Di atas kertas, paralayang adalah olahraga kaum elite. Bayangkan saja, untuk sepasang sayap kain nilon, harness (sabuk pengaman), helm, dan parasut cadangan, seseorang harus merogoh kocek minimal Rp 60 juta.
Angka yang bagi sebagian besar anak muda di pelosok Nusantara yang mungkin paginya harus mengarit rumput atau berjualan sayur bagaikan mimpi yang menggantung terlalu tinggi di awan.
Namun, bagi Haris Effendy, langit tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang berkantong tebal saja.

Lelaki kelahiran Banyuwangi, 8 April 1982 yang kini menetap di Desa Junrejo, Kota Batu ini, punya cara sendiri untuk membumikan olahraga kedirgantaraan tersebut. Selama belasan tahun, bersama kolega setianya Syamsul Hadi, Haris berkeliling dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia.
Misinya tunggal namun ambisius yaitu membuka ruang udara baru bagi anak-anak desa, melahirkan atlet berprestasi, sekaligus memicu roda ekonomi warga lokal melalui pariwisata berbasis petualangan.

Hingga tahun 2026 ini, tercatat sudah 13 tempat paralayang baru di berbagai pelosok daerah yang berhasil mereka rintis. Semuanya dimulai dari sebuah ketetapan hati pada tahun 2013 di Sumbawa.
Membuka take-off area dan landing zone baru tidak semudah membiarkan parasut mengembang ditiup angin. Tantangan terbesar Haris justru bukan datang dari rumitnya birokrasi pemerintahan, melainkan dari meja-meja kayu di balai desa dan warung kopi tempat warga berkumpul.
Sebagai staf PPPK Paruh Waktu di Dinas Pariwisata Kota Batu, Haris paham betul cara menyusun cetak biru (blue print) pembangunan untuk meyakinkan kepala daerah atau dinas terkait. Namun, menghadapi masyarakat lokal yang skeptis adalah seni yang berbeda.
“Mengedukasi masyarakat itu bagian paling menantang. Kami harus datang berkali-kali, duduk bersama, dan menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana bahwa angin dan tebing di desa mereka bisa menghasilkan uang,” kenang Haris, yang telah mengabdi selama 21 tahun mengharumkan nama Kota Batu di dunia paralayang.

Haris harus meyakinkan para tetua adat dan pemuda setempat bahwa kehadiran parasut-parasut warna-warni di langit mereka bukan sekadar hiburan orang kota. Itu adalah pemantik (trigger) ekonomi. Di mana ada paralayang, di sana akan tumbuh warung kopi, penginapan, pemandu wisata, hingga perputaran uang dari event olahraga.
Daftar jejak langkah Haris dan Syamsul kini membentang panjang. Mulai dari kawasan Malang Selatan, Sumenep, Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Bima, Alor, Pacitan, hingga merambah ke Lembata, SOE Timor Tengah Selatan di Flores, Singkawang, Situbondo, dan yang paling gres di Sambora, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Ada satu prinsip sakral yang selalu dipegang teguh oleh Haris setiap kali ia selesai mensurvei kelayakan angin dan keamanan suatu wilayah, tanah ini harus tetap milik desa. Mengingat di tengah gempuran komersialisasi wisata yang kerap meminggirkan warga lokal, Haris tampil sebagai tameng.
Ia selalu meminta, bahkan mendesak agar destinasi wisata paralayang yang dibukanya dikelola secara mandiri oleh Pemerintah Desa (Pemdes) melalui BUMDes, bukan dijual kepada investor luar.
“Saya selalu tekankan, jangan sampai aset ini lepas. Boleh bekerja sama dengan investor, tapi dengan syarat mutlak: jangka waktunya jelas dan minimal 70 persen pekerja di sana harus warga lokal,” tegas Haris dengan nada serius.
Strategi ini bukan bualan kosong. Haris mencontohkan salah satu lokasi yang mereka rintis di Pacitan. Kini, destinasi tersebut mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga Rp 600 juta per bulan. Angka yang fantastis untuk sebuah desa yang dulunya mungkin sepi dan luput dari perhatian.
Dampak paling mengharukan dari misi sosial ini adalah berubahnya garis nasib anak-anak muda di daerah. Sentuhan dingin Haris berhasil mendobrak stigma bahwa paralayang hanya untuk orang kaya. Melalui pemanfaatan anggaran desa dan bantuan pemerintah pusat yang jeli mereka akses, peralatan mahal itu akhirnya bisa dibeli secara kolektif oleh komunitas desa.
Kini, pemandangan unik kerap terjadi di berbagai daerah tempat Haris membuka jalur.
“Ada anak muda yang dulunya kerja serabutan, sekarang punya profesi bergengsi sebagai penerbang tandem. Pagi hari dia jualan sayur ke pasar, siang harinya dia sudah memakai harness dan membawa wisatawan terbang di angkasa,” cerita Haris bangga.
Bukan hanya menjadi pemandu wisata (tandem master), beberapa anak muda pelosok yang awalnya awam ini bahkan sudah menembus jajaran atlet yang berlaga di kompetisi tingkat nasional.
Hebatnya, seluruh keringat, waktu, dan keahlian yang dicurahkan Haris Effendy bersama Syamsul Hadi untuk membuka 13 spot paralayang tersebut dilakukan secara gratis. Mereka tidak memungut biaya sepeser pun dari pihak desa atau pemda setempat atas jasa konsultasi dan survei ekstrem yang mereka lakukan. Semuanya murni dijalankan sebagai misi sosial kemanusiaan.
Profesionalitas Haris yang tinggi membuat namanya harum. Tak jarang, Pemerintah Daerah, Pemprov, hingga perusahaan swasta besar di luar Jawa merayunya dengan tawaran gaji besar dan posisi mapan agar ia mau pindah dan menetap mengembangkan wisata di sana.
Terbaru, ia harus membagi waktu dengan ketat meminta surat tugas dari Pemkot Batu demi membantu persiapan venue paralayang di Sambora, Mempawah, untuk ajang PON dan Porprov. Namun, seberapa pun besarnya tawaran finansial yang datang mengetuk pintunya, Haris selalu menggelengkan kepala.
Bagi pahlawan lokal dari Kota Batu ini, kekayaan tidak melulu soal digit di rekening bank.
“Kalau buka tempat, kami memang tidak minta biaya. Hidup ini sudah terasa penuh dan cukup bagi saya ketika keberadaan kita bisa bermakna dan memberi manfaat nyata bagi sesama,” pungkasnya lirih, menutup perbincangan sembari menatap langit tempat di mana ia selalu menemukan kebebasan dan kebahagiaan untuk dibagikan kepada dunia. (*)





