IDEA JATIM, MALANG – Universitas Islam Malang (UNISMA) sedang punya hajat besar. Sabtu (14/2) kemarin, kampus ini kembali mengukuhkan eksistensinya. Bukan sekadar seremoni wisuda biasa, tapi sebuah perayaan atas capaian yang membanggakan.
Ada 581 lulusan yang resmi dikukuhkan pada Wisuda Periode ke-78 ini. Di barisan toga itu, terselip lima wisudawan asing asal Timor Leste. Bukti bahwa magnet UNISMA sudah melintas batas negara.
Tapi, ada yang jauh lebih besar dari sekadar angka wisudawan.
Awal tahun 2026 ini, UNISMA menerima kado istimewa. Berdasarkan rilis Webometrics Januari 2026, UNISMA dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Terbaik Peringkat 1 se-Indonesia. Untuk skala Perguruan Tinggi Swasta (PTS) nasional, mereka nangkring di urutan ke-12.
Luar biasa.
Maka, Wakil Rektor 1 UNISMA, dr. Erna Sulistyowati, Ph.D, menyebut momen ini sebagai tonggak sejarah. Beliau punya istilah yang menarik: UNISMA sudah selesai dengan fase “Melompat”.
Sekarang? Saatnya “Terbang Melesat”.
Targetnya pun semakin konkret: Menjadi World Class University di tahun 2026. Bukan lagi sekadar cita-cita di atas kertas, tapi sudah di depan mata.
Suasana wisuda kali ini memang terasa berbeda. Lebih religius. Lebih kental nuansa spiritualnya. Maklum, pelaksanaannya berdekatan dengan Haul Akbar ke-44 Pendiri UNISMA dan peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama.
Dokter Erna menyebut para wisudawan ini sebagai lulusan yang istimewa. Mengapa? Karena mereka dikukuhkan dengan iringan doa para muassis (pendiri) yang baru saja diperingati.
Sang Wakil Rektor juga bicara soal masa depan. Soal disrupsi teknologi. Soal mesin yang kian pintar. Namun, dia tetap optimis. Lulusan UNISMA punya sesuatu yang tidak dimiliki mesin: Kecerdasan Spiritual. ”Mesin tidak memiliki hati nurani dan empati,” tegas dr. Erna.
Dia ingin lulusannya menjadi “Intelektual yang Ulama dan Ulama yang Intelektual”. Senjatanya adalah kompas moral Aswaja An-Nahdliyah. Mereka harus moderat (Tawasuth), seimbang (Tawazun), dan toleran (Tasamuh).
Tak hanya soal moral, mentalitas “petarung” juga ditanamkan. UNISMA ingin setiap lulusannya punya jiwa wirausaha. Bukan cuma soal buka bisnis, tapi soal pola pikir yang solutif dan berani ambil risiko.
Lulusan UNISMA didesain untuk tidak kaku pada satu disiplin ilmu. Mereka adalah pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
Sebelum menutup pesannya, dr. Erna memberikan wejangan yang menyentuh soal keberkahan ilmu: tetaplah takzim kepada guru dan kiai.
”Selamat berjuang, para ksatria cendekia. Jadilah seperti bintang yang tidak pernah takut pada gelapnya malam. Kibarkan panji UNISMA setinggi langit,” ucapnya penuh bangga.
Sebuah pesan kuat dari Malang, dari NU, untuk Indonesia dan peradaban dunia. (*)




