Cara SMANAS Malang Kemas Pondok Ramadan: Dari Film 172 Days Hingga Syiar Takjil

IDEA JATIM, MALANG – Ramadan di SMA Nasional (SMANAS) Malang tahun ini beda. Tidak kaku. Tidak melulu duduk diam mendengarkan ceramah yang membuat kantuk. Mereka punya cara sendiri: Syiar kreatif.

​Dua hari saja. Kamis dan Jumat lalu. Tapi padatnya luar biasa.

​Dua tokoh penting di balik layar ini punya semangat yang sama. Ada Pak Soni Syarifuddin, S.Pd, Kepala Sekolah SMANAS. Dan ada Amanda Fita Ramadani, Ketua Panitia dari unsur siswa. Keduanya ingin satu hal: Islam yang inspiratif.

​Lihatlah agenda pembukanya. Bukan pidato panjang lebar. Tapi nonton bareng (Nobar). Filmnya: 172 Days.
​Mengapa film itu? Amanda punya alasan kuat. “Anak zaman sekarang kalau soal cinta terkadang terlalu bebas,” cetusnya. Dia ingin teman-temannya melihat sisi lain. Bahwa ada cinta yang lebih indah: yang lewat jalur syariat. Lewat taaruf.

​Maka, aula sekolah pun berubah jadi bioskop. Para siswa baper berjamaah. Lalu, ada kuisnya. Siapa yang bisa memetik pesan moral, dapat hadiah. Ilmu dapat, emosi pun teraduk.

​Pak Soni, sang Kepala Sekolah, tersenyum melihat antusiasme itu. Dia paham betul psikologi remaja. “Poin utamanya, saya ingin anak-anak belajar ilmu agama lebih dominan,” ujar Pak Soni.

​Beliau gelisah. Di masyarakat, banyak anak muda yang gagap hal mendasar. Cara ibadah yang benar. Atau sekadar aktif di remaja masjid. “Kami ingin mereka tidak hanya cerdas sains, tapi punya fondasi spiritual yang kuat,” tambahnya.

​Maka, kurikulum “pondok” ini dirancang serius. Ada kajian Fikih bersama Abah Mukarrom. Ada juga Qiyamul Lail. Semua kelas wajib ikut. Tidak boleh ada yang absen. Kalau kelas tidak kirim delegasi lomba, denda Rp50.000 menanti. Disiplin tetap nomor satu.

​Tapi SMANAS bukan hanya soal saleh secara pribadi. Mereka harus saleh secara sosial.

​Maka bergeraklah mereka ke depan gerbang depan sekolah. Ada 200 paket takjil yang dibagikan. Modalnya? Gotong royong. Siswa bawa bekal dari rumah, panitia yang mengemasnya dengan cantik. Inilah sedekah yang paling terasa: yang melibatkan tangan sendiri.

​Lalu, bagaimana dengan siswa non-muslim? Di sinilah indahnya toleransi di SMANAS.

​Saat yang muslim mengaji, siswa Kristen dan Hindu berkumpul di kelas. Mereka juga beribadah. Dibimbing guru agama masing-masing. Tidak ada yang terabaikan. Semua merasakan hangatnya Ramadan dengan cara masing-masing.

​Acara ditutup dengan salat tarawih berjamaah. Sebuah tradisi baru di sekolah itu.

​Rasanya, inilah wajah pendidikan kita yang seharusnya. Sekolah yang tidak hanya mengejar nilai ujian yang baru saja usai bagi kelas 12, tapi juga mengejar kemuliaan akhlak.

​Di SMANAS, Ramadan bukan sekadar menahan lapar. Tapi soal mengasah hati agar tetap aktif, kreatif, dan tentu saja, inspiratif.

​Begitulah. (*)

Berita Terkini

Polres Pasuruan Siapkan 7 Pos Pengamanan Operasi Ketupat Semeru 2026, Ratusan Petugas Diterjunkan

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Polres Pasuruan menyiapkan tujuh pos pengamanan...

UNITRI dan Jurus Kartu ATM

IDEA JATIM, MALANG - Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang...

Satpolairud Polres Pasuruan Kota Amankan Nelayan Pengguna Jaring Trawl

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud)...

Lawan Konten Negatif, Siswa SD Muhammadiyah 9 Malang Syiar Lewat Vlog Ramadan Ceria

IDEA JATIM, MALANG - ​Dulu, tugas Ramadan itu membosankan....
spot_img