IDEA JATIM, TIMOR TENGAH SELATAN – Senyum bahagia merekah di wajah warga Desa Tliu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Wilayah yang selama ini berjuang melawan krisis air bersih itu kini memiliki napas baru melalui peresmian program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone, Selasa (10/2).
Program strategis ini diresmikan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Kehadiran sarana ini menjadi solusi konkret atas tantangan akses air bersih yang telah lama membelenggu produktivitas masyarakat di pedalaman NTT.
Keberhasilan pengadaan air bersih ini bukan kerja tunggal. Proyek ini merupakan buah kolaborasi apik antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTT, UMM, serta Universitas Muhammadiyah Kupang.
“Air adalah sumber kehidupan. Di wilayah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujar Prof. Nazaruddin di sela-sela acara.
Peresmian berlangsung khidmat dengan balutan kearifan lokal. Rombongan disambut hangat oleh Ketua Adat Desa Tliu melalui tarian tradisional dan prosesi sambutan khas suku setempat. Suasana ini menunjukkan betapa warga sangat menantikan hadirnya infrastruktur yang menyentuh kebutuhan dasar mereka.
Membangun sarana air bersih di NTT bukanlah perkara mudah. Tim kolaboratif harus menempuh proses panjang, mulai dari riset titik mata air hingga pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan. Kini, air tersebut tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga diproyeksikan untuk mendukung pengairan warga.
Bagi Desa Tliu yang tergolong terpencil, kehadiran PASIMAS Fetomone adalah sebuah “keajaiban” kecil. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, melainkan harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan kami,” ungkap Kepala Desa Tliu penuh haru.
Tak hanya membawa air, Prof. Nazaruddin juga membawa misi pendidikan. Di desa yang memiliki SD Muhammadiyah ini, ia memberikan bantuan dana pengembangan sekolah, dukungan sarana perpustakaan, hingga beasiswa pendidikan sarjana (S1) untuk Kepala Desa setempat.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak di Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegas Prof. Nazaruddin yang juga memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pendidikan di wilayah Timur Indonesia tersebut.
Melalui PASIMAS Fetomone, UMM berharap inisiatif ini menjadi model pemberdayaan desa berkelanjutan yang bisa diduplikasi di wilayah lain, sekaligus memperkuat kualitas hidup dan sosial masyarakat NTT secara menyeluruh. (*)




