IDEAJATIM.ID, SIDOARJO – Produk yang baik belum tentu mudah menjangkau banyak pembeli tanpa pemasaran yang tepat.
Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa KKN T Umsida membantu dua pelaku UMKM di Desa Simpang dan Kalimati memasuki pasar digital.
KKN T 18 Umsida membantu usaha Permen Jahe Restu di Desa Simpang membuka toko melalui Shopee pada Ahad, (26/7).
Sementara itu, KKN T 23 Umsida mendampingi usaha kuliner milik Kowiyah di Desa Kalimati, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, dalam proses pendaftaran Shopee Food di hari yang sama.
Kondisi pemasaran produk yang masih terbatas membuat tim KKN Umsida mengusung program ini.
Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada pembuatan akun.
Pelaku usaha juga dikenalkan pada beberapa hal dasar yang diperlukan untuk mengelola pemasaran digital, mulai dari foto produk, penulisan informasi menu, pengelolaan pesanan, hingga pelayanan kepada pelanggan.
UMKM Permen Jahe Mulai Buka Toko Shopee
Pendampingan KKN T 18 dilaksanakan di rumah produksi Permen Jahe Restu milik Sri Wijayati.
Sebelum kegiatan, mahasiswa melihat bahwa produk tersebut telah memiliki kualitas yang baik, namun belum dipasarkan secara mandiri melalui marketplace.
Selama ini, pemasaran permen jahe masih bekerja sama dengan usaha permen asam milik kerabat Sri.
“Produk juga lebih banyak dijual dalam kemasan besar dengan berat sekitar satu kilogram atau lebih, sehingga belum tersedia banyak pilihan kemasan kecil untuk konsumen,” ujar Ketua KKN T 18 Umsida, Ibnu Sina.
Melihat kondisi tersebut, Ibnu dan tim membantu membuat toko sendiri di Shopee agar Permen Jahe Restu dapat dipasarkan dengan identitas usahanya sendiri.
Kehadiran toko digital tersebut juga membuka peluang untuk menawarkan produk dalam berbagai ukuran kemasan.
Dalam pelatihan, Sri didampingi mulai dari membuat akun, mengatur profil toko, mengunggah foto produk, menyusun deskripsi, hingga memahami tahapan menerima pesanan.
Mahasiswa turut memberikan arahan sederhana mengenai pemilihan foto yang jelas serta pentingnya memberikan pelayanan yang baik kepada pembeli.
“Kami ingin membantu pelaku UMKM agar lebih percaya diri memasarkan produknya secara online. Semoga setelah pelatihan ini, toko Shopee yang sudah dibuat bisa terus digunakan dan dikembangkan,” terang Ibnu..
Sri mengaku sebelumnya belum pernah mencoba membuka toko di marketplace karena pemasaran produknya masih bergabung dengan usaha milik saudaranya.
Setelah mendapatkan penjelasan secara bertahap, ia mulai memahami cara mengoperasikan toko tersebut.
“Awalnya saya bingung cara membuat toko online. Setelah dijelaskan satu per satu, ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Semoga nanti produk kami bisa dikenal lebih luas,” ungkapnya.
Pemasaran Digital UMKM Kuliner
Mengusung program serupa, KKN T 23 Umsida mendampingi Kowiyah, pelaku usaha kuliner di Desa Kalimati.
Ia memproduksi makanan ringan, jajanan basah, kue kering, dan menerima pesanan makanan untuk berbagai acara.
Pendampingan diawali dengan diskusi mengenai kebutuhan usaha dan tahapan pendaftaran akun Shopee Food.
Mahasiswa kemudian membantu menyiapkan berbagai materi yang diperlukan agar produk dapat ditampilkan dengan baik pada aplikasi.
Salah satu tahapan yang dikerjakan adalah pengambilan foto produk.
Beberapa menu yang didokumentasikan meliputi micuan, pisang kembung, seblak, serta aneka minuman.
Foto-foto tersebut disiapkan sebagai katalog digital yang nantinya digunakan pada akun Shopee Food milik Kowiyah.
Selama ini, pemasaran usaha Kowiyah lebih banyak dilakukan secara langsung dan mengandalkan pelanggan tetap.
Karena itu, penggunaan layanan pemesanan makanan secara daring diharapkan dapat membuka akses kepada konsumen yang lebih luas.
Kowiyah mengatakan bahwa kehadiran mahasiswa membantu dirinya memahami tahapan pengembangan pemasaran melalui platform digital, terutama dalam menyiapkan tampilan produk yang sebelumnya belum dimiliki.(Zahro/Feby)



