IDEA JATIM, MALANG – Inovasi di SMP Islam Sabilillah (SMPIS) Malang itu seperti mata air. Tidak pernah berhenti mengalir. Ada saja yang baru setiap tahunnya.

Sabtu (7/2), sekolah ini genap berusia 23 tahun. Masih muda. Tapi lompatannya sudah sangat jauh. Mereka merayakannya tidak hanya dengan seremoni. Tapi dengan dua “senjata” digital baru.
Temanya keren: Digital Brilliance.
Kepala Sekolahnya, Nur Lailiyah—biasa dipanggil Bu Lia—tampak sumringah. Ia meluncurkan dua aplikasi sekaligus. Yang satu untuk mengawal karakter, yang satu untuk membuka dunia.
Pertama, SSC. Singkatan dari SMPIS Smart Character. Ini aplikasi pantau karakter. Berbasis web. Bukan lagi zaman buku saku yang mudah hilang atau terselip. Sekarang, semuanya masuk genggaman ponsel.
Isinya? Aktivitas harian. Shalatnya bagaimana. Mengajinya sampai mana. Literasinya jalan atau tidak. Semua ada di sana.
Bagi siswa berprestasi mereka juga bisa upload sertifikat atau piagamnya. Guru memvalidasi di sekolah. Orang tua memvalidasi di rumah. Klop.
Hebatnya lagi, aplikasi ini pakai sistem poin. Ada unsur gamifikasi. “Anak-anak itu suka tantangan. Suka skor. Kita bikin supaya mereka terpacu berbuat baik setiap saat,” ujar Bu Lia. Benar juga. Kebaikan yang dikompetisikan akan menjadi kebiasaan.
Lalu ada yang kedua : V-Library. Perpustakaan Virtual Reality.
Ini hadiah yang sangat berharga. Datangnya dari orang tua siswa sendiri. Inisiatif mereka begitu kuat. Mereka ingin anak-anaknya tidak hanya membaca teks, tapi “merasakan” ilmu pengetahuan.
Bayangkan. Anak-anak pakai kacamata VR. Mereka bisa “masuk” ke dalam organ tubuh manusia. Menjelajahi tata surya. Atau melihat cara kerja atom. Belajar sains tidak lagi membosankan. Begitu seru. Begitu nyata.
Ada dua unit yang sudah siap di perpustakaan. Bu Lia berkali-kali berterima kasih pada wali murid. Sinergi seperti inilah yang membuat sekolah maju.
Tapi Sabilillah bukan hanya soal mesin dan aplikasi. Akar mereka tetap kuat di literasi.
Di hari yang sama, mereka meluncurkan 11 buku baru. Bayangkan, 11 buku! Ada yang ditulis perorangan, ada yang antologi. Bahkan gurunya pun ikut menulis. Ini membuktikan bahwa di tengah gempuran digital, budaya membaca dan menulis di SMPIS tidak mati.
Lalu ada penghargaan untuk para peneliti cilik. Mereka yang lolos Bina Talenta dan juara Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Sekolah memberi karpet merah bagi mereka yang berani melakukan riset. ”Ini kebanggaan bagi orang tua,” kata Bu Lia mantap.
SMP Islam Sabilillah di usia 23 tahun ini menunjukkan satu hal : teknologi itu penting, tapi karakter dan literasi adalah harga mati. Begitulah seharusnya sekolah masa depan. (*)



