IDEA JATIM, MALANG – Graha Cakrawala itu besar. Luas. Sabtu lalu, lalu, gedung milik Universitas Negeri Malang (UM) berguncang. Bukan karena gempa, tapi karena energi yang meluap dari sana.
Ada 700 anak. Bayangkan. Semuanya bergerak. Semuanya bersuara. Mereka adalah siswa SD Insan Amanah. Hari itu mereka “menguasai” panggung dalam gelaran SPEKTA III. Temanya berat, tapi keren: Jawa Dwipa Mangkataya.
Saya suka diksi itu. Jawa yang bangkit. Jawa yang bersinar.
Kepala Sekolahnya, Dr. Suhardini Nurhayati, M.Pd—panggil saja Bu Dini—punya nyali besar. Dia tidak mau sekadar menampilkan tari-tarian yang sudah umum. Dia ingin anak-anaknya masuk ke relung yang lebih dalam. Sampai ke Banten. Sampai ke kehidupan Suku Baduy yang sunyi itu.
”Kita angkat sisi yang selama ini luput dari perhatian,” ujar Bu Dini.
Saya membayangkan betapa sibuknya persiapan itu. Ternyata? Hanya dua minggu! Edan. Dalam dua minggu, 700 anak harus sinkron. Padahal, tugas mereka bukan cuma menari. Mereka tetap harus mengaji. Tetap harus belajar matematika. Tetap ekstrakurikuler.
Tapi itulah kuncinya: Seni bukan beban.
Bagi Bu Dini, seni adalah alat pembebasan. Agar otak kanan dan kiri tidak berantem. Agar anak-anak punya empati. “Seni harus mencerdaskan dan membebaskan,” tegasnya. Saya setuju 100 persen. Tanpa seni, sekolah hanya akan jadi pabrik penghafal rumus yang kering kerontang.
Yang lebih membuat saya angkat topi: Literasi.
Di tengah hiruk-pikuk tarian, ada momen peluncuran buku. Tidak tanggung-tanggung: 14 judul buku. Semuanya karya siswa. Hasil coretan mereka selama satu semester. Ini luar biasa. Menulis itu sulit. Membukukan tulisan itu jauh lebih sulit. SD ini berhasil melakukannya secara massal.
Lalu ada penghargaan Duta Karakter. Ini menarik. Di zaman sekarang, pintar saja tidak cukup. Banyak orang pintar tapi tidak punya karakter. Di Insan Amanah, anak yang paling sopan, paling disiplin, dan paling mandiri justru diberi panggung paling depan. Mereka jadi selebriti karena akhlaknya.
Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, Ketua Yayasannya, tampak sumringah. Beliau tahu benar: seni budaya adalah fondasi agar anak tidak rendah diri di masa depan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Suwarjana, sampai menyebut ini sebagai wujud nyata “Malang Mbois Berkelas”. Memang mbois. Mana ada sekolah yang berani mengerahkan 700 siswa dalam satu panggung kolosal dengan persiapan sesingkat itu kalau bukan karena manajemen yang rapi.
Sabtu itu, 1.500 wali murid pulang dengan dada membusung. Bangga.
Anak-anak mereka tidak hanya belajar tentang Pulau Jawa yang gemah ripah loh jinawi dari buku teks yang membosankan. Mereka merasakannya. Mereka menarikannya. Mereka menuliskan ceritanya.
Inilah pendidikan yang sebenarnya: Memberi ruang bagi bakat untuk bersinar, tanpa mencabut akar budayanya.
Jawa sudah bangkit di Graha Cakrawala. Lewat tangan-tangan mungil yang masa depannya masih sangat panjang. Kita butuh lebih banyak “SPEKTA” di sekolah-sekolah lain. Agar Indonesia tidak hanya berisi orang pintar, tapi orang-orang yang tahu cara menghargai sejarahnya.
Mangkataya!





