalau netizen Indonesia itu paling tidak sopan se-Asia Tenggara? Sakit sih mendengarnya, rasanya tidak terima. Tapi coba deh buka kolom komentar akun berita atau akun gosip viral hari ini.
Isinya? Body shaming, caci maki, debat kusir yang tidak ada ujungnya, sampai sumpah serapah. Dan yang bikin miris, pelakunya banyak yang masih pakai seragam putih abu-abu di foto profilnya. Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) tahun 2024 bahkan mencatat lonjakan kasus kekerasan di sekolah sampai ratusan kasus, dan banyak di antaranya dipicu dari cyberbullying atau saling ejek di grup WhatsApp.
Ini bukti kalau ketikan jari kita itu punya dampak nyata, bahkan bisa bikin orang lain celaka secara fisik.
Kenapa Kita Jadi “Jagoan Kandang”?
Kenapa sih, anak yang kalau di kelas pendiam, sopan sama guru, tapi begitu megang HP bisa berubah jadi garang banget di kolom komentar?
Dalam psikologi, ada istilah keren namanya Online Disinhibition Effect. Simpelnya begini: layar HP itu bikin kita merasa punya “tameng.”Kita merasa aman karena tidak bertatap muka langsung sama orang yang kita ajak bicara. Kita tidak melihat ekspresi sedih mereka saat membaca komentar jahat kita. Akibatnya, rasa empati kita tumpul. Kita lupa kalau di balik akun username aneh itu, ada manusia beneran yang punya perasaan.
Ditambah lagi, algoritma medsos sering menjebak kita di “kamar gema” (echo chamber). Kita cuma disuguhi konten yang kita suka. Begitu ada pendapat beda sedikit, kita kaget dan langsung nge-gas. Kita jadi generasi yang gagap diskusi, maunya menang sendiri, dan susah menerima perbedaan. Padahal, esensi sekolah kan mengajarkan kita buat berpikir kritis, bukan berpikir anarkis.
Jejak Digital Itu Tato Permanen
Ini yang paling sering kita remehkan. Kita pikir, “Ah, kalau postingan ini kontroversial, tinggal hapus. Beres kan?”
Salah besar. Internet itu tidak punya tombol delete yang sesungguhnya. Apa yang sudah kita unggah, biarpun Cuma satu menit, bisa saja sudah di-screenshot orang lain, disimpan di server, atau diarsipkan oleh mesin pencari.
Coba bayangkan skenario ini: Lima tahun lagi, kalian lulus kuliah. Kalian melamar kerja di perusahaan impian atau melamar beasiswa S2 ke luar negeri. Pewawancara kalian tidak Cuma lihat CV, tapi mereka googling nama kalian. Lalu, yang muncul bukan prestasi kalian, melainkan jejak komentar kasar, rasis, atau penyebaran hoaks yang kalian lakukan saat gabut di jam kosong waktu SMA.
Gagal diterima kerja Cuma gara-gara status alay sepuluh tahun lalu? Itu sudah banyak kejadiannya. Reputasi yang dibangun susah payah bisa hancur Cuma gara-gara jempol yang “kebablasan.”
Seni Menahan Diri: Rumus T.H.I.N.K
Terus harus bagaimana dong? Apa kita harus berhenti main medsos dan balik kirim surat pakai merpati pos? Ya tidak begitu juga konsepnya. Kita tidak bisa menolak teknologi, tapi kita bisa mengendalikannya. Kuncinya ada di “rem pakem” di kepala kita.
Sebelum jempol kalian menekan tombol send atau post, coba berhenti dulu tiga detik. Tarik napas, dan pakai rumus sederhana yang disebut T.H.I.N.K.
Pertama, True (Benar). Info yang mau kalian share ini fakta atau Cuma katanya-katanya? Kalau C dapat dari grup keluarga tanpa sumber jelas, mending simpan sendiri. Jangan jadi kurir hoaks.
Kedua, Helpful (Bermanfaat). Komentar kalian ini bikin suasana adem atau malah nambah keruh? Kalau isinya Cuma nyinyir tidak jelas, mending diam. Ingat, diam itu emas kalau bicara Cuma bikin masalah.
Ketiga, Inspiring (Menginspirasi). Sekali-kali jadi influencer kebaikan lah. Tidak harus jadi motivator, cukup dengan tidak menyebar kebencian, kalian sudah menginspirasi orang lain buat beradab.
Keempat, Necessary (Penting). Ini saringan paling ampuh. Perlu tidak sih kita komentari semua hal? Ada kalanya kita cukup jadi penimak saja (Silent Reader). Tidak semua isu butuh opini kita, apalagi kalau kita tidak paham masalahnya.
Terakhir dan terpenting, Kind (Santun). Ini patokannya: Kalau kalian tidak berani ngomong kalimat itu di depan muka orangnya langsung sambil natap matanya, berarti jangan tulis itu di medsos.(*)




