IDEA JATIM, MALANG – Pasar modal Indonesia baru saja melewati pekan yang penuh gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan volatilitas tinggi pada akhir Januari 2026, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.
Puncak kepanikan terjadi pada 28 Januari, saat IHSG terhempas ke level 8.320,56. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 7,35 persen hanya dalam satu hari perdagangan—salah satu koreksi terdalam yang pernah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Aksi jual masif (panic selling) tak terhindarkan, dan tekanan berlanjut hingga keesokan harinya, membawa indeks ke posisi 8.232,20.
Meski sempat ada angin segar pada 30 Januari dengan kenaikan tipis 1,18 persen ke level 8.329,60, para analis menilai pemulihan ini masih bersifat rapuh. Sentimen pasar belum sepenuhnya stabil untuk menjamin tren penguatan jangka panjang.
Menanggapi fenomena ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E., menjelaskan bahwa anjloknya IHSG bukan sekadar angka, melainkan alarm bagi kepercayaan investor.
”Saham adalah simbol kepercayaan investor terhadap bisnis di suatu negara. Ketika harganya menurun tajam, artinya kepercayaan dunia usaha sedang berada di titik nadir,” ujar Wildan.
Ia menambahkan bahwa penurunan pasar saham biasanya berdampak domino pada nilai tukar. Para investor cenderung menarik dana mereka dari bursa saham dan memindahkannya ke instrumen safe haven seperti emas atau valuta asing. Perpindahan aset inilah yang memberikan tekanan berat bagi rupiah.
Meski pasar sedang bergejolak, Wildan menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup tangguh. Cadangan devisa yang kuat diharapkan mampu menjadi bantalan untuk menahan kejatuhan rupiah lebih dalam.
Namun, ia memberikan catatan kritis pada risiko eksternal. Ketegangan geopolitik dan potensi krisis ekonomi di Eropa telah menciptakan gangguan rantai pasok global yang membuat pasar domestik sangat sensitif. “Jika terjadi shock ekonomi akibat konflik atau perang, lonjakan harga dan tekanan keuangan akan sulit dihindari,” tambahnya.
Kunci utama untuk mengembalikan stabilitas, menurut Wildan, ada pada tangan pemerintah dan regulator. Ia menyarankan beberapa langkah strategis:
Penguatan Transparansi: Meningkatkan tata kelola perusahaan dan penegakan aturan di bursa efek.
Iklim Inklusif: Mempermudah perizinan usaha dan mendorong keterbukaan kepemilikan saham.
Respons Cepat: Kecepatan otoritas keuangan dalam merespons sentimen negatif pasar.
”Ketika ada pembenahan nyata pada otoritas keuangan, pasar secara teoritis akan merespons positif. Itulah motor utama pemulihan,” pungkasnya. Kini, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada mencermati kebijakan domestik dan dinamika ekonomi global demi menjaga keberlanjutan investasi di tanah air. (*)




