IDEA JATIM, MALANG – Hardiknas tahun ini rasanya beda bagi Institut Teknologi Sains dan Kesehatan (ITSK) RS dr. Soepraoen Malang. Tidak sekadar upacara. Tidak sekadar pakai baju adat. Ada yang lebih fundamental: mereka meluncurkan “senjata” baru. Namanya SIAKAD OBE. Sistem Informasi Akademik berbasis Outcome-Based Education.
Kedengarannya teknis sekali. Berat. Tapi maknanya dalam: ini soal harga diri lulusan di kancah internasional.
Rektornya, Dr. dr. Sutrisno, terlihat sumringah. Beliau ini gelarnya panjang sekali. S.H., M.A.R.S., M.H.Kes., FISQua. Deretannya mencerminkan ketekunan akademik. Tapi saat bicara SIAKAD OBE, nada bicaranya praktis.
Bukan teori di awang-awang. “Ini bukan sekadar tren digital,” tegasnya.
Logika Sutrisno sederhana tapi tajam. Dunia berubah. BAN-PT sudah mengeluarkan aturan baru Nomor 20 Tahun 2025. Akreditasi kini menuntut bukti konkret, bukan sekadar tumpukan dokumen administratif yang berdebu di lemari prodi.
Dulu, sistem akademik konvensional itu ibarat buku kas. Hanya mencatat angka. Mahasiswa dapat A, B, atau C. Titik.
Tapi, apakah si mahasiswa benar-benar bisa melakukan apa yang tertulis di silabus? Belum tentu.
Di situlah OBE masuk. Fokusnya bukan pada apa yang diajarkan dosen, tapi pada apa yang bisa dihasilkan mahasiswa. Outcome. Hasil nyata.
Sutrisno ingin setiap lulusan Soepraoen punya “paspor kompetensi”. Bukan cuma ijazah yang hanya laku di dalam negeri. Beliau membidik standar ASEAN. Ambisius? Mungkin. Tapi dasarnya kuat. Dengan OBE, learning outcomes disinkronkan langsung dengan kebutuhan industri global.
Ada satu hal yang membuat saya angkat topi. SIAKAD ini tidak beli. Tidak pakai vendor luar yang seringkali bikin repot kalau mau minta perubahan sedikit saja. Sistem ini lahir dari “rahim” sendiri. Dikerjakan oleh tim internal: Program Studi Informatika dan UPTI ITSK RS dr. Soepraoen.
Ini cerdas. Dalam dunia digital, kecepatan adalah kunci. Kalau ada perubahan regulasi atau tuntutan pasar kerja di Singapura atau Malaysia, kampus tidak perlu menunggu antrean teknisi vendor. Tinggal panggil tim internal, bereskan kodenya, sesuaikan fiturnya. Fleksibel. Adaptif. Itulah keunggulan mandiri.
Sistem ini integratif. Mulai dari perencanaan kurikulum, mata kuliah, sampai penilaian kompetensi—semuanya “berbicara” dalam satu pintu. Datanya real-time. Pimpinan kampus bisa memantau detik itu juga: apakah mahasiswa sudah mencapai kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja?
Tapi Sutrisno tidak mau terjebak dalam rasa puas diri. Beliau sadar, klaim sepihak itu berbahaya. Maka, beliau melibatkan lembaga eksternal. Ada pengukuran Indeks Kematangan OBE.
Inilah budaya mutu yang sebenarnya.
Berani diuji oleh pihak luar.
Tatapannya kini jauh ke depan.
Melalui sistem ini, mahasiswa disiapkan untuk menjadi pemain di pasar kerja Asia Tenggara. Standar kompetensinya dikunci. Apa yang dipelajari di kelas di Malang, harus nyambung dengan kebutuhan rumah sakit atau industri kesehatan di luar negeri.
Hasilnya? Kepercayaan diri mahasiswa meningkat. Mereka bukan lagi pemain lokal yang minder. Mereka adalah calon pemimpin, inovator, dan praktisi kesehatan yang siap bertarung di mana saja.
Dari sudut Kota Malang, ITSK RS dr. Soepraoen sedang mengirim pesan kuat: Kualitas itu bukan soal lokasi. Bukan soal gedung mentereng semata. Kualitas itu soal visi, kemandirian teknologi, dan keberanian untuk berubah.
Masa depan itu tidak ditunggu. Masa depan itu dicetak. Dan di ITSK RS. dr. Soepraoen, masa depan itu sedang diketik lewat baris-baris kode SIAKAD OBE.
Luar biasa!




