IDEA JATIM, MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang sedang berbenah. Besar-besaran. Bukan sekadar cat gedung yang baru, tapi “mesin” organisasinya yang dibongkar.
Jumat (13/3) lalu, suasana di kampus terasa beda. Ada penandatanganan Perjanjian Kinerja Pimpinan. Di ruang sidang universitas. Kedengarannya formal. Sangat birokratis. Tapi bagi Prof. Dodi Wirawan Irawanto, sang Rektor, ini adalah “perang” melawan lambatnya gerak institusi.
Waktunya pendek: Maret sampai Agustus 2026. Ini masa pemanasan. Warming up.
Prof. Dodi tidak mau ada pimpinan unit yang plonga-plongo. Tidak tahu harus berbuat apa. Lewat perjanjian ini, semua harus terang benderang. Siapa melakukan apa. Targetnya berapa.
”Ini bukan seremoni,” tegasnya. Beliau ini Ph.D lulusan luar negeri, tapi bicaranya membumi. Beliau ingin setiap dekan dan kepala unit punya kompas yang jelas.
Targetnya memang belum dipatok setinggi langit. Cukup separuh dulu. Yang penting: budaya kerjanya berubah.
Mindset-nya bergeser.
Lihatlah urusan kurikulum. Harus mutakhir. Jangan itu-itu saja. Penelitian juga begitu. Jangan hanya jadi tumpukan kertas di perpustakaan. Harus ada dampaknya ke masyarakat. Harus ada publikasinya.
Tapi, Prof. Dodi sadar. Menyuruh orang berlari tanpa memberi sepatu itu mustahil.
Maka, keluarlah jurus radikal itu: Fleksibilitas anggaran.
Caranya? Fasilitas keuangan alias kartu ATM diserahkan langsung ke tingkat unit. Ini luar biasa. Biasanya, urusan cairkan dana di kampus itu berbelit.
Harus lewat ini-itu. Meja sana-sini. Capek di jalan.
Sekarang? Birokrasi dipangkas habis. Dana bisa dieksekusi secepat kilat. Asal sesuai program.
Tentu, kepercayaan itu ada harganya: Integritas. Itulah inti dari budaya I-PROGRES yang mereka usung.
Rektor tidak akan memelototi setiap hari. Nanti bulan Juni baru dilihat. Ada monitoring dan evaluasi (Monev). Tapi Prof. Dodi menjamin, Monev ini bukan untuk menghakimi. Bukan untuk cari-cari kesalahan.
”Kami ingin cari solusi. Kalau ada yang macet di Juni, kita bantu supaya Agustus tuntas,” katanya.
Sistemnya adil. Yang larinya kencang, melampaui target, ada reward-nya. Ada hadiahnya. Yang memble? Yang gagal tanpa alasan kuat? Siap-siap saja anggarannya disunat tahun depan.
Itulah konsekuensi logis. Adil. Tegas.
UNITRI sedang berlari. Dan Prof. Dodi sudah memberikan kuncinya. Kini tinggal bagaimana para pimpinan unit itu menginjak gasnya. (*)



