Kartini “Kebaya Syariat”

IDEA JATIM, MALANG – Begitulah Prof Athiroh. Nama lengkapnya mentereng: Prof. Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, S.Si., M.Kes. Jabatan mentereng: Kepala Laboratorium Terpadu UNISMA. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Kalau bicara, tegas. Penuh makna.

​Maka setiap Peringatan Hari Kartini, dia tidak mau terjebak pada urusan konde dan kebaya semata. “Jangan hanya seremonial,” katanya.

​Bagi Prof Athiroh, Kartini itu bukan soal baju. Kartini itu soal mental. Juga spiritual. Soal perpindahan. Dari kegelapan menuju cahaya. Dia bahkan punya cantolan ayatnya: Minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr. Surah Al-Baqarah 257.

​Sains ketemu agama. Di tangan Prof Athiroh, keduanya tidak bertengkar. Malah berangkulan.

​Dia melihat Kartini sebagai wasilah. Perantara. Pintu masuk bagi perempuan untuk bangkit lewat pendidikan. Mengubah nasib dari yang dulunya terbelenggu menjadi cerdas. Dari yang “ndeprok” di dapur, menjadi pemain di panggung dunia.

​Tapi, Prof Athiroh punya garis tegas. Ini yang menarik.

​Di tengah arus emansipasi yang kadang kebablasan, dia justru kembali ke akar. Ke syariat. Dia mencontohkan dua sosok raksasa dalam sejarah Islam: Siti Khadijah dan Siti Aisyah.

​Khadijah itu pengusaha. Sukses besar. Kaya raya. Mandiri secara ekonomi. Sedangkan Aisyah? Dia guru bagi para ulama. Cerdasnya minta ampun. Hafal ribuan hadis.

​Dua-duanya punya peran publik yang luar biasa. Tapi, dua-duanya tetap berada dalam koridor adab. “Islam itu sudah memberi kesetaraan untuk beramal saleh,” tegasnya. Dasarnya? Surah An-Nahl ayat 97.

​Prof Athiroh sendiri adalah bukti hidup. Dia ilmuwan. Peneliti. Tangannya sudah melahirkan belasan buku. Paten penelitiannya berderet. Dia berkutat dengan laboratorium dan data digital.

​Dia tidak mau kalah dengan yang muda. Dia bicara soal digitalisasi. Soal inovasi. Dia melek teknologi. Tapi, dia tetap tidak mau meninggalkan filosofi budaya. Kebaya? Boleh saja, tapi otaknya harus digital.

​Ada satu hal yang membuat saya tertegun. Prof Athiroh bicara soal fisiologi tubuh. Ini jarang dibahas tokoh emansipasi lain.

​Dia bilang, perempuan itu punya sisi hormonal dan emosional yang dominan. Itu fakta biologi. Maka, menjadi pemimpin perempuan itu beratnya di sini: harus bijak. Harus tahu kapan emosi sedang tinggi agar keputusan tetap maslahat. Tetap dingin di kepala meski hati sedang bergolak.

​Lalu soal kodrat. Dia tidak malu-malu bicara soal ASI. Sesibuk apa pun di laboratorium, sesukses apa pun memimpin riset, kewajiban menyusui anak selama dua tahun adalah harga mati. Itu perintah Al-Qur’an. Karier cemerlang tidak boleh jadi alasan untuk menelantarkan amanah kecil di rumah.

​Bagaimana caranya? Dia punya mantra: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan dapat.

​Prof Athiroh mengelola waktu 24 jam dengan sangat ketat. Manajemen waktu adalah kunci. Disiplin riset adalah keharusan. Menjaga amanah dana hibah penelitian adalah integritas. Semua itu dia kerjakan sambil tetap menjadi uswah—teladan—bagi keluarganya.

​Bagi Prof Athiroh, menjadi “Kartini Masa Kini” itu sederhana tapi berat: berani berkarya, berani memimpin, melek teknologi, tapi kakinya tetap menginjak bumi syariat.

​Dia menutup obrolan dengan visi yang jernih. Ilmu itu harus barokah. Harus bermanfaat. Habis gelap harus benar-benar terbit terang. Terang karena ilmu, terang karena iman.

​Itulah emansipasi ala Prof Athiroh. Bukan emansipasi yang melawan kodrat, tapi emansipasi yang memperkuat martabat. Hebat. (*)

Berita Terkini

Kartini di Ruang Kelas SD Islam Sabilillah Malang 2: Saat Ibu Menjadi Pahlawan Nyata

IDEA JATIM, MALANG - Hari Kartini tidak harus selalu...

Gelar UTBK-SNBT 2026, Universitas Brawijaya Siagakan Infrastruktur Canggih

IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Brawijaya (UB) resmi memulai...

Kartini Masa Kini : Dwi Retno Palupi Wujudkan Madrasah Unggul Berkarakter dan Mendunia

IDEAJATIM.ID, MALANG – Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng...
spot_img
Berita Terkait