IDEA JATIM, MALANG – Hati Unisma itu ada di tetangganya. Jumat pagi kemarin (13/3), suasana di Gedung Bundar Universitas Islam Malang (Unisma) beda dari biasanya. Tidak ada debat akademik yang berat. Tidak ada diskusi teori yang rumit. Yang ada hanyalah senyum. Dan antrean yang tertib.
Unisma lagi punya hajat: menyantuni dhuafa. Di bulan Ramadan 1447 H ini.
Lead-nya sederhana saja: Kalau kampus sudah besar, jangan sampai tetangganya kelaparan. Itu prinsip.
Itulah yang dipraktikkan Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi, M.Pd., Ph.D., hari itu. ”Ini agenda rutin,” ujar Prof Junaidi.
Beliau bicaranya santai. Tapi isinya dalam. “Setiap tahun, setiap Ramadan, kita berbagi. Ini wujud syukur,” tambahnya.
Angkanya cantik: 250 paket sembako. Nilainya pun seragam: Rp250.000 per paket. Kalau ditotal, jumlahnya lumayan. Tapi bagi Unisma, ini bukan soal angka-angka di atas kertas akuntansi. Ini soal keberkahan.
Rektor sadar betul. Rezeki yang mengalir ke Unisma itu ada hak orang lain di dalamnya. Ada nikmat Allah yang harus “dicuci” dengan cara berbagi.
Sasarannya tidak jauh-jauh. Unisma tidak perlu terbang ke luar pulau untuk cari pahala. Cukup tengok kanan-kiri. Ada empat kelurahan yang dikepung kampus ini: Dinoyo, Tlogomas, Merjosari, hingga Jatimulyo. Mereka Itulah “pagar” Unisma. Kalau pagarnya kokoh dan bahagia, kampusnya pun tenang.
Cara membaginya pun tidak asal. Prof Junaidi tidak mau bantuan ini jatuh ke tangan yang salah. Maka, beliau menggandeng para Ketua RW.
”Kita kerja sama dengan RW-RW terkait. Mereka yang paling tahu siapa rakyatnya yang sedang kurang beruntung,” kata Prof Junaidi. Beliau ingin bantuan ini tepat sasaran. Benar-benar sampai ke dapur mereka yang membutuhkan.
Di sela acara, ada yang bertanya: “Prof, bagaimana dengan santunan anak yatim?”
Jawabannya taktis. Unisma sudah punya jadwal sendiri. Untuk anak yatim, biasanya diguyur saat bulan Muharam atau saat perayaan Dies Natalis. Kebetulan, Dies Natalis Unisma tahun ini jatuh pada 27 Maret. Pas hari libur.
Maka, Prof Junaidi memutar otak. Acara santunan yatim piatu itu digeser sedikit. Digabung dengan acara Halalbihalal nanti pada 31 Maret. Efisien. Tapi esensinya tetap terjaga.
Gaya kepemimpinan Prof Junaidi ini menarik. Beliau tidak ingin kampus menjadi menara gading. Yang tinggi menjulang tapi tidak membumi. Lewat paket sembako ini, beliau ingin meringankan beban ekonomi warga.
Meski beliau sadar, satu paket sembako tidak akan menyelesaikan semua masalah hidup mereka. ”Setidaknya kita bisa meringankan beban mereka,” harapnya.
Harapan Prof Junaidi cuma satu: doa. Beliau ingin doa tulus dari para kaum dhuafa itu mengalir untuk kemajuan Unisma. Sebab, doa orang-orang yang tulus itu sering kali lebih cepat menembus langit daripada proposal proyek yang paling canggih sekalipun.
Jumat itu, Gedung Bundar tidak hanya menjadi saksi pembagian beras dan minyak goreng. Tapi menjadi saksi bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan, nurani tetap harus jadi panglima.
Begitulah cara Unisma merayakan Ramadan. Dengan tangan di atas. (*)



