Beranda blog Halaman 6

Tim SAR Gabungan Berhasil Temukan Attaya di Pantai Sine Tulungagung

0

IDEA JATIM, TULUNGAGUNG – Upaya pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan, baik melalui jalur laut dan darat, sejak dua hari sebelumnya, akhirnya berhasil menemukan Muhammad Attaya Ulun (20) di perairan Pantai Sine.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit P.H., selaku SMC mengatakan, korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal. Penemuan korban ini berawal dari informasi dari personel potensi SAR mengenai adanya jenazah di sisi karang.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim SAR gabungan segera mengirimkan personel ke lokasi untuk memastikan informasi sekaligus mengevakuasi korban.

“Setelah dipastikan benar, tim langsung melaksanakan evakuasi. Proses evakuasi berjalan lancar,” ujar Nanang.

Setibanya di darat, jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari petugas yang berwenang.

Sebelumnya, dalam merespon laporan kejadian tenggelamnya korban ini, SMC telah mengerahkan satu tim rescue Pos SAR Trenggalek guna membantu upaya pencarian bersama potensi SAR di wilayah setempat.

Pencarian dilakukan secara intensif dengan mengerahkan dua SRU air. SRU air pertama melakukan penyisiran di permukaan perairan menggunakan perahu karet dengan cakupan area pencarian seluas 1,43 mil laut. Sementara itu, SRU air kedua melakukan upaya pencarian di bawah air melalui penyelaman di sekitar lokasi kejadian.

Koordinator Pos SAR Trenggalek, Bayu Prasetyo S.E., menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan pencarian bawah air, tim penyelam menghadapi sejumlah kendala, terutama terbatasnya jarak pandang di dalam air.

“Kondisi visibilitas yang rendah menjadi tantangan utama bagi penyelam saat melakukan pencarian di bawah permukaan,” ujarnya.

Di saat yang bersamaan, tim SAR gabungan juga mengerahkan sejumlah personel untuk melakukan penyisiran dan pengamatan visual di sepanjang pesisir Pantai Sine. Selain itu, informasi terkait kejadian tenggelamnya korban disebarluaskan kepada warga dan nelayan sekitar agar segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Upaya pencarian hingga proses evakuasi korban melibatkan berbagai pihak, antara lain tim rescue Pos SAR Trenggalek, BPBD Kabupaten Tulungagung, Pos TNI AL Popoh, Satpolairud Popoh, Polsek Kalidawir, Koramil Kalidawir, BAGANA,warga dan nelayan setempat, serta sejumlah potensi SAR lainnya. (*)

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Lamong

0

IDEA JATIM, LAMONGAN – Tim SAR Gabungan telah menemukan korban tenggelam atas nama Nakula (14) yang tenggelam di Sungai Lamong Ds. Kreteranggon Kec. Sambeng Kab. Lamongan dengan jarak ±14,6 km dari lokasi awal.

Tim SAR

“Sekitar pukul 11.00 tim menerima laporan adanya penemuan jenazah di sungai oleh warga Desa Talun dan tim SAR gabungan menuju lokasi untuk mengevakuasi korban” jelas Nanang Sigit P. H., S.IP., M.M., Kepala Kantor SAR Surabaya, selaku SAR Mission coordinator (SMC).

Jenazah korban yang telah dievakuasi kemudian dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Tim SAR

Sebelumnya, pada pukul 07.00 WIB, Tim SAR Gabungan melaksanakan apel pagi yang diikuti oleh 40 lebih personil gabungan dari BASARNAS, TNI-POLRI, BPBD Lamongan, Damkar Lamongan, PMI Lamongan, SAR MTA, TSA GERPIK, RAPI, ORARI, FPRB Mojokerto, dan masyarakat.

Pencarian dilakukan dengan mengerahkan 4 Perahu Karet yang melakukan penyisiran di sungai serta tim darat yang melakukan pemantauan di Jembatan Babadan dan Jembatan Brangkal.

Dengan telah ditemukannya korban, operasi pencarian dan pertolongan dinyatakan selesai dan seluruh unsur yang terlibat kembali ke satuan masing-masing. (*)

Tim SAR Gabungan Berhasil Temukan Korban Tenggelam di Perairan Dermaga Jamrud Selatan

0

IDEA JATIM, SURABAYA – Tim SAR gabungan menemukan Kasbi (68), korban tenggelam di perairan Dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (2/2/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit P.H. selaku SMC menjelaskan, tim SAR gabungan menemukan korban sudah dalam kondisi meninggal di lokasi yang berjarak sekitar 1 mil laut dari lokasi kejadian.

Proses evakuasi jenazah berlangsung lancar. Setelah dievakuasi ke darat, jenazah korban dibawa ke RS PHC untuk penanganan lebih lanjut oleh petugas berwenang.

Dalam merespon laporan kejadian tersebut, SMC mengerahkan satu tim penyelam dari Kantor SAR dan 1 tim dari KN SAR yang melakukan pencarian permukaan air di sekitar lokasi kejadian dengan menggunakan rigid inflatable boat (RIB).

Selain penyisiran permukaan, Kantor SAR Kelas A Surabaya juga menurunkan satu 3 orang penyelam dibantu 1 orang personel penyelam dari BPBD kota Surabaya untuk melakukan pencarian bawah air di sekitar titik awal korban diduga tenggelam.

“Pencarian bawah air menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas. Meski demikian, tim SAR tetap berupaya maksimal dengan mengombinasikan penyelaman dan penyisiran permukaan,” ujar Nanang.

Keberhasilan operasi SAR ini berhasil berkat kerjasama yang baik dari berbagai unsur, antara lain tim rescue Kantor SAR Kelas A Surabaya, TKBM Tanjung Perak, KSOP Utama Tanjung Perak, Pelindo III Tanjung Perak, KPLP Tanjung Perak, unsur TNI AL, Polairud Mabes Polri, Ditpolairud Polda Jawa Timur, Polres Pelabuhan Tanjung Perak, BPBD Kota Surabaya, Satpol PP Kota Surabaya, RS PHC, serta unsur SAR terkait lainnya. (*)

Screen Time Anak dan Tantangan Konsentrasi di Era Serba Layar

0

IDEA JATIM, Layar digital hadir di hampir setiap aspek kehidupan modern. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi gawai, televisi, dan berbagai perangkat visual interaktif. Screen time pun menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Tantangannya bukan sekadar berapa lama anak menatap layar, melainkan bagaimana paparan tersebut memengaruhi kemampuan konsentrasi, emosi, dan kebiasaan belajar anak.

Memahami screen time secara utuh membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih tepat dan seimbang.

Screen Time sebagai Stimulus Sensorik

Layar memberikan rangsangan visual dan audio yang cepat dan berulang. Bagi otak anak yang masih berkembang, stimulus ini terasa menarik sekaligus menantang. Paparan berlebihan dapat membuat otak terbiasa dengan kecepatan tinggi, sehingga anak kesulitan fokus pada aktivitas yang menuntut perhatian lebih lama, seperti membaca atau menyimak.

Namun, dalam dosis dan konteks yang tepat, screen time juga dapat menjadi sumber stimulasi yang bermanfaat.

Hubungan Screen Time dan Pola Konsentrasi

Konsentrasi bukan kemampuan bawaan, melainkan keterampilan yang dibentuk melalui kebiasaan. Screen time yang tidak terarah dapat mengganggu proses ini, terutama jika anak terbiasa berpindah konten dengan cepat tanpa jeda refleksi.

Sebaliknya, screen time yang terstruktur—misalnya untuk aktivitas edukatif atau kreatif—dapat melatih fokus, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir visual.

Peran Orang Tua dalam Mengelola Paparan Layar

Orang tua memegang peran sentral dalam mengelola screen time anak. Bukan hanya dengan menetapkan batasan waktu, tetapi juga dengan memahami isi dan tujuan penggunaan layar.

Pendampingan aktif membantu anak belajar memilah konten, memahami dampaknya, dan membangun kesadaran diri dalam menggunakan teknologi.

Kualitas Interaksi Lebih Penting daripada Durasi

Sering kali diskusi tentang screen time terjebak pada angka durasi. Padahal, kualitas interaksi anak dengan layar jauh lebih menentukan. Menonton bersama, berdiskusi tentang konten, atau mengaitkan tayangan dengan kehidupan nyata dapat memperkaya pengalaman belajar anak.

Pendekatan ini mengubah layar dari aktivitas pasif menjadi sarana eksplorasi yang bermakna.

Menjaga Ritme Harian Anak

Screen time yang tidak diatur dapat mengganggu ritme harian anak, termasuk waktu tidur dan aktivitas fisik. Ritme yang seimbang penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental anak.

Menyelaraskan waktu layar dengan jadwal harian membantu anak memahami batasan dan mengembangkan disiplin diri secara alami.

Screen Time dan Regulasi Emosi Anak

Paparan layar juga memengaruhi kemampuan anak mengelola emosi. Anak yang terlalu bergantung pada layar untuk hiburan berisiko kesulitan menghadapi rasa bosan atau frustrasi.

Dengan dukungan orang tua, anak dapat belajar mengenali emosi dan mencari alternatif aktivitas yang sehat di luar layar.

Penutup

Screen time adalah realitas yang tidak dapat dihindari di era digital. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana orang tua membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan layar.

Melalui pendampingan, batasan yang konsisten, dan pemilihan konten yang tepat, screen time dapat menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak yang seimbang dan bermakna.

Gadget dan Anak: Menata Hubungan Sehat di Tengah Dunia Digital

0

IDEA JATIM, Gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang penuh layar, notifikasi, dan akses informasi tanpa batas. Kondisi ini sering memunculkan kekhawatiran, sekaligus kebingungan, bagi orang tua dalam menyikapi penggunaan gadget pada anak.

Alih-alih melihat gadget sebagai ancaman atau solusi instan, pendekatan yang lebih bijak adalah menata hubungan sehat antara anak dan teknologi digital.

Gadget sebagai Alat, Bukan Pengasuh

Salah satu kesalahan paling umum adalah menjadikan gadget sebagai pengganti kehadiran orang dewasa. Ketika gadget digunakan untuk menenangkan anak secara terus-menerus, anak kehilangan kesempatan belajar mengelola emosi dan berinteraksi sosial secara alami.

Gadget seharusnya diposisikan sebagai alat bantu. Fungsinya mendukung aktivitas belajar, kreativitas, dan eksplorasi, bukan menjadi pusat perhatian utama dalam keseharian anak.

Dampak Pola Penggunaan terhadap Perkembangan Anak

Bukan hanya durasi, pola penggunaan gadget sangat memengaruhi perkembangan anak. Penggunaan pasif, seperti menonton tanpa interaksi, berbeda dampaknya dengan penggunaan aktif yang melibatkan berpikir, bertanya, dan berkreasi.

Anak yang terbiasa menggunakan gadget secara aktif cenderung mengembangkan kemampuan problem solving dan literasi digital. Sebaliknya, penggunaan tanpa batasan dapat menghambat konsentrasi dan kemampuan regulasi diri.

Peran Orang Tua dalam Literasi Digital Anak

Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga memahami konteks, etika, dan dampak dari teknologi. Orang tua memiliki peran penting dalam memperkenalkan nilai-nilai ini sejak dini.

Diskusi sederhana tentang konten yang dikonsumsi anak, serta pendampingan saat menggunakan gadget, membantu anak belajar berpikir kritis terhadap informasi digital.

Menetapkan Batasan yang Fleksibel dan Konsisten

Aturan penggunaan gadget perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Batasan yang terlalu kaku sering kali memicu konflik, sementara batasan yang terlalu longgar membuat anak kehilangan kontrol.

Pendekatan terbaik adalah menetapkan kesepakatan bersama yang konsisten, namun tetap memberi ruang dialog. Dengan demikian, anak belajar menghargai aturan dan memahami alasan di baliknya.

Mengimbangi Dunia Digital dan Dunia Nyata

Keseimbangan menjadi kunci utama. Aktivitas fisik, interaksi sosial langsung, dan permainan kreatif di dunia nyata tetap memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak.

Ketika orang tua secara aktif menghadirkan alternatif kegiatan yang menarik, anak tidak akan bergantung sepenuhnya pada gadget untuk mendapatkan hiburan atau stimulasi.

Gadget dan Pembentukan Kebiasaan Jangka Panjang

Cara anak berinteraksi dengan gadget hari ini akan membentuk kebiasaan jangka panjang di masa depan. Anak yang diajarkan untuk menggunakan teknologi secara sadar akan lebih siap menghadapi tantangan dunia digital saat dewasa.

Pendampingan sejak dini membantu anak mengembangkan kontrol diri, tanggung jawab, dan pemahaman etis dalam menggunakan teknologi.

Penutup

Gadget bukan musuh dalam perkembangan anak, tetapi juga bukan solusi instan untuk semua kebutuhan. Kunci utamanya terletak pada peran orang tua dalam mengarahkan, mendampingi, dan menata penggunaan teknologi secara seimbang.

Dengan pendekatan yang tepat, gadget dapat menjadi sarana belajar dan eksplorasi yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh di era digital.

Orang Tua sebagai Arsitek Lingkungan Tumbuh Anak di Era Perubahan

0

IDEA JATIM, Perkembangan anak tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh lingkungan tempat ia tumbuh, berinteraksi, dan belajar setiap hari. Di tengah perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat, peran orang tua bergeser dari sekadar pengasuh menjadi arsitek lingkungan tumbuh anak—pihak yang merancang suasana, nilai, dan kebiasaan yang membentuk masa depan anak.

Peran ini sering tidak disadari, padahal dampaknya jauh melampaui hasil akademik semata.

Lingkungan Rumah sebagai Sistem Pendidikan Awal

Rumah adalah ekosistem pertama yang dikenali anak. Di sanalah anak belajar memahami emosi, membangun kepercayaan, dan mengenali batasan. Orang tua menentukan seperti apa sistem nilai yang hidup di dalam rumah, baik melalui aturan yang dibuat maupun kebiasaan yang dipraktikkan.

Ketika rumah menghadirkan suasana dialog terbuka, rasa saling menghargai, dan konsistensi, anak tumbuh dengan fondasi psikologis yang kuat untuk menghadapi dunia luar.

Orang Tua dan Pembentukan Pola Pikir Anak

Pola pikir anak terbentuk dari cara orang tua merespons keberhasilan dan kegagalan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai proses akan melihat tantangan sebagai kesempatan belajar, bukan ancaman.

Sebaliknya, tekanan berlebihan terhadap hasil justru membentuk pola pikir kaku yang menghambat kreativitas dan keberanian mencoba hal baru. Dalam hal ini, sikap orang tua lebih berpengaruh daripada nasihat yang diucapkan.

Menjadi Teladan dalam Menghadapi Perubahan

Anak hidup di era yang menuntut kemampuan beradaptasi tinggi. Orang tua memiliki peran strategis dalam menunjukkan bagaimana menyikapi perubahan dengan sikap terbuka dan bijaksana. Cara orang tua belajar hal baru, menghadapi teknologi, dan menyikapi perbedaan akan direkam anak sebagai referensi utama.

Keteladanan ini membekali anak dengan kemampuan bertahan dan berkembang di lingkungan yang terus berubah.

Membangun Keseimbangan antara Pendampingan dan Kemandirian

Peran orang tua bukan mengambil alih setiap masalah anak, melainkan mendampingi anak agar mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Keseimbangan antara pendampingan dan kepercayaan membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan percaya diri.

Anak yang diberi ruang untuk mengambil keputusan akan belajar memahami konsekuensi dan mengembangkan kontrol diri secara alami.

Relasi Orang Tua dan Anak sebagai Dasar Kesehatan Mental

Kualitas relasi antara orang tua dan anak sangat memengaruhi kesehatan mental anak. Komunikasi yang hangat dan konsisten menciptakan rasa aman, yang menjadi dasar bagi perkembangan emosi yang sehat.

Dalam relasi yang sehat, anak merasa didengar, dihargai, dan dipahami. Kondisi ini mendorong anak tumbuh dengan keseimbangan emosional yang baik.

Orang Tua dan Penanaman Nilai Sosial

Nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial tidak diajarkan melalui teori, melainkan melalui pengalaman sehari-hari. Orang tua berperan dalam menanamkan nilai tersebut melalui interaksi sosial yang sederhana, seperti cara berbicara tentang orang lain atau menyikapi perbedaan pendapat.

Nilai inilah yang membentuk karakter anak sebagai bagian dari masyarakat.

Penutup

Peran orang tua tidak lagi terbatas pada memenuhi kebutuhan dasar anak. Di era perubahan, orang tua menjadi arsitek yang merancang lingkungan tumbuh anak secara sadar dan berkelanjutan.

Ketika lingkungan ini dibangun dengan nilai, keteladanan, dan relasi yang sehat, anak tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga siap menghadapi kehidupan dengan karakter yang kuat dan seimbang.

Peran Ibu sebagai Sekolah Pertama Anak dalam Membentuk Karakter dan Cara Berpikir

0

IDEA JATIM, Sebelum anak mengenal ruang kelas, papan tulis, dan buku pelajaran, ia lebih dulu belajar dari satu tempat yang paling dekat: rumah. Dan di dalam rumah, sosok ibu sering kali menjadi figur pertama yang memperkenalkan anak pada dunia belajar. Bukan melalui kurikulum tertulis, melainkan melalui sikap, tutur kata, dan kebiasaan sehari-hari.

Peran ibu sebagai guru pertama anak bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan fondasi nyata dalam pembentukan karakter, pola pikir, dan cara anak memaknai proses belajar sepanjang hidupnya.

Rumah sebagai Ruang Belajar Pertama

Anak mulai belajar sejak hari pertama kehidupannya. Ia mengamati, meniru, dan menyerap apa yang dilihat dan didengar. Dalam fase ini, ibu berperan sebagai sumber utama pembelajaran. Cara ibu berbicara, merespons emosi anak, serta menyikapi masalah akan direkam secara alami oleh anak.

Pembelajaran di rumah tidak selalu berbentuk pengajaran langsung. Justru, nilai-nilai dasar seperti empati, kesabaran, dan rasa ingin tahu tumbuh dari interaksi sederhana yang dilakukan berulang kali.

Bahasa Ibu sebagai Dasar Literasi Anak

Kemampuan berbahasa anak sangat dipengaruhi oleh interaksi verbal dengan ibu. Ketika ibu terbiasa mengajak anak berbicara, mendengarkan cerita anak, dan menjawab pertanyaan dengan sabar, anak membangun fondasi literasi yang kuat.

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir. Anak yang terbiasa berdialog akan lebih mudah mengembangkan kemampuan bernalar, memahami konsep, dan mengekspresikan ide di kemudian hari.

Keteladanan sebagai Metode Mengajar Paling Efektif

Anak belajar lebih cepat dari apa yang ia lihat dibandingkan dari apa yang ia dengar. Ketika ibu menunjukkan kebiasaan membaca, belajar hal baru, atau menyelesaikan masalah dengan tenang, anak akan meniru perilaku tersebut tanpa perlu instruksi panjang.

Keteladanan inilah yang menjadikan ibu sebagai guru yang paling berpengaruh. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran tertanam bukan melalui ceramah, tetapi melalui contoh nyata.

Membangun Rasa Aman untuk Belajar

Rasa aman secara emosional adalah syarat utama agar anak mau belajar. Ibu memiliki peran besar dalam menciptakan suasana ini. Anak yang merasa diterima dan dipahami akan lebih berani mencoba, bertanya, dan mengeksplorasi hal baru.

Sebaliknya, tekanan berlebihan justru membuat anak takut gagal. Dalam kondisi tersebut, proses belajar berubah menjadi beban, bukan kebutuhan alami.

Ibu dan Pembentukan Pola Belajar Anak

Cara ibu mendampingi anak saat belajar akan membentuk pola belajar jangka panjang. Anak yang terbiasa didampingi dengan sabar cenderung memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Ia belajar bukan karena takut, melainkan karena ingin memahami.

Pola ini berpengaruh hingga anak dewasa, termasuk dalam cara menghadapi tantangan akademik dan kehidupan sosial.

Menyelaraskan Pendidikan Rumah dan Sekolah

Peran ibu sebagai guru pertama tidak berhenti ketika anak masuk sekolah. Justru, peran ini berkembang menjadi jembatan antara rumah dan sekolah. Ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah sejalan dengan pembelajaran di sekolah, anak memiliki sistem pendukung yang utuh.

Kolaborasi ini membantu anak memahami bahwa belajar bukan kewajiban semata, tetapi bagian dari proses tumbuh sebagai manusia.

Penutup

Ibu bukan hanya pengasuh, tetapi juga pendidik pertama yang meletakkan dasar kepribadian dan cara berpikir anak. Melalui interaksi sehari-hari, ibu membentuk cara anak belajar, bersikap, dan memandang dunia.

Ketika peran ini dijalani dengan kesadaran dan kasih sayang, rumah menjadi sekolah terbaik, dan ibu menjadi guru yang pengaruhnya melekat seumur hidup.

Membangun Kebiasaan Belajar Anak Sejak Dini Tanpa Menghilangkan Rasa Bahagia

0

IDEA JATIM, Belajar sering dipersepsikan sebagai aktivitas serius yang menuntut disiplin tinggi. Padahal, bagi anak, belajar adalah proses alami yang seharusnya tumbuh berdampingan dengan rasa bahagia. Ketika kebiasaan belajar dibangun dengan cara yang keliru, anak bukan hanya kehilangan motivasi, tetapi juga kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Artikel ini membahas bagaimana membangun kebiasaan belajar anak secara berkelanjutan, tanpa tekanan, dan tetap selaras dengan perkembangan emosi serta psikologis anak.

Memahami Makna Belajar bagi Anak

Bagi anak, belajar bukan sekadar membaca buku atau mengerjakan tugas sekolah. Belajar adalah proses memahami lingkungan, mengenali pola, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali. Ketika orang dewasa menyederhanakan belajar hanya sebagai pencapaian akademik, makna belajar menjadi sempit dan kaku.

Anak yang memahami bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan sehari-hari akan lebih mudah menerima tantangan baru, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Lingkungan Aman sebagai Fondasi Belajar

Lingkungan yang aman secara emosional memiliki pengaruh besar terhadap semangat belajar anak. Anak yang takut dimarahi, dibandingkan, atau dipermalukan cenderung menutup diri. Dalam kondisi ini, otak anak lebih fokus pada rasa cemas dibandingkan proses memahami informasi.

Lingkungan aman berarti:

  • Anak boleh bertanya tanpa takut dianggap bodoh
  • Anak boleh salah tanpa merasa gagal sebagai pribadi
  • Anak merasa diterima meski hasil belajarnya belum sempurna

Ketika rasa aman tercipta, belajar menjadi aktivitas yang wajar dan menyenangkan.

Konsistensi Lebih Penting daripada Intensitas

Banyak orang tua beranggapan bahwa belajar harus lama agar efektif. Padahal, untuk anak, konsistensi jauh lebih berpengaruh daripada durasi panjang. Belajar sebentar tetapi rutin membantu otak membentuk pola dan kebiasaan yang stabil.

Rutinitas belajar yang sehat bersifat fleksibel, tidak kaku, dan dapat menyesuaikan kondisi fisik maupun emosi anak. Dengan demikian, belajar tidak terasa sebagai beban tambahan dalam kehidupan anak.

Keterlibatan Orang Tua sebagai Pendamping

Peran orang tua bukan sebagai pengawas, melainkan pendamping. Anak membutuhkan kehadiran yang mendukung, bukan kontrol yang menekan. Pendampingan bisa sesederhana duduk di dekat anak saat ia belajar, mendengarkan ceritanya, atau memberi respons yang positif.

Ketika orang tua terlibat secara emosional, anak merasa bahwa belajar adalah proses yang penting dan dihargai.

Menghubungkan Belajar dengan Kehidupan Nyata

Anak lebih mudah memahami konsep ketika melihat relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman nyata membantu anak membangun pemahaman yang lebih dalam dan bermakna.

Contohnya:

  • Berhitung melalui aktivitas belanja
  • Membaca melalui cerita favorit anak
  • Belajar sains lewat pengamatan sederhana di rumah

Pendekatan ini membuat belajar terasa hidup dan tidak terpisah dari realitas anak.

Menghargai Proses Perkembangan Anak

Setiap anak memiliki ritme belajar yang berbeda. Membandingkan anak dengan teman atau saudara justru menghambat perkembangan alami mereka. Fokus utama seharusnya pada kemajuan individu, sekecil apa pun itu.

Menghargai proses membantu anak membangun rasa percaya diri dan motivasi intrinsik, dua hal yang sangat penting untuk pembelajaran jangka panjang.

Penutup

Membangun kebiasaan belajar anak bukan tentang memaksa anak menjadi cepat atau unggul, melainkan tentang menyiapkan fondasi mental dan emosional yang kuat. Ketika belajar dikaitkan dengan rasa aman, konsistensi, dan kebahagiaan, anak akan tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup.

Belajar bukan tujuan akhir, tetapi bekal untuk memahami dunia dengan percaya diri dan penuh rasa ingin tahu.

Cara Menumbuhkan Semangat Belajar Anak Tanpa Paksaan

0

IDEA JATIM, Semangat belajar anak sering kali naik turun. Hari ini antusias, besok enggan membuka buku. Banyak orang tua mengira masalahnya ada pada anak, padahal sering kali yang perlu diubah adalah pendekatannya. Belajar bukan soal memaksa anak duduk diam dan menghafal, melainkan soal membangun rasa ingin tahu dan perasaan aman saat mencoba.

Berikut beberapa tips praktis dan realistis untuk menumbuhkan semangat belajar anak secara alami, tanpa tekanan berlebihan.

  1. Pisahkan “Belajar” dari “Hukuman”

Kesalahan paling umum adalah menjadikan belajar sebagai konsekuensi dari kesalahan. Kalimat seperti “kalau nilaimu jelek, kamu harus belajar terus” tanpa sadar menanamkan asosiasi negatif. Anak akhirnya melihat belajar sebagai hukuman, bukan kebutuhan.

Cobalah mengubah narasi. Belajar adalah alat untuk memahami dunia, bukan alat untuk menghindari marahnya orang tua. Saat anak merasa aman untuk salah, semangat belajarnya justru tumbuh.

  1. Ikuti Rasa Ingin Tahu Anak, Bukan Kurikulum Dulu

Anak-anak belajar paling cepat saat mereka penasaran. Jika anak tertarik pada dinosaurus, kendaraan, memasak, atau bahkan game, itu adalah pintu masuk belajar.

Gunakan minat tersebut untuk masuk ke membaca, berhitung, atau berpikir logis. Misalnya:

  • Suka game → hitung skor, strategi, dan waktu
  • Suka menggambar → cerita, warna, dan ekspresi
  • Suka bertanya “kenapa” → sains sederhana

Kurikulum bisa menyusul, rasa ingin tahu tidak bisa dipaksakan.

  1. Jadikan Orang Tua Contoh, Bukan Pengawas

Anak jarang termotivasi oleh ceramah, tetapi sangat peka terhadap contoh. Jika orang tua jarang membaca, mudah terdistraksi ponsel, atau mengeluh saat belajar hal baru, anak menangkap pesan itu.

Sesekali, belajarlah di depan anak:

  • Membaca buku
  • Menulis catatan
  • Mencoba hal baru dan gagal

Kalimat sederhana seperti “Ayah/Ibu juga lagi belajar” punya dampak besar.

  1. Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil

Pujian yang terlalu fokus pada nilai atau ranking bisa membuat anak takut gagal. Anak akhirnya belajar demi angka, bukan pemahaman.

Lebih baik hargai usaha:

  • “Kamu sudah mencoba walau sulit”
  • “Ibu lihat kamu fokus lebih lama hari ini”
  • “Caramu menyelesaikan ini kreatif”

Dengan begitu, anak belajar bahwa proses itu berharga, bukan hanya hasil akhir.

  1. Buat Rutinitas yang Fleksibel, Bukan Kaku

Rutinitas penting, tetapi jangan jadikan jadwal belajar seperti jadwal militer. Anak juga manusia yang punya energi naik turun.

Gunakan prinsip:

  • Waktu singkat tapi konsisten (15–30 menit)
  • Ada jeda istirahat
  • Bisa berubah sesuai kondisi

Rutinitas yang manusiawi membuat belajar terasa ringan dan berkelanjutan.

  1. Dengarkan Keluhan Anak Tanpa Langsung Menghakimi

Ketika anak berkata “aku malas belajar”, sering kali itu bukan malas, tapi:

  • Tidak paham
  • Takut salah
  • Terlalu lelah
  • Merasa dibandingkan

Alih-alih langsung menasihati, tanyakan:

  • “Bagian mana yang bikin susah?”
  • “Kamu capek atau bingung?”

Didengar adalah kebutuhan emosional sebelum anak bisa fokus belajar.

  1. Lepaskan Ekspektasi Sempurna

Anak tidak harus selalu semangat, selalu juara, atau selalu patuh. Semangat belajar bukan kondisi permanen, tapi proses yang naik turun.

Tugas orang tua bukan menciptakan anak sempurna, melainkan menyediakan lingkungan yang aman untuk tumbuh, mencoba, dan gagal.

Ketika anak merasa diterima apa adanya, belajar bukan lagi beban, melainkan bagian alami dari hidupnya.


Penutup

Anak yang semangat belajar bukanlah hasil dari tekanan, melainkan dari hubungan yang sehat dengan orang tua dan proses belajar itu sendiri. Dengan pendekatan yang tepat, belajar bisa berubah dari kewajiban menjadi kebutuhan, dari paksaan menjadi keinginan.

Jika fondasinya kuat, motivasi belajar akan tumbuh dengan sendirinya—perlahan, tetapi tahan lama.

Diskusi Media, Save the Children Soroti Krisis Ganda Digital dan Iklim di 2026

0

IDEA JATIM, JAKARTA – Digitalisasi saat ini menjadi sesuatu hal yang sangat mendukung kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Namun sebaliknya, jika tidak ada batasan akan membawa dampak negatif. Khususnya kepada anak-anak Indonesia jika ada dampingan dari orang tua.

Kondisi ini membuat Save the Children Indonesia menggelar Diskusi Tahunan bersama Media sebagai refleksi kondisi hak anak sepanjang 2025 sekaligus urgensi agenda perlindungan anak ke depan, Selasa (14/1/2026)

Seperti yang disampaikan oleh CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, bahwa berdasarkan Studi Save the Children Indonesia Tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak, hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu 3–6 jam per hari di depan gawai.

Puncak penggunaan terjadi pada pukul 18.00–21.00 WIB dengan anak perempuan tercatat memiliki durasi layar lebih lama dibandingkan anak laki-laki.

Temuan ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi “ruang hidup” utama anak, bahkan ketika sekolah melarang penggunaan ponsel.

Menariknya, peningkatan literasi digital tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan mental anak. Studi tersebut justru menemukan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk kondisi kesehatan mental anak.

Padahal, sebagian besar anak sudah memahami risiko dunia digital seperti penipuan, peretasan, pencurian data, dan perundungan siber, namun belum memiliki keterampilan memadai untuk merespons secara aman dan sehat.

“Anak-anak tahu resikonya, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” tegas  Dessy Kurwiany Ukar.

Ia juga menyampaikan,  krisis iklim juga menjadi ancaman nyata.

“Data dari Voluntary National Review (VNR) SDGs Tahun 2025 menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim telah menggerus hak-hak anak, mulai dari terganggunya pola makan dan kesehatan, penurunan pendapatan keluarga, hingga meningkatnya risiko perlindungan anak, terutama saat bencana,” imbuhnya.

Kajian bersama Save the Children dan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 menemukan bahwa akses air bersih di lokasi pengungsian belum merata.

Kondisi tersebut  berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, sementara fasilitas pelayanan kesehatan banyak yang terdampak dan kebutuhan balita, ibu hamil, serta ibu menyusui belum terpenuhi secara optimal.

Menghadapi krisis ganda tersebut, Save the Children Indonesia menekankan perlunya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi.

Dessy juga menyampaikan, memasuki 2026, prioritas mendesak meliputi penguatan keamanan digital anak, peningkatan literasi adaptasi dan aksi iklim, serta pemenuhan hak anak dalam fase pemulihan pasca bencana, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh aman, sehat, dan tangguh menghadapi perubahan zaman. Tanpa itu, cita-cita besar bangsa akan sulit tercapai,” pungkas Dessy. (*)