IDEA JATIM, PASURUAN – Pondok Pesantren Canga’an di Bangil, Kabupaten Pasuruan, menjadi salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang berdiri sejak 1427 M. Pesantren ini tercatat sebagai tempat mondok sejumlah ulama besar Nusantara dan hingga kini tetap menjaga sanad ilmu tauhid secara turun-temurun.
Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Jawa Timur. Di wilayah inilah Pondok Pesantren Canga’an, lembaga pendidikan Islam yang diyakini telah eksis sejak 1427 Masehi dan menjadi salah satu pesantren tertua di Indonesia.
Di tengah modernisasi pendidikan, Pesantren Canga’an tetap berdiri sebagai penjaga warisan keilmuan Islam yang telah mengakar lebih dari enam abad di Bangil.
Pengasuh Ponpes Canga’an, KH Achmad Ridlo’i Cholili, menuturkan bahwa cikal bakal pesantren tidak lepas dari sosok KH Abdul Qodir yang dikenal sebagai Mbah Lowo Ijo. Dalam perjalanannya, salah satu putra Mbah Lowo Ijo, yakni KH Sayyidin, mendapat perintah dari gurunya untuk memberi nama pesantren tersebut.
“Dulu ayah saya, Kiai Sayyidin, diminta oleh guru ngajinya untuk memberi nama Pondok Canga’an ini,” ujar KH Ridlo’i, Jumat (20/2/2026).
Sebagai penerus kedelapan, ia menyebut banyak ulama besar pernah menimba ilmu di pesantren ini. Di antaranya Syaikhona Kholil, serta pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’ari. Selain itu, KH Chasbullah juga disebut pernah nyantri di Canga’an.
Jejak sejarah itu masih terawat hingga kini. Salah satunya kamar yang diyakini pernah ditempati para ulama tersebut dan dijadikan tempat tabarukan oleh para peziarah.
Tak hanya itu, terdapat sumur yang konon digali oleh Syaikhona Kholil saat Bangil dilanda kemarau panjang. Air sumur tersebut hingga kini masih dimanfaatkan santri dan masyarakat sekitar.
Ada pula kentongan tua yang dipercaya memiliki kisah karomah. Menurut penuturan pengasuh, bunyinya dahulu diyakini terdengar hingga Bangkalan, Madura.
Ciri khas lain Ponpes Canga’an adalah pohon sawo bercabang tiga dari akar, yang dimaknai sebagai simbol ilmu tauhid: sifat wajib, jaiz, dan muhal bagi Allah.
Tradisi lama juga tetap dipertahankan, seperti pembagian asrama (ribath) berdasarkan asal daerah santri, mulai dari Ribath Bangkalan, Sumenep, hingga ribath untuk santri asal Jawa seperti Kudus dan Bonang.
Hingga kini, Pesantren Canga’an tetap konsisten menjaga sanad ilmu tauhid dengan menggunakan kitab-kitab tulisan tangan bermakna Jawa Pegon.
Perkembangan juga terjadi dalam sistem pendidikan. Jika awalnya hanya menerima santri laki-laki, pada 1978 didirikan Pondok Pesantren Putri Roudlotul Aqo’idi.
Ketua Yayasan Roudlotul Aqo’idi Canga’an Bangil, Muhammad Ali Bukhaiti, menjelaskan bahwa nama tersebut bermakna taman yang indah dan nyaman untuk memperkuat aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Awalnya fokus pengajian Alquran untuk anak perempuan sekitar pondok. Lalu berkembang menjadi madrasah hingga membuka SMP, SMA, dan SMK sesuai kebutuhan zaman,” ujarnya. (*)




