Peringati Hari Pekerja Sosial di UMM, Pakar Tekankan Pentingnya AI dan Empati di Era Digital

IDEA JATIM, ​MALANG – Di tengah dunia yang kian dikendalikan oleh teknologi cerdas, muncul sebuah pertanyaan kritis: masih relevankah profesi pekerja sosial saat ini? Isu tajam ini menjadi pemantik utama dalam peringatan Hari Pekerja Sosial Internasional yang digelar oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026).

​Menjawab tantangan tersebut, UMM menghadirkan kuliah tamu internasional bertajuk “Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society”. Forum ini menghadirkan pakar lintas negara, di antaranya Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. dan Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

​Dalam pemaparannya, Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono menegaskan bahwa pekerja sosial masa kini diharamkan bersikap anti-teknologi. Ia mendorong pergeseran layanan konvensional menuju ekosistem hibrida.

​”Teknologi itu alat, bukan pengganti manusia. Karena itu, penting membangun smart social service yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan analisis data. Pekerja sosial kini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan pendampingan, tetapi juga keterampilan komunikasi digital hingga asesmen berbasis teknologi,” tegas Fauzik.

​Meski mendorong modernisasi melalui kurikulum Digital Social Work, Fauzik memberikan catatan keras mengenai batasan teknologi. ​”Tantangan terbesar di era digital justru bagaimana menjaga empati dan melindungi privasi data klien di tengah layanan yang serba terotomatisasi. Modernisasi tidak boleh menggerus nilai kemanusiaan,” tambahnya.

​Senada dengan hal tersebut, Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Malaysia menyoroti perlunya penguatan profesi dari sisi hukum dan standardisasi, terutama saat masyarakat mulai bergeser dari nilai kolektivisme menuju individualisme.

​”Profesi pekerja sosial membutuhkan pengakuan yang jelas melalui sistem hukum, standardisasi pendidikan, dan legitimasi politik. Mengadaptasi konsep Andrew Abbott, batas ruang kerja dan kewenangan pekerja sosial harus ditegaskan agar tidak terjadi tumpang tindih,” papar Suhaimi.

​Ia juga menawarkan solusi melalui pendekatan yang ia sebut sebagai ‘Global Standard, Local Practice’.
​”Kita harus memastikan praktik kerja sosial berstandar internasional, namun tetap relevan dan peka terhadap budaya lokal. Ini wajib didukung dengan kolaborasi lintas negara dan peningkatan jam praktik lapangan bagi mahasiswa,” pungkasnya.

​Melalui forum ini, UMM membuktikan bahwa pekerjaan sosial akan selalu relevan. Sekencang apa pun disrupsi teknologi terjadi, dunia akan tetap membutuhkan sentuhan empati, solidaritas, dan keberpihakan nyata pada kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mesin. (*)

Berita Terkini

Animal Feeding Activity di Batu Secret Zoo

IDEA JATIM, BATU - Berlibur ke kebun binatang tentu...

Inovasi Intervyou Karya Mahasiswa UM, Solusi AI untuk Persiapan Wawancara Kerja yang Diakui Dunia

IDEA JATIM, ​MALANG – Di tengah ketatnya persaingan bursa...

Civitas Akademika Unisma Perkuat Sanad ke Syaikhona Kholil Bangkalan

IDEA JATIM, ​MALANG – Suasana Masjid Ainul Yaqin Universitas...
spot_img
Berita Terkait