Ramadhan dan Panggilan Taqwa: Membaca Kembali Pesan Ilahi tentang Puasa

IDEA JATIM, OPINI – Ramadhan adalah salah satu bulan yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hadirnya Ramadhan bukan sekadar penanda bagi kita untuk melaksanakan kewajiban berpuasa, juga bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi sebagai undangan Ilahi untuk kembali menata hati, memperbaiki diri dan menguatkan iman. Bulan suci Ramadhan membawa pesan yang mendalam bagi kita, yaitu sebuah ibadah yang menumbuhkan kesadaran spiritual dan moral. Dalam Al-Qur’an, perintah berpuasa bagi umat Islam disampaikan dalam beberapa ayat dan tersirat dengan Bahasa yang lembut dan penuh makna. Hal ini menunjukkan bahwa berpuasa adalah panggilan Allah Swt kepada hamba-Nya untuk naik ke derajat yang lebih tinggi, yaitu ketakwaan.

Ayat-Ayat Perintah Puasa Sebagai Pedoman Ibadah

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang puasa menjadi landasan utama pelaksanaan ibadah puasa bagi umat Islam. Adapun ayat-ayat tersebut yaitu QS. Al-Baqarah ayat 183,184, 185 dan ayat 187.

QS. Al-Baqarah ayat 183 menjelaskan perintah berpuasa bagi setiap orang yang beriman kepada Allah Swt seperti halnya perintah puasa umat terdahulu. Kewajiban berpuasa memiliki tujuan tertentu yaitu agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Pada QS. Al-Baqarah ayat 184 merupakan ayat lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu tentang perintah puasa pada periode awal Islam. Di dalam ayat ini juga dijelaskan tentang betapa Allah Swt memberikan dua kemudahan bagi hamba-Nya. Pertama, bagi umat Islam yang sedang sakit dan sedang dalam perjalanan, maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Lalu ia dapat mengganti puasanya di lain hari setelah bulan Ramadhan. Kedua, bagi umat Islam yang sangat berat untuk berpuasa seperti orang yang sudah tua, maka ia dapat mengganti puasanya dengan membayar fidyah atau memberi orang miskin.

Selanjutnya, Allah Swt berfirman pada QS. Al-Baqarah ayat 185 bahwa pada bulan Ramadhan, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup bagi manusia. Di dalamnya, berisi petunjuk bagi manusia tentang adanya hidayah Allah Swt dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Ayat ini juga memperkuat ayat sebelumnya bahwa Allah Swt menghendaki kemudahan bagi siapa saja yang tidak mampu berpuasa untuk mengganti puasa puasanya di hari lain dan membayar fidyah.

Makna Bertakwa dalam Perintah Puasa

Kata takwa di dalam Al-Qur’an dapat ditemukan dalam beberapa ayat. Penyebutannya pun beragam, yaitu dengan menggunakan fi’il madhi, fi’il mudhari, fi’il amr, isim tafdhil, isim masdar, isim fa’il, maupun isim maf’ul.

Dalam melaksanakan ibadah puasa, telah disebutkan bahwa tujuan akhirnya adalah mencapai derajat takwa. Allah Swt berfirman pada QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat di atas menunjukkan adanya kesinambungan antara syariat dan fitrah manusia. Puasa adalah salah satu cara untuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karena memiliki tujuan untuk mencapai spiritual yang optimal yaitu menuju derajat takwa. Ayat ini mempertegas bahwa inti dari ibadah puasa bukan sekadar aktivitas fisik saja, tetapi juga proses pembentukan kepribadian yang sadar adanya kehadiran Allah Swt dalam setiap aspek kehidupan.

Dijelaskan dalam kitab Tafsir At-Tabari bahwa tujuan puasaلَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ  “agar kamu bertakwa” adalah agar umat Islam berpuasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan maksiat seperti berkata kotor, berbuat buruk kepada orang lain, mengumbar aib orang lain, dan perbuatan buruk lainnya yang telah dilarang oleh Allah Swt.

Firman-firman Allah Swt yang menjelaskan tentang mengajarkan bahwa takwa adalah kepatuhan dan keikhlasan. Ibadah puasa dilakukan dengan penuh kesadaran membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih peka terhadap nilai-nilai kebaikan. Dengan begitu, takwa bukan hanya tercermin dalam hablum minallah (hubungan umat dengan Allah Swt), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama umat manusia).

Berita Terkini

SKS Ramadan di Waskita Dharma: Mengejar IPK Akhirat Bersama Penghulu Viral

IDEA JATIM, MALANG – Senin sore itu, Aula Kampus...

Kios Kuliner Dewi Sartika dan Kios Mebel Pasar Bukir Sepi Peminat, Banyak Lapak Pemkot Pasuruan Kosong

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Sejumlah kios milik Pemerintah Kota Pasuruan...

Operasi Ketupat Semeru 2026, Polres Pasuruan Dirikan 7 Pos Pengamanan Arus Mudik dan Wisata Bromo

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Untuk memastikan arus mudik Lebaran berjalan...

Musrenbang RKPD 2027 Digelar, Bupati Rusdi Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi di Kabupaten Pasuruan

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar Musyawarah Perencanaan...
spot_img