Menelusuri Jejak Sumber Pakis Uceng: Dari Denyut Ekonomi Desa, Ujian Pandemi, hingga Harapan Sinergi Masa Depan

Ideajatim.id, Malang – Sumber Pakis Uceng sebuah potensi wisata alam berbasis mata air di Desa Langlang, menyimpan rekam jejak panjang dinamika ekonomi dan sosial masyarakat lokal. Berawal dari aliran sungai kecil yang kaya akan tanaman pakis dan ikan uceng, potensi ini pernah tumbuh menjadi destinasi wisata favorit warga sebelum akhirnya terhenti akibat badai pandemi COVID-19. Kini, harapan untuk membangkitkan kembali kawasan tersebut terus menyala di tengah keterbatasan modal dan tantangan tata kelola. Berdasarkan penuturan mantan Kepala Desa Langlang, Bapak Firdaus, pengembangan Sumber Pakis Uceng dimulai sekitar tahun 2014. Kala itu, kawasan tersebut hanyalah aliran mata air alami yang sulit dijangkau. Namun karena tingginya kebutuhan air serta potensi keindahan alamnya, pemerintah desa bersama warga berinisiatif membuka akses jalan.

“Dulu sumber itu air mengalir saja seperti sungai menuju persawahan dan Desa Tunjungtirto. Susah dijangkau. Karena butuh tempat wisata lokal, kita bangun aksesnya, dilakukan pendoseran dari jalan setapak hingga bisa dilalui. Tahun 2014 mulai dibuka, dan puncaknya ramai sekitar tahun 2018 setelah akses jalan dipaving dan telaganya diperbagus,” ungkap bapak Firdaus

Penamaan “Pakis Uceng” sendiri memiliki keunikan tersendiri. Menurut Bapak Solikin, salah satu pengelola dan pelaku UMKM di kawasan tersebut, nama ini diambil dari kondisi alami mata air pada masa lampau yang dipenuhi tanaman pakis liar dan populasi ikan uceng sejenis ikan sungai berukuran kecil (sekitar 3–5 cm). Seiring waktu, masyarakat melafalkannya secara langsung menjadi “Pakis suceng” tanpa jeda. Pada rentang tahun 2018 hingga awal 2020, Sumber Pakis Uceng menjadi pusat keramaian baru. Pedagang UMKM menjamur di sepanjang area wisata, memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Warga setempat ikut berjualan makanan, minuman, hingga menyediakan wahana hiburan rakyat.

Namun, roda perekonomian tersebut terhenti mendadak ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada awal 2020. Pembatasan kegiatan masyarakat membuat jumlah pengunjung anjlok drastis, hingga wahana dan lapak UMKM terpaksa tutup.

“Sempat rame banget, Mas! Jam 2 siang itu penuh sekali. Ada hiburan, warung-warung diatas . Tapi terus kena COVID, hancur kabeh (hancur semua). Tidak ada yang mengelola lagi, tanaman dan fasilitas habis,” ungkap Bapak Parman, tokoh masyarakat yang juga bertugas sebagai Ketua RT di Desa Langlang

Pasca pandemi, kawasan Sumber Pakis Uceng dirawat secara mandiri oleh Bapak Solikin bersama pemilik lahan swasta. Kawasan ini terbagi menjadi dua area utama: aset desa di sisi mata air dan aset pribadi di area kolam renang/sendang buatan. Meskipun belum kembali pulih sepenuhnya seperti masa sebelum pandemi, area ini tetap membawa dampak positif bagi warga. Akses jalan yang kini telah diperlebar memungkinkan kendaraan roda empat hingga truk yang melintas menuju area pertanian. Selain itu, anak-anak sekitar memanfaatkan sumber yang jernih untuk berenang dan bermain dengan aman secara gratis. Sumber air ini juga menyimpan sisi spiritual dan budaya yang kuat. Warga sekitar rutin menggelar tradisi selamatan setiap Bulan Suro sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan air bersih yang bahkan dimanfaatkan oleh desa tetangga, Desa Tunjungtirto.

SEKILAS SUMBER PAKIS UCENG :
Pembukaan akses dimulai tahun 2014 oleh Pemdes Langlang & warga secara resmi pada tahun 2017. Asal-usul Nama pakis uceng dikarenakan Melimpahnya tanaman pakis yang bisa dimakan dan populasi ikan uceng kecil di sekitar mata air dengan karakteristik Air Mata air alami yang melimpah, jernih, mengalir ke tandon PDAM/desa tetangga (Tunjungtirto). Kegiatan Rutin warga sekitar yakni Tradisi Suroan (selamatan desa), kegiatan olahraga & rekreasi keluarga.

Tantangan terbesar dalam pengembangan kembali Sumber Pakis Uceng terletak pada permodalan dan keterpaduan tata kelola. Pengelola saat ini berharap ada perhatian konkret dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) maupun Pemerintah Desa Langlang untuk membantu perbaikan infrastruktur yang rusak, seperti fondasi pendukung dan penataan ulang area UMKM. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang memberikan dorongan moral baru. Pengelola berharap para mahasiswa dapat menjadi jembatan aspirasi kepada pihak desa serta melakukan aksi nyata, seperti penebaran bibit ikan nila atau koi serta penanaman pohon guna menjaga kelestarian mata air. (*)

Berita Terkini

Kunjungi USIM, Mahasiswa KKN UMM Belajar Dua Sistem Hukum di Malaysia

IDEA JATIM, MALAYSIA - Sebuah pertemuan yang awalnya tak...

Unidha Malang Permudah Kuliah S2 Hukum, Bisa Lulus dalam Tiga Semester

PASURUAN, IDEAJATIM – Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang menawarkan solusi...

Antisipasi Penyalahgunaan Narkoba, Universitas Brawijaya Gelar Tes NAPZA Serentak bagi Ribuan Mahasiswa Baru

IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Brawijaya (UB) menggelar rangkaian...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img