Beranda blog Halaman 5

Cara Kerja Cloud Computing Secara Sederhana

0

IDEA JATIM-Cloud computing adalah teknologi yang memungkinkan pengguna menyimpan, mengelola, dan mengakses data atau aplikasi melalui internet tanpa harus memiliki perangkat keras sendiri. Alih-alih menyimpan data di komputer pribadi atau server kantor, pengguna dapat memanfaatkan layanan berbasis “awan” yang dikelola oleh penyedia layanan seperti Amazon Web Services, Google Cloud, dan Microsoft Azure.

Secara sederhana, cara kerja cloud computing mirip dengan penggunaan listrik dari PLN. Pengguna tidak perlu memiliki pembangkit listrik sendiri; cukup berlangganan dan memakai sesuai kebutuhan. Dalam konteks cloud, pengguna hanya membutuhkan perangkat (laptop atau ponsel) dan koneksi internet untuk mengakses data maupun aplikasi yang tersimpan di server jarak jauh.

Cloud computing bekerja melalui jaringan server yang tersebar di berbagai lokasi (data center). Server-server ini saling terhubung dan membentuk sistem terintegrasi. Ketika pengguna membuka layanan seperti penyimpanan online atau aplikasi berbasis web, permintaan tersebut dikirim melalui internet ke server cloud. Server kemudian memproses permintaan dan mengirimkan hasilnya kembali ke perangkat pengguna dalam hitungan detik.

Terdapat tiga model layanan utama dalam cloud computing. Pertama, Infrastructure as a Service (IaaS), yaitu penyediaan infrastruktur seperti server virtual dan penyimpanan. Kedua, Platform as a Service (PaaS), yang menyediakan lingkungan pengembangan aplikasi. Ketiga, Software as a Service (SaaS), yaitu aplikasi siap pakai yang diakses melalui browser, seperti email atau sistem manajemen keuangan.

Keunggulan utama cloud computing adalah skalabilitas. Perusahaan dapat menambah atau mengurangi kapasitas server sesuai kebutuhan tanpa harus membeli perangkat baru. Selain itu, sistem cloud juga menawarkan efisiensi biaya karena pengguna hanya membayar sesuai pemakaian.

Namun, aspek keamanan tetap menjadi perhatian penting. Penyedia cloud biasanya menerapkan enkripsi data, firewall, serta sistem keamanan berlapis untuk melindungi informasi pengguna. Meski begitu, pengguna juga perlu menerapkan praktik keamanan seperti penggunaan kata sandi kuat dan autentikasi dua faktor.

Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi cloud computing meningkat pesat di sektor pendidikan, pemerintahan, hingga UMKM. Transformasi digital mendorong organisasi untuk memanfaatkan fleksibilitas dan efisiensi yang ditawarkan teknologi ini.

Secara keseluruhan, cloud computing bekerja dengan memindahkan beban penyimpanan dan pemrosesan data dari perangkat lokal ke jaringan server internet. Konsepnya sederhana: akses data kapan saja dan di mana saja, selama terhubung ke internet.

Tantangan dan Peluang Pendidikan Formal di Era Digital Indonesia

0

IDEA JATIM-Era digital membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi pendidikan formal di Indonesia. Perubahan teknologi yang cepat menuntut sistem pendidikan untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Pendidikan formal tidak hanya dituntut untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan literasi digital peserta didik.

Salah satu tantangan utama pendidikan formal di era digital adalah kesenjangan akses teknologi. Perbedaan kondisi geografis dan ekonomi menyebabkan tidak semua sekolah memiliki fasilitas digital yang memadai. Keterbatasan perangkat dan koneksi internet dapat menghambat penerapan pembelajaran berbasis teknologi, terutama di daerah terpencil.

Tantangan lainnya adalah kesiapan sumber daya manusia. Tidak semua pendidik memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam memanfaatkan teknologi digital. Perubahan metode pembelajaran sering kali memerlukan waktu adaptasi yang tidak singkat. Tanpa pendampingan yang tepat, pemanfaatan teknologi justru berisiko tidak optimal atau sekadar bersifat formalitas.

Di sisi lain, era digital juga membuka peluang besar untuk reformasi pendidikan formal. Teknologi memungkinkan kolaborasi lintas sekolah, daerah, bahkan negara. Peserta didik dapat mengikuti program pembelajaran daring, diskusi virtual, dan proyek kolaboratif yang memperluas wawasan serta pengalaman belajar mereka.

Peluang lain terletak pada penguatan literasi digital sebagai bagian integral dari kurikulum pendidikan formal. Dengan literasi digital yang baik, peserta didik tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika, keamanan, dan tanggung jawab dalam dunia digital. Hal ini penting untuk membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter.

Untuk memaksimalkan peluang tersebut, diperlukan kebijakan pendidikan yang visioner dan berkelanjutan. Integrasi teknologi harus disertai dengan penguatan nilai-nilai pendidikan, pengembangan kompetensi guru, serta pemerataan infrastruktur. Pendidikan formal di era digital harus tetap berlandaskan pada tujuan utama pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan mengelola tantangan secara bijak dan memanfaatkan peluang secara strategis, pendidikan formal di era digital dapat menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia. Transformasi ini akan menentukan kesiapan generasi muda dalam menghadapi dinamika global dan membangun masa depan bangsa yang berdaya saing.

Peran Teknologi Digital dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Formal

0

IDEA JATIM-Teknologi digital telah menjadi elemen penting dalam peningkatan kualitas pendidikan formal di Indonesia. Kehadiran teknologi tidak hanya mengubah cara belajar dan mengajar, tetapi juga memengaruhi sistem evaluasi, manajemen sekolah, serta interaksi antara peserta didik dan pendidik. Pemanfaatan teknologi secara tepat dapat menjadi solusi strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern.

Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital memungkinkan penyajian materi yang lebih variatif dan menarik. Media visual, animasi, simulasi interaktif, serta video pembelajaran membantu peserta didik memahami konsep abstrak dengan lebih mudah. Pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran.

Selain itu, teknologi digital mendukung penerapan pembelajaran berbasis personalisasi. Melalui platform digital, guru dapat menyesuaikan materi, metode, dan kecepatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik. Data hasil belajar yang terekam secara digital juga memudahkan guru dalam melakukan evaluasi dan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.

Peran teknologi dalam pendidikan formal juga terlihat dalam sistem penilaian dan asesmen. Ujian berbasis komputer memungkinkan proses evaluasi yang lebih objektif, efisien, dan transparan. Analisis hasil ujian dapat dilakukan secara cepat, sehingga guru dan sekolah dapat segera mengambil langkah perbaikan terhadap proses pembelajaran yang belum optimal.

Di sisi manajemen pendidikan, teknologi digital membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan sekolah. Sistem administrasi berbasis digital mempermudah pengelolaan data siswa, kehadiran, nilai, serta komunikasi antara sekolah dan orang tua. Transparansi informasi ini mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih akuntabel dan profesional.

Meski demikian, optimalisasi peran teknologi digital memerlukan kesiapan sumber daya manusia. Guru dan tenaga kependidikan perlu memiliki kompetensi digital yang memadai agar teknologi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi benar-benar terintegrasi dalam proses pendidikan. Program pelatihan berkelanjutan dan pendampingan menjadi kunci keberhasilan implementasi teknologi di sekolah.

Dengan strategi yang tepat, teknologi digital dapat menjadi katalisator peningkatan kualitas pendidikan formal. Pemanfaatannya harus diarahkan untuk mendukung tujuan pendidikan, yaitu menciptakan pembelajaran yang bermakna, relevan, dan mampu membekali peserta didik dengan kompetensi abad ke-21.

Transformasi Pendidikan Formal di Era Digital Indonesia

0

IDEA JATIM-Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan formal. Di Indonesia, transformasi pendidikan di era digital bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang harus direspons secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Digitalisasi membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses pendidikan, serta menciptakan sistem belajar yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pendidikan formal di era digital ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar. Penggunaan Learning Management System (LMS), kelas virtual, media pembelajaran interaktif, hingga asesmen berbasis digital kini mulai diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Teknologi memungkinkan pembelajaran tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga proses transfer ilmu dapat berlangsung lebih fleksibel dan efisien.

Salah satu dampak positif utama digitalisasi pendidikan adalah peningkatan akses terhadap sumber belajar. Peserta didik dapat mengakses materi pelajaran, jurnal ilmiah, video edukasi, dan simulasi pembelajaran secara mandiri. Hal ini mendorong terbentuknya budaya belajar aktif dan kritis, di mana siswa tidak hanya bergantung pada guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Dari sisi pendidik, era digital menuntut guru untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran baru. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Kompetensi digital guru menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi pendidikan formal. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan profesional guru dalam bidang teknologi pendidikan perlu terus ditingkatkan.

Namun, transformasi pendidikan formal di era digital juga menghadapi berbagai tantangan. Kesenjangan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan masih menjadi masalah serius. Tidak semua sekolah memiliki infrastruktur digital yang memadai, seperti jaringan internet stabil dan perangkat pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, literasi digital peserta didik dan tenaga pendidik masih perlu ditingkatkan agar pemanfaatan teknologi dapat berjalan optimal.

Pemerintah memiliki peran strategis dalam mengakselerasi transformasi pendidikan digital. Kebijakan pendidikan yang mendukung integrasi teknologi, penguatan infrastruktur digital, serta penyediaan platform pembelajaran nasional menjadi langkah penting dalam membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, sekolah, pendidik, orang tua, dan masyarakat juga diperlukan agar transformasi digital berjalan secara inklusif dan merata.

Dengan perencanaan yang matang dan implementasi yang tepat, pendidikan formal di era digital dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Transformasi ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi juga tentang perubahan paradigma pembelajaran menuju sistem yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada masa depan.

Prof. Dr. Sigit Hermawan Dikukuhkan sebagai Guru Besar Umsida, Fokus pada Peningkatan Kinerja Lembaga

0

IDEA JATIM, SIDOARJO – Milad ke-37 Umsida tahun 2026 yang digelar pada, Senin, (9/2/206) menjadi momen istimewa lantaran dirangkaikan dengan Pengukuhan Guru Besar ke-7 Umsida yakni Prof. Dr. Sigit Hermawan, S.E., M.Si CIQaR., CRP.

Ia menjadi guru besar Umsida pada bidang Ilmu Intellectual Capital dan Analisis Keuangan yang berfokus pada peningkatan kinerja lembaga. Prosesi pengukuhan tersebut secara resmi dilakukan oleh Rektor Umsida, Dr. Hidayatulloh, M.Si.

Dalam beberapa tahun terakhir, riset Prof Sigit banyak mengarah pada lembaga amil zakat (Lazis).

Selain itu, Prof. Sigit aktif membina UMKM melalui pendampingan produksi, branding, hingga diversifikasi produk sebagai bentuk implementasi risetnya di lapangan.

“Terlebih untuk bagaimana meningkatkan kinerja penghimpunan dan pemberdayaan agar mampu membantu pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan,” ujar Prof. Sigit.

Ia menegaskan bahwa kontribusi riset tersebut selaras dengan SDGs, terutama pada isu kemiskinan dan zero hunger.

“Jadi bagaimana peran-peran dari lembaga amil zakat ini saya teliti untuk bisa meningkatkan kinerjanya. Termasuk juga dalam pemberdayaan Mustahik menjadi Muzakki atau menjadi orang yang tidak lagi miskin,” jelas dosen Prodi Akuntansi itu.

Prof Sigit juga menyampaikan bahwa gelar guru besar bukan akhir perjalanan, melainkan tantangan untuk lebih banyak memberi manfaat. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat menjadi level yang lebih tinggi dari sekadar mengajar.

“Guru besar itu bukan menara gading. Harus hadir memberi solusi bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi seluruh sivitas akademika, pada Milad ke-37 Umsida memberi penghargaan kepada dosen dengan masa pengabdian lebih dari 30 tahun serta tenaga kependidikan dengan masa pengabdian lebih dari 25 tahun.

Umsida juga meluncurkan Buku Sejarah Umsida yang mengulas perjalanan panjang dan perkembangan universitas dari masa ke masa.

Acara ditutup dengan tausiyah Ketua PP Muhammadiyah, Prof Syafiq A Mughni MA PhD sebelum Rektor secara resmi menutup Rapat Terbuka Senat Milad ke-37 Umsida. (*)

Umsida Rayakan Milad ke-37, Capai Akreditasi Unggul dan Tambah 6 Program Studi Baru

0

IDEA JATIM, SIDOARJO – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) memasuki usia ke -37 Tahun. Momentum Milad tersebut ditandai dengan Rapat Terbuka Senat dan pengukuhan Guru Besar (Gubes), Senin, (9/2/2026) kemarin.

Bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida, Milad tahun ini mengusung semangat “Umsida Berkembang dan Berdampak” sebagai refleksi perjalanan panjang institusi sejak berdiri pada 9 Februari 1989 hingga kini memasuki usia 37 tahun.

Banyak tokoh-tokoh penting hadir di acara tersebut, mulai dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, jajaran BPH Umsida, Kepala LLDIkti Wilayah 7 Jawa Timur, Ketua PWM dan PWA Jatim, hingga Bupati Sidoarjo, H Subandi SH MKn.

Rektor Umsida, Dr. Hidayatulloh, M.Si dalam sambutanya menyampaikan bahwa sejak 2018 Umsida telah menetapkan visi menjadi perguruan tinggi unggul dan inovatif dalam pengembangan iptek berbasis nilai-nilai Islam untuk kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut dicanangkan dalam milestone Umsida hingga 20 tahun kemudian yakni pada 2038.

“Saat ini, Umsida berada di milestone kedua yakni National Recognition yang ditandai dengan diraihnya akreditasi unggul pada tahun 2024. Perkembangan akademik Umsida juga menunjukkan tren yang signifikan,” Dr. Hidayatulloh dalam sambutanya.

Ia juga menjelaskan, pada 2025, Umsida menambah enam program studi baru sehingga kini Umsida memiliki tujuh fakultas dan 37 program studi. Dari jumlah tersebut, 27 Program Studi (Prodi) atau sekitar 73 persen telah terakreditasi unggul dan baik sekali.

“Beberapa prodi yang masih berstatus baik sekali sedang kami persiapkan untuk naik menjadi terakreditasi unggul,” imbuhnya.

Selain itu, dalam satu tahun terakhir, Umsida mencatat 34 prestasi akademik dan 215 non-akademik tingkat nasional, serta 49 prestasi akademik dan 38 non-akademik tingkat internasional.

Di sisi sumber daya manusia, jumlah dosen bergelar doktor meningkat menjadi 98 orang, dengan 179 dosen telah tersertifikasi.

“Tahun ini Umsida juga memiliki tujuh guru besar setelah adanya tambahan empat profesor baru,” ujar Dr. Hidayatulloh

Ia juga menambahkan, Umsida juga tengah menyelesaikan pembangunan rumah sakit pendidikan yang ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus 2026.

“Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan bagian dari penguatan layanan akademik dan kesehatan bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Sinergi UMM dan Danone Alirkan Harapan: Air Bersih Kini Menyapa Desa Tliu NTT

0

IDEA JATIM, ​TIMOR TENGAH SELATAN – Senyum bahagia merekah di wajah warga Desa Tliu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Wilayah yang selama ini berjuang melawan krisis air bersih itu kini memiliki napas baru melalui peresmian program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone, Selasa (10/2).

​Program strategis ini diresmikan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Kehadiran sarana ini menjadi solusi konkret atas tantangan akses air bersih yang telah lama membelenggu produktivitas masyarakat di pedalaman NTT.

​Keberhasilan pengadaan air bersih ini bukan kerja tunggal. Proyek ini merupakan buah kolaborasi apik antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTT, UMM, serta Universitas Muhammadiyah Kupang.

​“Air adalah sumber kehidupan. Di wilayah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujar Prof. Nazaruddin di sela-sela acara.

​Peresmian berlangsung khidmat dengan balutan kearifan lokal. Rombongan disambut hangat oleh Ketua Adat Desa Tliu melalui tarian tradisional dan prosesi sambutan khas suku setempat. Suasana ini menunjukkan betapa warga sangat menantikan hadirnya infrastruktur yang menyentuh kebutuhan dasar mereka.

​Membangun sarana air bersih di NTT bukanlah perkara mudah. Tim kolaboratif harus menempuh proses panjang, mulai dari riset titik mata air hingga pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan. Kini, air tersebut tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga diproyeksikan untuk mendukung pengairan warga.

​Bagi Desa Tliu yang tergolong terpencil, kehadiran PASIMAS Fetomone adalah sebuah “keajaiban” kecil. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, melainkan harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan kami,” ungkap Kepala Desa Tliu penuh haru.

​Tak hanya membawa air, Prof. Nazaruddin juga membawa misi pendidikan. Di desa yang memiliki SD Muhammadiyah ini, ia memberikan bantuan dana pengembangan sekolah, dukungan sarana perpustakaan, hingga beasiswa pendidikan sarjana (S1) untuk Kepala Desa setempat.
​“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak di Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegas Prof. Nazaruddin yang juga memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pendidikan di wilayah Timur Indonesia tersebut.

​Melalui PASIMAS Fetomone, UMM berharap inisiatif ini menjadi model pemberdayaan desa berkelanjutan yang bisa diduplikasi di wilayah lain, sekaligus memperkuat kualitas hidup dan sosial masyarakat NTT secara menyeluruh. (*)

Wawali Heli Suyanto Hadiri Sarasehan Nasional Bahas Alternatif Pembiayaan Daerah dan Investasi Publik

IDEA JATIM, SURABAYA – Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menghadiri kegiatan Sarasehan Nasional Obligasi Daerah yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) di Hotel Wyndham, Surabaya, Kamis (5/2/2026).

Sarasehan nasional ini mengangkat tema “Obligasi Daerah sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik” dan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran Forkopimda Jawa Timur, akademisi, serta pelaku pasar modal dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam keterangannya, Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Batu terus memberikan komitmen untuk mendorong penguatan kapasitas fiskal daerah melalui pemanfaatan skema pembiayaan pembangunan yang sah, transparan, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Pemerintah Kota Batu berkomitmen untuk terus mendorong penguatan kapasitas fiskal daerah melalui berbagai skema pembiayaan pembangunan yang sah, transparan, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Wawali seusai kegiatan.

Sementara itu, pimpinan fraksi Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, dalam sambutannya menekankan pentingnya obligasi daerah sebagai instrumen pembiayaan pembangunan yang inovatif dan berkelanjutan guna memperkuat kemandirian fiskal pemerintah daerah.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Wali Kota Batu hadir bersama Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kota Batu, Eny Rachyuningsih, serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Batu, Bangun Yulianto. (*)

Hari Pers Nasional 2026: Dari Ruang Redaksi ke Ruang Sidang, Pers Tetap Nurani Demokrasi

0

Hari Pers Nasional (HPN) 2026 kembali menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan seremonial. Di tengah derasnya arus informasi digital, disrupsi media, serta tantangan hukum yang semakin kompleks, pers Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: masihkah pers berdiri tegak sebagai pilar demokrasi dan penjaga nurani publik?

Bagi saya pribadi, HPN bukan hanya agenda tahunan. Ia adalah pengingat perjalanan hidup. Pernah merasakan kerasnya deadline di ruang redaksi, debat panjang soal diksi berita, hingga idealisme untuk menghadirkan kebenaran di tengah tekanan kekuasaan dan kepentingan. Kini, jalan hidup membawa saya ke ruang sidang, beralih profesi sebagai advokat. Namun satu hal tidak pernah berubah: kepercayaan bahwa kebenaran harus diperjuangkan, baik lewat pena maupun lewat hukum.

Pers di Persimpangan Zaman

HPN 2026 hadir di era ketika informasi begitu mudah diproduksi, tetapi kebenaran justru semakin sulit dibedakan. Media sosial menjelma ruang publik tanpa pagar etik, sementara jurnalis profesional sering kali harus bertarung melawan hoaks, disinformasi, dan framing sesat.

Di sisi lain, tantangan hukum juga kian nyata. Masih ada jurnalis yang dikriminalisasi, dilaporkan dengan pasal-pasal karet, atau diintimidasi karena karya jurnalistiknya. Ironisnya, tidak semua pihak memahami bahwa produk jurnalistik seharusnya diselesaikan melalui mekanisme UU Pers, bukan dibawa ke ranah pidana secara serampangan.

Sebagai advokat sekaligus mantan jurnalis, saya melihat dua dunia ini sesungguhnya tidak bertentangan. Pers dan hukum seharusnya saling menguatkan: pers menjaga transparansi, hukum menjaga keadilan.

Etika, Profesionalisme, dan Tanggung Jawab

HPN juga menjadi pengingat bagi insan pers sendiri. Kebebasan pers bukanlah kebebasan tanpa batas. Etika jurnalistik, verifikasi data, keberimbangan, dan independensi adalah harga mati. Ketika pers tergelincir menjadi alat propaganda, sensasi murahan, atau pesanan kekuasaan, di situlah kepercayaan publik runtuh.

Sebaliknya, ketika pers bekerja dengan nurani, keberanian, dan integritas, ia menjadi cahaya bagi masyarakat—bahkan bagi penegak hukum sekalipun.

Pesan dan Kesan HPN 2026

Pesan saya di Hari Pers Nasional 2026 sederhana namun mendasar:
jangan pernah lelah membela kebenaran, meski konsekuensinya berat.
Bagi jurnalis muda, rawat idealisme. Bagi pemilik media, jaga independensi. Bagi negara, lindungi pers, bukan membungkamnya.

Kesan saya terhadap pers Indonesia hari ini adalah optimisme yang bercampur kegelisahan. Optimis karena masih banyak jurnalis yang bekerja jujur dan berani. Gelisah karena ancaman terhadap kebebasan pers masih nyata, baik secara struktural maupun kultural.

Penutup

Dari ruang redaksi ke ruang sidang, saya belajar satu hal penting: kebenaran selalu membutuhkan keberanian. Entah disampaikan melalui berita atau diperjuangkan lewat argumentasi hukum, esensinya tetap sama.

Selamat Hari Pers Nasional 2026.
Teruslah menjadi suara yang merdeka, pena yang beretika, dan nurani bagi demokrasi Indonesia.

*Penulis adalah Mantan Jurnalis, dan aktif sebagai Advokat di kantor hukum Firma Hammurabi & Partners dan Ketua LBH Pagar Nusa Mojokerto

Tim SAR Gabungan Evakuasi Adi dari Dasar Sumur di Ponorogo

0

IDEA JATIM, PONOROGO – Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi Adi Saputra (15) seorang pelajar asal dukuh Gupit Rt 03 RW 04, desa Bulu Lor, dari dalam sumur sedalam sekitar 12 meter yang ada di desa Bulu Lor, kecamatan Jambon, kabupaten Ponorogo.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia saat berhasil dijangkau petugas sekitar pukul 06.30 WIB.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit P.H. selaku SMC mengatakan, setibanya di lokasi kejadian, tim rescue Pos SAR Trenggalek segera melakukan asesmen untuk menentukan metode evakuasi yang paling aman.

“Tim SAR gabungan menggunakan peralatan vertical rescue. Satu orang rescuer Pos SAR Trenggalek diturunkan dengan teknik lowering untuk menjangkau korban secara langsung,” ujar Nanang.

Setelah berhasil menjangkau korban di dasar sumur, rescuer melakukan packing jenazah sebelum proses pengangkatan. Jenazah kemudian dievakuasi ke permukaan menggunakan teknik lifting secara bertahap, dengan pengamanan pada sistem tali dan anchor guna memastikan keselamatan personel.

Koordinator Pos SAR Trenggalek, Bayu Prasetyo S.E., menjelaskan bahwa proses evakuasi tidak lepas dari sejumlah kendala teknis. Diameter sumur yang relatif kecil membatasi ruang gerak petugas, sementara kondisi di dalam sumur juga berpotensi membahayakan.

“Selain ruang yang sempit, terdapat potensi gas beracun di dalam sumur. Oleh karena itu, rescuer yang turun ke dalam sumur dilengkapi peralatan SCBA sebagai langkah mitigasi risiko,” kata Bayu.

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Adi Saputra langsung dibawa ke RSUD dr Harjono Ponorogo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari petugas yang berwenang.

Proses evakuasi ini melibatkan unsur SAR gabungan, antara lain tim rescue Pos SAR Trenggalek, BPBD Kabupaten Ponorogo, Polres Ponorogo, Polsek Jambon, Koramil Jambon, Puskesmas Jambon, serta sejumlah potensi SAR lainnya. (*)