IDEAJATIM.ID, SIDOARJO – Sesi diskusi dalam kuliah umum bersama H Anies Rasyid Baswedan SE MPP PhD di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berlangsung interaktif.

Berbagai pertanyaan dari peserta mengangkat isu kepemimpinan, kepercayaan publik, hingga kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Anies mengatakan bahwa pemimpin tidak bekerja sendiri, melainkan bersama tim.
“Partner itu bukan hanya satu orang, tapi tim. Yang penting dia kompeten, berintegritas, punya rekam jejak, dan satu ideologi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa prinsip tersebut bukan hanya digunakan untuk memilih partner, tetapi juga untuk membentuk tim yang solid dalam menjalankan kepemimpinan.
Anies juga menanggapi terkait rencana pencalonannya kembali di pesta demokrasi 2029.
“Untuk proses 2029 kita lihat bersama-sama saja, doa bi doa,” tuturnya.
Menjawab soal pemanfaatan media sosial dan komunikasi publik, Pencetus indonesia mengajar itu menekankan pentingnya membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
Ia mencontohkan pengalamannya saat memimpin DKI Jakarta dengan menghadirkan berbagai kanal komunikasi bernama Jakarta Kini (Jaki), yang bisa menjangkau aspoirasi baik digital maupun langsung hingga ke tingkat bawah pemerintahan.
“Yang pertama adalah membuka kanal agar semua aspirasi bisa masuk,” ujarnya.
Aspirasi tersebut kemudian dicatat dalam sistem dan dipastikan memiliki tindak lanjut hingga tahap eksekusi.
Menurutnya, pemimpin harus siap mendengar berbagai suara masyarakat, termasuk kritik dan perbedaan pandangan.
Anies juga menjelaskan, jika masuk di wilayah pemerintahan, maka harus siap untuk mendengarkan rakyat yang bersuara dengan sekeras apapun, dan itu harus karena memang pekerjaannya itu berinteraksi dengan masyarakat yang beragam.
“Kita tidak bisa memaksa warga berbicara sopan dan kita tidak bisa melarang karena itu cara warga menyampaikan pandangannya. Bagian kita adalah mendengar, berdialog, dan mencari jalan keluar bersama,” tegasnya.
Menanggapi isu kebijakan publik, Anies menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan tidak hanya bersifat programatik, tetapi juga perlu berbasis gerakan (movement).
Menurutnya, memberikan kepercayaan kepada masyarakat justru dapat menghasilkan dampak yang lebih besar.
Ia mencontohkan program sarapan di Jakarta yang melibatkan langsung masyarakat dalam pelaksanaannya.
“Pendekatannya bukan hanya program, tapi movement. Berikan kepercayaan kepada rakyat,” ujarnya.
Hasilnya pun tak terduga. Kebijakan tersebut disambut dengan semangat kompetitif oleh para warga saat itu.
Terkait kepercayaan publik, Anies menyampaikan bahwa kepercayaan dapat dipulihkan, meskipun membutuhkan waktu dan upaya yang konsisten.
Ia menekankan pentingnya memahami penyebab turunnya kepercayaan, baik dari sisi kompetensi, integritas, maupun pendekatan.
Dalam sesi diskusi yang terakhir, Anies menjelaskan tentang solusi jika ada kebijakan yang dirasa prakteknya tidak sesuai dengan harapan.
Menurutnya, pemegang kewenangan harus terbuka dengan koreksi dan kritik.
“Mengoreksi adalah hak rakyat karena suatu kebijakan dibuat dengan uang tersebut sehingga itu adalah uang yang harus dipertanggungjawabkan,” jelas tokoh yang pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina itu..
Dalam mengukur keberhasilan kebijakan, Anies menekankan pentingnya membandingkan antara rencana dan pelaksanaan.
Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam mengawasi kebijakan, termasuk memberikan kritik sebagai bentuk kontrol sosial, terutama bagi mahasiswa.
“Mahasiswa harus kritis, kalau mahasiswa memuji itu tidak menarik, harus bagian mengkritisi,” tandasnya.
Ia meminta agar mahasiswa terus berpikir kritis.
Menurutnya, mereka harus bisa menunjukkan mana salah dan kurangnya suatu kebijakan.
“Kalau bisa tunjukkan koreksinya. Kalau tidak bisa tidak apa-apa. Karena bagian rakyat cukup sampai mengkoreksi suatu kebijakan saja,” pungkasnya menutup diskusi.
Ketua BEM Umsida, Bagus Arif Rizki Refandi, menyampaikan bahwa kegiatan kuliah umum bersama Anies Baswedan berjalan lancar dan kondusif
“Alhamdulillah kondusif, walaupun memang antusias teman-teman sangat tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu materi yang paling berbobot adalah mahasiswa tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar kelas, seperti organisasi dan aktivitas eksternal lainnya.
Hal tersebut dinilai penting untuk membentuk karakter kepemimpinan transformasional.
“Mahasiswa sekarang harus bisa menempatkan diri tidak hanya di akademik, tapi juga di kegiatan eksternal agar bisa produktif dan membangun kepemimpinan,” ungkapnya. (*)





