IDEAJATIM.ID, PASURUAN โ Sejumlah kios milik Pemerintah Kota Pasuruan hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa bangunan yang telah lama berdiri bahkan masih menyisakan banyak kios kosong karena minimnya peminat.
Dua di antaranya adalah Kios Kuliner di Jalan Dewi Sartika dan Kios Mebel di Pasar Bukir. Padahal, pembangunan fasilitas tersebut menelan anggaran miliaran rupiah dari APBD.
Kios Kuliner di Jalan Dewi Sartika, misalnya, dibangun pada 2021 dengan anggaran sekitar Rp 2,2 miliar. Bangunan dua lantai itu memiliki total 18 kios, masing-masing sembilan kios di setiap lantai. Pusat kuliner tersebut mulai difungsikan pada 2023.
Namun hingga kini pemanfaatannya belum maksimal. Dari total 18 kios yang tersedia, baru sembilan kios di lantai bawah yang terisi. Sementara seluruh kios di lantai dua masih kosong.
Kepala UPTD pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan, Luthfan Asysyam mengatakan pihaknya terus berupaya mencari penyewa agar pusat kuliner tersebut bisa segera ramai.
Menurutnya, tidak ada persyaratan khusus bagi warga yang ingin menyewa kios tersebut. Namun konsep yang diusung tetap sebagai pusat kuliner, sehingga penyewa diharuskan menjual makanan dan minuman.
โKami sudah berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk membantu mempromosikan kios ini. Sempat ada yang menyatakan berminat, tetapi sampai sekarang belum ada kelanjutannya,โ ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada Kios Mebel di Pasar Bukir. Bangunan yang didirikan pada 2022 dengan anggaran Rp 8,7 miliar itu awalnya diproyeksikan untuk menampung para pedagang korban kebakaran pasar mebel pada 2017.
Di dalam kompleks tersebut terdapat berbagai fasilitas seperti area parkir, gudang, toilet hingga ruang pertemuan. Namun dari puluhan kios yang tersedia, hanya empat kios yang saat ini terisi. Sisanya masih kosong karena sejumlah penyewa memilih mengundurkan diri.
Luthfan menjelaskan, sebagian besar penyewa yang mundur merupakan pedagang lama yang sudah berusia lanjut dan tidak memiliki penerus usaha.
โBanyak yang memilih tidak melanjutkan sewa karena faktor usia dan tidak ada anak yang meneruskan usaha mebel,โ jelasnya.
Selain itu, perubahan pola belanja masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, banyak konsumen memilih membeli mebel secara daring atau di toko-toko yang bermunculan di luar kawasan pasar.
โSekarang masyarakat juga banyak membeli secara online. Selain itu penjual mebel juga menyebar, tidak lagi terpusat di pasar mebel, misalnya di sepanjang Jalur Lingkar Selatan (JLS). Ini menjadi tantangan bagi kami,โ tambahnya.
Sebagai upaya menghidupkan kembali aktivitas perdagangan, Pemkot Pasuruan terus melakukan sosialisasi dan menawarkan kios-kios kosong tersebut kepada masyarakat. Namun hingga kini minat penyewa masih tergolong rendah. (*)



