IDEA JATIM, MALANG – Senin sore itu, Aula Kampus Universitas Waskita Dharma di Jalan Indragiri V, Purwantoro, tidak seperti biasanya. Tidak ada ketegangan ujian. Tidak ada debat skripsi yang pelik. Yang ada justru kehangatan.
Sore itu, 16 Maret 2026, sivitas akademika Universitas Waskita Dharma berkumpul. Judul acaranya unik: SKS Ramadan.
Bukan Satuan Kredit Semester yang bikin pusing itu. Bukan. SKS di sini punya arti yang lebih adem: Meneguhkan Silaturahmi, Memuliakan Ilmu, dan Menguatkan Spirit Akademik.
Kreatif. Khas orang kampus.
Hadir di sana Ketua Dewan Pembina Yayasan, Dr. H. Sigit Wahyudi. Ada juga Ketua Yayasan, Hj. Khusniyah. Dan tentu saja sang Rektor, Dra. Hj. Pudji Astuti. Lengkap. Dari pimpinan fakultas sampai staf, semua duduk satu majelis.
Tapi, bintang tamunya yang bikin suasana “pecah”.
Siapa? Dr. KH. M. Anas Fauzi An Nachrowi. Anda mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan: Penghulu Viral.
Gus Anas—begitu sapaannya—memang jago kalau soal mencairkan suasana. Tausiyahnya tidak kaku. Tidak seperti kuliah subuh yang bikin mengantuk.
Beliau membawa materi yang berat dengan cara yang enteng. Gayeng. Sesekali diselingi humor yang membuat tawa meledak di aula.
”Orang mulia itu ada empat golongan,” ujar Gus Anas.
Beliau merinci: Para Nabi, Siddikin, Syuhada, dan orang saleh.
Yang menarik adalah ulasannya tentang Siddikin. Siapa mereka? “Mereka yang suka bertaubat,” kata Gus Anas. “Salah sekali, taubatnya bertubi-tubi.”
Itulah waliyullah.
Lalu ada kaum Syuhada. Bukan hanya mereka yang gugur di medan perang. Tapi mereka yang sanggup membunuh nafsunya sendiri demi Rida Allah.
Mendahulukan Allah di atas segala-galanya.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Setidaknya, jadilah orang saleh. Yang taat. Yang patuh. Yang kalau dilarang Allah, ya berhenti. Kalau disuruh, ya berangkat. Sesederhana itu. Tapi praktiknya? Itulah perjuangannya.
Gus Anas sempat membisiki saya di sela acara. “Kampus itu tempat ilmu. Tapi ilmu tanpa karakter itu bahaya. Lewat buka bersama ini, kampus ini sedang menanam ‘ruh’ pada ilmu pengetahuan mereka. Biar cerdasnya tidak kebablasan,” tuturnya mantap.
Suasana benar-benar cair. Sebelum buka, ada istighosah. Ada pembacaan Alquran. Syahdu. Begitu azan Maghrib berkumandang, semua satu komando: salat berjamaah dulu. Baru makan.
Dr. Sigit Wahyudi, sang Ketua Dewan Pembina, tampak tersenyum puas. Beliau ingin Universitas Waskita Dharma bukan sekadar gedung tempat belajar. Beliau ingin Universitas Waskita Dharma menjadi Majelis Ilmu yang berkah.
”Kita ingin kebersamaan ini kuat. Semangatnya kekeluargaan,” kata Dr. Sigit.
Bagi saya, acara sore itu adalah oase. Di tengah kesibukan akademik yang mengejar angka-angka, Waskita Dharma berhenti sejenak. Mengambil “SKS” khusus untuk bekal akhirat.
Malang sore itu memang mendung. Tapi di Aula Indragiri V, hati sedang terang benderang. (*)




