Jumat, 6 Februari, 2026

Waspada! Virus Nipah Mengancam Otak dan Paru, Dosen FK UB: Belum Ada Vaksinnya

IDEA JATIM, ​MALANG – Meskipun saat ini belum ditemukan kasus di Indonesia, ancaman virus Nipah tidak bisa dipandang sebelah mata. Virus ini dikenal sebagai infeksi mematikan dengan tingkat kematian (fatality rate) yang sangat tinggi.

​Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, mengingatkan masyarakat dan tenaga kesehatan untuk memperketat kewaspadaan. Menurutnya, Nipah bukan sekadar infeksi biasa karena kemampuannya merusak organ-organ vital.

​dr. Milanitalia menjelaskan bahwa virus ini memiliki target serangan yang sangat berbahaya, yakni sistem saraf pusat. Infeksi ini dapat memicu peradangan otak atau ensefalitis yang fatal. ​“Virus ini dapat berkembang sangat cepat. Gejalanya mulai dari demam tinggi, penurunan kesadaran, hingga pasien mengalami koma,” ungkap dr. Milanitalia.

​Tak hanya otak, paru-paru juga menjadi sasaran utama. Peradangan hebat pada paru-paru akibat virus ini bisa menyebabkan gagal napas akut. Kombinasi kerusakan otak dan paru inilah yang membuat angka kematian virus Nipah jauh lebih tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya.
​Tantangan Deteksi: Mirip Flu Biasa
​Salah satu kendala terbesar dalam penanganan medis adalah gejala awalnya yang mirip dengan penyakit infeksi lain. Dokter spesialis penyakit dalam ini menekankan agar tenaga medis memiliki “alarm” jika menemui pasien dengan kondisi tertentu.

​Gejala yang harus diwaspadai : ​Demam tinggi yang tidak kunjung turun, ​Sesak napas mendadak, ​Penurunan kesadaran atau kejang dan ​Perubahan kondisi tubuh yang memburuk dalam waktu singkat.

​Ia juga menambahkan bahwa kelompok lansia, anak-anak, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah (immunocompromised) memiliki risiko gejala yang jauh lebih berat.

​Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan vaksin atau terapi khusus untuk mematikan virus Nipah. Perawatan yang diberikan dokter saat ini masih bersifat suportif atau hanya meredakan gejala yang muncul.
​”Jika pasien demam, diberi penurun panas. Jika sesak, dibantu oksigen. Jika ada kecurigaan Nipah, pasien wajib segera dirawat di ruang isolasi ketat,” jelasnya.

​Berkaca pada pengalaman COVID-19, dr. Milanitalia mendorong penguatan skrining di pintu masuk internasional seperti bandara dan terminal. Tujuannya agar virus ini tidak masuk ke Indonesia melalui pelaku perjalanan.

​Untuk wilayah Jawa Timur, khususnya Kota Malang, ia menilai kesiapan rumah sakit sudah cukup baik dengan adanya ruang isolasi khusus penyakit infeksi menular. Namun, ia berharap fasilitas tersebut tidak perlu sampai digunakan untuk wabah besar. ​”Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup terapkan protokol kesehatan, pakai masker di area berisiko, rajin cuci tangan, dan segera ke dokter jika merasa ada gejala,” pungkasnya. (*)

Berita Terkini

Perkuat Koordinasi Lintas Sektor; Cak Nur Terima Kunjungan Kapolres

IDEA JATIM, KOTA BATU - Wali Kota Batu, Nurochman,...

Bahasa Inggris Itu Life Skill : Menanamkan Kepercayaan Diri di Era Global

Alfia Sari, M.Pd Guru Bahasa Inggris – SD Islam Sabilillah...

Cetak Intelek Berkarakter, Unisma Berpegang Ajaran Aswaja An-Nahdliyah

IDEA JATIM, MALANG - ​Di era yang terus berubah,...
spot_img