IDEA JATIM, BATU – Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata yang mencekik ekosistem. Menanggapi situasi darurat ini, 16 mahasiswa Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan aksi radikal di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kota Batu, Senin (26/1). Mereka terjun langsung mengubah limbah tak terurai menjadi ecobrick sebagai solusi konkret di lapangan.
Aksi ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan bentuk perlawanan terhadap penumpukan sampah rumah tangga yang kian tak terkendali.
Alih-alih membiarkan plastik berakhir di TPA dan mencemari tanah, para mahasiswa angkatan 2025 ini memadatkan limbah plastik kering ke dalam botol bekas. Hasilnya adalah material bangunan alternatif yang kuat dan bernilai guna. “Fokus kami jelas: SDGs poin 15. Pengelolaan sampah yang buruk adalah pembunuh senyap bagi kualitas tanah dan air,” tegas Daffa Rayhan Zaky, Ketua Pelaksana kegiatan.
Menurutnya, ecobrick adalah langkah taktis untuk menekan volume sampah yang dibuang sekaligus memberikan nilai estetika pada fasilitas publik.
Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menyatakan bahwa mahasiswa harus keluar dari zona nyaman akademik. Kehadiran mereka di TPST Dadaprejo bertujuan untuk mendobrak pola pikir masyarakat dalam memilah sampah sejak dari dapur rumah.
“Mahasiswa tidak boleh berhenti di teori. Mereka harus membantu meringankan beban petugas kebersihan dan menjadi motor penggerak edukasi lingkungan secara langsung,” ujar Rindya.
Bagi prodi Akuakultur, menjaga daratan adalah harga mati. Plastik yang tercecer di pemukiman Kota Batu hari ini adalah polutan yang akan merusak kualitas air sungai dan laut di masa depan. Aksi di Desa Dadaprejo ini menjadi penegasan bahwa kontribusi terhadap lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, demi menjaga nadi kehidupan di perairan. (*)




