IDEA JATIM, MALANG – Kota Malang mendadak berubah menjadi lautan putih. Sekitar 75 ribu jemaah dari berbagai penjuru Jawa Timur tumpah ruah dalam perhelatan akbar Munajat Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar oleh PWNU Jawa Timur. Suasana meriah yang berbalut kekhidmatan mendalam menciptakan momen spiritual terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah NU di Bumi Jatim.
Namun, di balik megahnya acara, terselip kisah-kisah khidmat yang menyentuh hati. Salah satu potret ketulusan itu datang dari jajaran pengurus MWC NU Lowokwaru.
Seolah tak mengenal lelah, para pengurus MWC NU Lowokwaru telah bersiaga sejak jemaah pertama menginjakkan kaki hingga larut malam. Mereka mengubah semangat pengabdian menjadi tindakan nyata: ribuan porsi makanan dan minuman dibagikan secara gratis kepada para tamu ulama.
Dari kepulan uap kopi dan jahe hangat yang melawan dinginnya malam, hingga tumpukan nasi bungkus dan mi instan, semuanya disajikan dengan senyum tulus. “Ini adalah bentuk cinta kami kepada jamiyyah dan jemaah,” ujar salah satu relawan di lokasi.
Suntikan semangat bagi para relawan ini berakar dari pesan mendalam sang Rais Syuriyah MWC NU Lowokwaru, KH Hamid Manan. Melalui pesan yang menggetarkan sanubari, beliau mengingatkan bahwa momen ini adalah anugerah langka.
”Mungkin berjumpa peringatan satu abad NU hanya sekali seumur kita. Mari kita bergabung dengan para ulama, semoga bersatu di dunia hingga akhirat,” tulis KH Hamid Manan dalam pesannya.
Kalimat tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan bahan bakar bagi seluruh pengurus, badan otonom (Banom), lembaga, hingga ranting untuk terus melayani kaum Nahdliyyin tanpa jeda demi kesuksesan acara.
Perhelatan Munajat 1 Abad NU ini lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi simbol hidup tentang persatuan, penghormatan kepada ulama, dan cinta yang tulus. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Kota Malang dan pemerintah setempat mempertegas wajah NU yang sesungguhnya: merawat tradisi, menjaga harmoni, dan melayani umat.
Malam itu, sejarah bukan hanya ditulis dalam buku, melainkan diukir dalam ingatan setiap jemaah yang hadir—sebuah jejak spiritual yang akan terus diceritakan kepada generasi mendatang sebagai bukti kejayaan 100 tahun Nahdlatul Ulama. (*)



