IDEA JATIM, MALANG – Keselamatan berkendara bukan sekadar urusan kecanggihan fitur, melainkan pertaruhan nyawa manusia. Di balik fasilitas pengujian kendaraan berstandar internasional yang kini dimiliki Indonesia, ada peran dingin seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memastikan setiap unit kendaraan layak meluncur di aspal.
Ia adalah Wahana Aris Munandar, lulusan Teknik Mesin UMM angkatan 2016. Di usianya yang tergolong muda, ia telah mengemban tanggung jawab besar sebagai Kepala Laboratorium Passive Safety di Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) Kementerian Perhubungan.
Lembaga tempat Aris bernaung adalah Unit Pelaksana Teknis krusial di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Pada tahun 2025 ini, BPLJSKB mencatat sejarah dengan mengoperasikan Proving Ground berstandar internasional—sebuah fasilitas yang menjadi tonggak baru sistem pengujian kendaraan di tanah air.
Di jantung fasilitas inilah, Aris memimpin Laboratorium Passive Safety. Fokusnya tidak main-main: menguji ketahanan kursi, keandalan sabuk pengaman, hingga melakukan uji tabrak (crash test) secara komprehensif.
”Peran utama laboratorium ini adalah memastikan kendaraan yang beredar di Indonesia, baik itu produk lokal maupun impor, benar-benar memenuhi standar keselamatan tertinggi sebelum sampai ke tangan konsumen,” tegas Aris.
Kepercayaan memimpin laboratorium tunggal di Indonesia ini tidak datang begitu saja. Aris mengakui bahwa ketajaman analisisnya dibentuk selama menempuh studi di Teknik Mesin UMM. Mata kuliah “berat” seperti mekanika kekuatan material dan struktur teknik kini menjadi makanan sehari-harinya saat mengevaluasi hasil benturan kendaraan.
Namun, Aris bukan sekadar ahli teknik yang kaku. Selama di kampus, ia mengasah kemampuan komunikasinya melalui International Language Forum (ILF) dan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM. ”UMM tidak hanya mencekoki kami dengan rumus teknik, tapi membiasakan kami berpikir sistematis, berani berdiskusi, dan menyampaikan gagasan profesional. Kemampuan ini sangat vital saat saya harus bekerja sama dengan mitra internasional,” tambahnya.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di sektor yang sarat regulasi, Aris memegang teguh nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang ia dapatkan di UMM. Baginya, kejujuran dan kemandirian adalah kompas moral. Prinsip untuk bekerja sungguh-sungguh tanpa perlu diawasi menjadi modal utamanya dalam menjaga integritas pengujian.
Perjalanan karier Aris—mulai dari industri manufaktur hingga ke birokrasi pemerintahan—membuktikan bahwa lulusan UMM memiliki daya saing yang luas. Berkat karakter kuatnya, ia bahkan berhasil meraih peluang double degree di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Leeds, Inggris.
”UMM membentuk kami untuk siap bekerja dan terus belajar di mana saja. Bekal itu membuat saya mampu menjemput berbagai kesempatan pengembangan diri di pemerintahan,” pungkasnya. (*)



