Transformasi Ruang Kelas Menjadi Laboratorium Hidup melalui Deep Learning, STEM, dan Pembelajaran Bermakna


Pewarta: Ernaz Siswanto, M.Pd
Kontributor: Idea Jatim

Sumber Brantas-Kota Batu — Rapor Pendidikan yang menunjukkan penurunan pada sektor pembelajaran menjadi alarm penting bagi SDN Tulungrejo 03 untuk segera berbenah. Sekolah tidak ingin terjebak dalam rutinitas pembelajaran yang hanya mengejar ketuntasan materi, sementara siswa kehilangan makna belajar dan guru semakin dibebani target kurikulum yang menumpuk.

Berangkat dari kegelisahan itu, satu-satunya SD di Desa Sumber Brantas, Kota Batu itu, menggelar kegiatan In-House Training (IHT) sebagai langkah strategis untuk menyegarkan kembali praktik pembelajaran para guru. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya sekolah dalam menyambut arah kebijakan pendidikan baru yang digagas Menteri Pendidikan RI, Dr. Abdul Mu’ti, melalui konsep Deep Learning atau pembelajaran mendalam.

SDN Tulungrejo 03

Hadir sebagai narasumber, Dr. Nurwidodo, M.Kes., pakar kurikulum nasional sekaligus penulis buku Guru dan Pendidikan Berkemajuan, membimbing para guru memahami bagaimana ruang kelas dapat diubah menjadi tempat belajar yang hidup, bermakna, dan membahagiakan.
Dalam pemaparannya, Dr. Nurwidodo menjelaskan bahwa Deep Learning dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu Mindful Learning (pembelajaran dengan kesadaran penuh), Meaningful Learning (pembelajaran yang bermakna), dan Joyful Learning (pembelajaran yang membahagiakan).

Namun menurutnya, tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah beban kurikulum yang terlalu padat. Guru sering merasa dikejar target penyelesaian materi sehingga pembelajaran kehilangan kedalaman.

“Kalau semua materi harus ditelan sekaligus, anak bisa ‘keselek’,” ungkapnya disambut senyum para peserta.

Sebagai solusi, ia mengenalkan konsep cross-cutting curriculum, yaitu menyilangkan berbagai muatan pelajaran dan hanya mengambil materi-materi yang esensial untuk dipelajari secara terintegrasi. Pendekatan ini dipadukan dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) agar pembelajaran lebih kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata.

SDN Tulungrejo 03

Menurutnya, STEM bukanlah metode atau model pembelajaran yang memiliki langkah baku, melainkan cara pandang dalam membangun pengalaman belajar yang utuh. Model pembelajaranlah yang memiliki sintaks, seperti Project-Based Learning (PjBL) atau Inquiry Learning.

Agar para guru tidak berhenti pada tataran teori, kegiatan IHT dirancang dalam bentuk praktik langsung. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta menjalankan proyek STEM sederhana menggunakan alat dan bahan yang mudah ditemukan di sekitar sekolah.

Pada proyek pertama, setiap kelompok diminta membuat vertical garden menggunakan sedotan plastik, stik es krim, lem, dan tusuk gigi. Meski menggunakan bahan sederhana, hasil karya tiap kelompok menunjukkan karakter dan pendekatan yang berbeda.

Ada kelompok yang memilih fokus menyelesaikan satu karya utama dengan detail dan struktur yang kuat. Menurut Dr. Nurwidodo, hal itu menunjukkan tingginya kemampuan kolaborasi dalam tim. Sementara kelompok lain mampu menghasilkan beberapa variasi karya sekaligus dalam waktu yang sama, yang dinilai mencerminkan kreativitas tinggi.

Suasana pelatihan semakin hidup ketika memasuki proyek kedua, yaitu membuat alat penyaring air keruh dari botol plastik bekas, pasir, kapas, dan arang. Kelas mendadak berubah menjadi laboratorium saintifik mini. Para guru melakukan eksperimen, mengamati hasil, lalu mendiskusikan penyebab air masih tampak keruh atau mengapa susunan bahan tertentu menghasilkan air yang lebih jernih.

Melalui proses tersebut, peserta mengalami secara langsung bagaimana Inquiry Learning bekerja dalam pembelajaran. Mereka tidak sekadar menerima teori, melainkan membangun pengetahuan melalui proses mencoba, gagal, memperbaiki, lalu menemukan solusi.

Dari dua simulasi sederhana itu, tampak jelas bagaimana keterampilan Abad 21 terbentuk secara alami. Jika ini diterapkan di kelas, maka murid akan mengalami sendiri proses berpikir kritis (Critical Thinking), kreativitas (Creativity), komunikasi (Communication), dan kolaborasi (Collaboration) yang dikenal sebagai keterampilan 4C.

Dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang itu, juga menegaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak boleh dipahami secara dangkal. Selama ini, konsep Joyful Learning sering dimaknai sekadar membuat kelas ramai dengan tepuk tangan dan permainan. Padahal, menurutnya, kebahagiaan belajar yang sejati lahir ketika siswa merasa tertantang, penasaran, lalu berhasil menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya.
“Itulah kebahagiaan yang substantif. Anak akan merasa senang karena berhasil memecahkan masalah. Dari situ mereka akan ketagihan belajar dan membaca,” jelasnya.

Ia juga menepis kekhawatiran guru terkait isu Koding dan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini ramai dibicarakan dalam kebijakan pendidikan nasional. Menurutnya, Koding dan AI sejatinya telah menjadi bagian dari pendekatan STEM dan tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan.

Melalui kegiatan IHT ini, SDN Tulungrejo 03 Kota Batu menunjukkan komitmennya untuk terus bergerak dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman. Sekolah tidak lagi ingin menjadikan ruang kelas sebagai tempat hafalan yang membosankan, melainkan sebagai laboratorium hidup tempat siswa belajar berpikir, bereksperimen, bekerja sama, dan menemukan makna belajar yang sesungguhnya.

Dari ruang-ruang kelas sederhana di desa Sumber Brantas ini, langkah kecil menuju pendidikan yang lebih bermakna itu mulai ditata. Sebuah ikhtiar untuk menyiapkan generasi tangguh yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (Ernaz)

Berita Terkini

Jelang Idul Adha, Pemkab Pasuruan Gelar Pasar Murah di Pasrepan

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447...

Bupati Klaim Mojokerto Siap Bersolek Jadi Destinasi Bisnis

IDEAJATIM.ID, MOJOKERTO - Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengklaim Kabupaten...
spot_img
Berita Terkait