Inovasi Santri PPI AMF, Keluak Disulap Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan

IDEA JATIM, MALANG – Inovasi unik datang dari santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Zulva Wahyu Pradana. Ia mengembangkan tinta spidol ramah lingkungan berbahan dasar buah keluak, yang selama ini lebih dikenal sebagai bumbu masakan tradisional. Ide tersebut berangkat dari pengamatan sederhana terhadap potensi keluak yang memiliki pigmen hitam alami. Melalui riset dan serangkaian uji coba, Zulva menemukan bahwa kandungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar tinta yang aman dan berkelanjutan.

“Awalnya saya melihat keluak hanya digunakan untuk memasak, seperti rawon. Dari situ saya berpikir, apakah pigmen hitamnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain, salah satunya tinta,” ujarnya.

Berbeda dengan tinta spidol konvensional yang umumnya mengandung bahan kimia, tinta berbahan keluak ini bersifat biodegradable, lebih aman bagi anak-anak, serta tidak menimbulkan dampak berbahaya saat terhirup. Inovasi ini juga dirancang agar tetap fungsional, baik sebagai tinta permanen maupun non-permanen.

Dalam proses pengembangannya, Zulva menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menemukan formulasi yang tepat agar tinta dapat digunakan secara optimal. Ia harus melakukan riset mendalam serta uji coba berulang kali hingga mendapatkan hasil yang sesuai.

“Prosesnya cukup panjang karena harus mencoba berkali-kali untuk mendapatkan kualitas tinta yang stabil dan aman digunakan. Tapi dari situ saya banyak belajar tentang penelitian dan pengembangan produk,” katanya.

Dari sisi biaya, inovasi ini tergolong terjangkau. Zulva menyebutkan bahwa bahan utama berupa keluak mudah ditemukan di pasar dengan harga relatif murah. Sementara itu, kebutuhan biaya lebih banyak dialokasikan pada penggunaan alat laboratorium untuk pengujian.

Guru pembina, Yolanda Pradiva, menambahkan bahwa proses pendampingan tidak hanya berfokus pada penyempurnaan produk, tetapi juga pada pembentukan pola pikir inovatif dan keberlanjutan riset. Ia menjelaskan bahwa santri didorong untuk memahami potensi bahan lokal sekaligus mengembangkannya menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami tidak hanya membimbing dari sisi teknis pembuatan produk, tetapi juga bagaimana ide ini bisa berkembang dan memiliki dampak jangka panjang. Harapannya, inovasi seperti ini tidak berhenti di tahap penelitian, tetapi bisa terus disempurnakan hingga benar-benar siap digunakan di masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam proses pengembangan, baik antar santri maupun dengan guru dari berbagai bidang. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat inovasi yang dihasilkan menjadi lebih matang, baik dari sisi konsep, fungsi, maupun penyajiannya.

Ke depan, Yolanda berharap inovasi tinta berbahan keluak ini dapat terus dikembangkan, termasuk dalam skala produksi dan pengujian lebih lanjut, sehingga berpotensi menjadi alternatif produk ramah lingkungan yang dapat digunakan secara luas.

Sebagai penutup, inovasi sederhana berbasis bahan lokal ini menjadi bukti bahwa kreativitas santri mampu menghadirkan solusi berkelanjutan, sekaligus membuka peluang lahirnya produk-produk ramah lingkungan dari lingkungan pesantren.(*)

Berita Terkini

Mudik Tenang Tanpa Was-was, Polres Pasuruan Buka Layanan Titip Kendaraan Gratis

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Kabar baik bagi masyarakat yang hendak...

Jelang Lebaran, Jalan Kota Pasuruan Dipastikan Mulus, Satgas Siaga 24 Jam

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Menjelang arus mudik dan balik Lebaran...

Perkuat Jejaring Mahasiswa Berprestasi, Pengurus Kelurahan Beasiswa Unggulan UM Resmi Dilantik

IDEA JATIM, MALANG – Semangat kolaborasi dan tekad untuk...

Checklist Mudik Lengkap PDF: Persiapan Praktis Anti Ribet

IDEA JATIM - Mudik sering kali menjadi momen yang...
spot_img