IDEA JATIM, MALANG – Ada pemandangan berbeda di Masjid SMP Islam Sabilillah (SMPIS) Malang selama Ramadan 1447 H ini. Jika biasanya mimbar kultum sebelum salat Dzuhur didominasi oleh deretan guru atau pemateri eksternal, kini giliran para siswa yang unjuk gigi menyampaikan pesan-pesan religius di hadapan ratusan rekan sejawatnya.
Inovasi ini menjadi bagian dari program unggulan Pesantren Ramadan bertajuk “Ramadan Mubarok Sabilillah Penuh Cinta”.
Waka Kurikulum SMPIS Malang, Miftakhul Jannah, S.Pd., mengungkapkan bahwa pelibatan siswa secara langsung di atas mimbar merupakan upaya sekolah untuk melatih kepercayaan diri dan kemampuan orasi santri sejak dini.
”Tahun ini ada yang sangat berbeda. Jika tahun lalu kultum diisi oleh guru, mulai tahun ini sepenuhnya kami serahkan kepada siswa. Perwakilan dari kelas 7 hingga 9 kami jadwalkan secara bergantian untuk mengisi tausiyah singkat sebelum salat Dzuhur berjamaah,” ujar Miftahul Jannah.
Program kultum siswa ini dirancang tidak hanya sebagai pengisi waktu menunggu azan, tetapi sebagai laboratorium kepemimpinan. Setiap orator cilik dituntut untuk menyiapkan materi yang relevan, mulai dari etika pergaulan Islami hingga hikmah menjalankan puasa di era digital.
Selain program kultum, Miftakhul Jannah menjelaskan bahwa kurikulum Ramadan tahun ini terintegrasi dalam kegiatan harian selama tiga minggu.
Setiap pagi, siswa menjalani rutinitas spiritual yang padat namun bermakna.
”Kami memulai hari dengan salat dhuha, lalu masuk ke kajian kitab Aqidatul Awam. Setelah itu, ada metode tadarus bersama yang unik; satu kelas membaca juz yang sama secara serentak sehingga tercipta harmoni literasi Al-Qur’an di lingkungan sekolah,” tambahnya.
Tak berhenti di mimbar masjid, syiar Islam para siswa SMPIS juga merambah dunia maya. Siswa didorong untuk aktif menyimak dan mereview konten dakwah kreatif seperti program Kalam Senja di kanal YouTube resmi Sekolah Sabilillah.
Untuk memastikan kualitas ibadah tetap terjaga hingga ke rumah, sekolah menerapkan sistem evaluasi harian yang ketat namun edukatif. Siswa diwajibkan mengisi jurnal aktivitas ibadah, mulai dari salat fardhu hingga tarawih yang harus dibuktikan dengan tanda tangan imam masjid setempat.
”Kami ingin Ramadan ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar membekas menjadi karakter. Melalui kultum dan berbagai rangkaian kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya menjadi penikmat ilmu, tapi juga menjadi pembawa pesan kebaikan bagi sesamanya,” pungkas Miftakhul Jannah. (*)




