IDEA JATIM-Istilah Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML), dan Deep Learning (DL) sering digunakan secara bergantian, padahal ketiganya memiliki perbedaan mendasar. AI adalah konsep besar yang mencakup segala upaya membuat mesin mampu meniru kecerdasan manusia. Salah satu pelopor awal konsep AI adalah Alan Turing.
AI mencakup berbagai pendekatan, mulai dari sistem berbasis aturan (rule-based system) hingga algoritma pembelajaran. Tujuannya adalah membuat komputer dapat melakukan tugas seperti pengenalan suara, analisis gambar, atau pengambilan keputusan.
Machine Learning adalah bagian dari AI yang memungkinkan sistem belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit untuk setiap tugas. Dalam ML, algoritma dilatih menggunakan data untuk menemukan pola. Contohnya adalah sistem rekomendasi film atau deteksi spam email.
Deep Learning adalah cabang dari Machine Learning yang menggunakan jaringan saraf tiruan (neural networks) berlapis-lapis. Struktur ini terinspirasi dari cara kerja otak manusia. Deep Learning sangat efektif untuk tugas kompleks seperti pengenalan wajah dan kendaraan otonom.
Perbedaannya dapat disederhanakan sebagai berikut: AI adalah payung besar, ML adalah metode pembelajaran berbasis data di dalam AI, dan DL adalah teknik ML dengan jaringan saraf dalam.
Dalam praktiknya, banyak teknologi modern memanfaatkan kombinasi ketiganya. Asisten virtual, sistem chatbot, hingga analisis citra medis menggunakan Deep Learning untuk menghasilkan akurasi tinggi.
Namun, semakin kompleks sistemnya, semakin besar pula kebutuhan data dan daya komputasi. Oleh karena itu, pengembangan AI sering memanfaatkan infrastruktur cloud untuk pelatihan model.
Memahami perbedaan ini penting agar masyarakat tidak keliru dalam memaknai istilah teknologi yang semakin populer.





