IDEA JATIM, MALANG – Dulu, tugas Ramadan itu membosankan. Isinya cuma lapor. Lapor salat di mana. Imamnya siapa. Judul ceramahnya apa. Lalu minta tanda tangan. Beres.
Di SD Muhammadiyah 9 Malang, ada inovasi baru. Namanya: Ramadan Ceria.
Kepala Sekolahnya, Arip Hidayat, S.Pd., M.Pd.I punya filosofi sederhana. Ramadan itu undangan Allah. Masa dapat undangan Tuhan wajahnya ditekuk? “Kita ingin anak-anak happy,” katanya.
Maka, “Semarak Ramadan” yang terdengar kaku itu dipensiunkan. Ganti jadi “Ramadan Ceria”.
Isinya? Seru. Anak-anak zaman now kan suka pegang HP. Daripada dilarang-larang, sekalian saja dijadikan senjata. Mereka diminta jadi kreator konten. Bikin vlog.
Temanya tidak usah berat-berat. Ada yang merekam serunya “war takjil”. Ada yang memotret suasana buka puasa. Ada yang bikin video tarawih di rumah. Lalu? Diunggah ke Instagram orang tua masing-masing.
Arip sadar betul. Media sosial hari ini penuh sampah. Konten negatif di mana-mana. “Kita tidak boleh kalah,” tegasnya. Anak-anak diajak menyerbu ruang digital dengan kebaikan. Syiar, tapi asyik.
Puncaknya bagi kelas 5 dan 6: Pondok Ramadan. Mereka menginap di sekolah. Kamis sampai Jumat, 12-13 Maret lalu.
Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Bukan ujian matematika. Tapi ujian tanpa gadget. Tanpa perhiasan. Tanpa petasan. Mereka harus hidup ala santri. Mandiri.
Jadwalnya padat. Ada pembinaan karakter. Ada tausiah dari Ustaz Ahmad Fakhrur Rozi. Pukul 02.00 WIB, mereka sudah harus bangun. Tahajud berjamaah. Setelah Subuh? Tidak tidur lagi. Harus olahraga. Kebugaran fisik dijaga, batin diisi.
Lalu bagaimana dengan yang kecil? Kelas 1 sampai 4 punya tugas lain. Tugas kemanusiaan. Mereka menyerbu Panti Asuhan Nurul Huda di Karangploso.
Angkanya bikin kaget: Rp25 juta lebih. Itu dana zakat, infak, dan sedekah yang terkumpul dari wali murid. Luar biasa.
Bukan cuma uang. Ada 100 paket beras. Sasarannya jelas: tetangga sekolah dulu. “Warga sekitar harus merasakan manfaatnya,” ujar Arip.
Ramadan di SD ini bukan lagi soal menahan lapar. Tapi soal berbagi, berkreasi, dan bergembira. Anak-anak pulang tidak hanya membawa ilmu agama, tapi membawa kenangan: bahwa beragama itu ternyata menyenangkan.
Begitulah seharusnya. (*)




