PASURUAN, IDEAJATIM.ID – Tradisi Praonan saat Lebaran Ketupat di pesisir Pasuruan tak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ribuan warga yang datang untuk menikmati sensasi berlayar ke laut membawa dampak langsung terhadap perputaran ekonomi lokal. Mulai dari jasa perahu, pedagang makanan, hingga parkir dadakan ikut merasakan berkahnya.
Di kawasan pelabuhan, warga terlihat menjajakan aneka makanan ringan, minuman, hingga hidangan khas Lebaran seperti lontong kupat dan lepet. Para pengunjung yang hendak mengikuti Praonan biasanya membeli bekal sebelum berangkat ke laut.
Selain itu, jasa perahu menjadi salah satu sumber pendapatan utama. Untuk sekali perjalanan, pengunjung dikenakan tarif sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per orang. Meski demikian, sebagian nelayan tetap memberikan layanan gratis bagi kerabat atau tamu yang datang bersilaturahmi.
Tradisi ini juga menarik perhatian warga dari luar daerah yang penasaran dengan pengalaman unik naik kapal secara beramai-ramai menuju area “banjang” atau keramba ikan.
“Ramai sekali tiap tahun, banyak yang datang dari luar kota. Ini seperti wisata tahunan,” ujar Adi salah satu warga pesisir.
Sayangnya, potensi besar ini belum dikelola secara maksimal. Sejak pandemi Covid-19, tradisi Praonan belum kembali masuk dalam agenda resmi pemerintah daerah, sehingga pengelolaannya masih bersifat swadaya masyarakat.
Padahal, jika dikembangkan dengan baik, Praonan berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat identitas lokal Pasuruan.
Momentum ini pun dinilai sebagai peluang bagi pemerintah untuk mengangkat kembali tradisi Praonan ke level yang lebih luas, baik sebagai agenda pariwisata maupun penggerak ekonomi kerakyatan. (*)



