IDEA JATIM, MALANG – Anggapan adanya universitas “anak emas” dalam seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi ditepis. Dalam sosialisasi yang digelar di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (5/2), LPDP memastikan bahwa akses studi lanjut kini murni berbasis kualifikasi dan visi kontribusi.
Kepala Subdivisi Kerja Sama LPDP, Azman Muammar, membakar semangat 300 peserta dengan pernyataan tegas mengenai kesetaraan peluang.
”LPDP milik kita semua. Tidak ada istilah ‘anak emas’ dari universitas tertentu. Siapa pun Anda, selama memenuhi kualifikasi dan memiliki visi jelas untuk Indonesia, Anda punya peluang yang sama,” tegas Azman di hadapan sivitas akademika UM.
Ketajaman sosialisasi ini juga menyasar pada persoalan teknis yang selama ini menjadi “hantu” bagi pendaftar: program studi (prodi) yang tidak terdaftar. Azman memberikan jaminan bahwa pendaftar yang sudah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) tidak perlu patah arang meski prodi mereka belum tercantum di daftar resmi, khususnya untuk jenjang doktoral.
Selama prodi tersebut relevan dan memiliki kredibilitas, LPDP membuka mekanisme peninjauan ulang. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa talenta terbaik tidak terhambat oleh kendala birokrasi daftar prodi.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyebut kolaborasi ini sebagai langkah mendobrak tembok finansial yang sering kali mematikan mimpi akademis mahasiswa dan dosen.
”Sosialisasi ini adalah pintu strategis. UM berkomitmen agar sivitas akademika tidak lagi terbentur persoalan biaya untuk memperluas cakrawala keilmuan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Layla, seorang awardee LPDP yang hadir dalam acara tersebut, mengakui bahwa kejelasan informasi teknis adalah kunci. Ia menekankan bahwa transparansi mengenai skema beasiswa dan administrasi dalam sosialisasi ini berhasil menjawab kebingungan yang selama ini menghantui calon pendaftar. (*)




